JAVASCORNER.CO.ID, TEHERAN - Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengungkapkan lebih dari 1.000 murid dan guru menjadi korban serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, dengan 600 gedung sekolah hancur atau rusak di seluruh negeri. Pernyataan ini disampaikan dalam sidang Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Jumat (27/3/2028), menandai eskalasi konflik yang dimulai 28 Februari lalu.
- Korban dan Kerusakan Pendidikan
- Eskalasi Konflik dan Tujuan Serangan
- Kerusakan Persenjataan Iran
- Dampak Regional dan Respons
Korban dan Kerusakan Pendidikan
Data resmi pemerintah Iran menunjukkan korban tewas mencapai 1.300 orang sejak serangan dimulai. Insiden paling memilukan terjadi di hari pertama, ketika sebuah sekolah dasar putri di Iran selatan dibom hingga hancur bersamaan dengan gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
"Lebih dari 600 sekolah hancur atau rusak di seantero Iran dan lebih dari 1.000 murid dan guru menjadi syahid atau cedera," tegas Menlu Amir-Abdollahian di hadapan forum PBB. Pernyataan ini memperkuat laporan sebelumnya tentang serangan terhadap fasilitas sipil.
Kronologi Serangan terhadap Sekolah
Serangan terhadap lingkungan pendidikan terjadi dalam beberapa fase:
- Serangan udara awal pada 28 Februari 2026 menyasar infrastruktur kritis
- Eskalasi pada 7 Maret 2026 menghantam depot dan kilang minyak di Teheran
- Serangan lanjutan menyebar ke berbagai provinsi termasuk daerah selatan
Eskalasi Konflik dan Tujuan Serangan
Amerika Serikat dan Israel awalnya membenarkan serangan sebagai upaya menangkal ancaman program nuklir Iran. Namun, sumber intelijen Barat mengungkap tujuan yang lebih luas: mendorong pergantian kekuasaan di Teheran.
Serangan gabungan ini menargetkan berbagai aspek:
- Fasilitas nuklir dan militer strategis
- Infrastruktur energi termasuk kilang minyak
- Jaringan komunikasi dan komando
- Target sipil yang dianggap mendukung pemerintah
Kerusakan Persenjataan Iran
Laporan intelijen AS yang dikutip Reuters mengungkap kerusakan signifikan pada persenjataan Iran. Sekitar sepertiga rudal dan drone Iran telah dihancurkan, sementara sepertiga lainnya mengalami kerusakan atau terkubur di bunker bawah tanah.
Perkiraan persediaan rudal Iran sebelum konflik berkisar antara 2.500 hingga 6.000 unit. Tantangan utama bagi analis militer adalah menentukan jumlah pasti yang berhasil disimpan Iran di fasilitas bawah tanah sebelum serangan dimulai.
Kemampuan Bertahan Iran
Meski mengalami kerusakan, Iran masih mempertahankan kemampuan balasan. Negara ini diketahui memiliki:
- Jaringan bunker bawah tanah yang luas
- Sistem rudal balistik jarak menengah
- Armada drone kamikaze
- Aliansi dengan kelompok milisi regional
Dampak Regional dan Respons
Konflik ini telah memicu gelombang ketidakstabilan di Timur Tengah. Iran membalas serangan dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan. Respons ini meningkatkan ketegangan yang sudah memanas sejak bertahun-tahun.
Dampak ekonomi mulai terasa secara global. Pengusaha Indonesia melaporkan kenaikan biaya logistik akibat gangguan di Selat Hormuz, sementara ekspor berpotensi lesu jika konflik berlanjut. Industri petrokimia dunia juga menghadapi ancaman terhadap pasokan bahan baku.
Diplomasi di Tengah Konflik
Meski situasi militer memanas, kanal diplomasi tetap terbuka. Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menyatakan adanya respons positif dari Iran mengenai nasib kapal tanker Pertamina di Selat Hormuz. Dialog ini menunjukkan kompleksitas hubungan internasional di tengah konflik bersenjata.
Forum PBB terus mendorong gencatan senjata sambil mengutuk serangan terhadap warga sipil. Namun, upaya mediasi menghadapi jalan buntu mengingat posisi yang bertolak belakang antara pihak-pihak yang bertikai. Masyarakat internasional menunggu langkah konkret untuk melindungi warga sipil dan memulihkan stabilitas regional.