JAVASCORNER.CO.ID, TAIPEI - Militer Taiwan melaporkan 26 pesawat Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China terdeteksi di sekitar pulau pada Sabtu (14/3). Aktivitas ini mengakhiri masa tenang lebih dari seminggu dan menandai eskalasi baru di Selat Taiwan. Sebanyak 16 pesawat di antaranya melintasi garis batas tidak resmi masuk Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ).
Akhir Masa Kosong
Lonjakan ini mencolok karena terjadi setelah periode tidak biasa. Sejak 27 Februari hingga awal Maret, Taiwan mencatat "masa kosong" dengan hampir tidak ada pesawat China di ADIZ.
Fenomena ini memicu spekulasi di kalangan analis internasional. Aktivitas militer China di sekitar Taiwan cenderung konsisten sejak 2020 sebagai bagian taktik grey zone.
Beberapa pengamat mengaitkan masa tenang dengan sidang tahunan parlemen China ("Dua Sesi"). Yang lain melihatnya sebagai jeda taktis untuk pemeliharaan atau sinyal diplomatik.
Analisis Latihan dan Sinyal
Kembalinya aktivitas penerbangan ini dibaca sebagai kembalinya China ke "kebiasaan normal". Analis menyebut lonjakan kemungkinan terkait siklus latihan militer PLA yang kembali normal.
"Ini pola yang sudah bisa diprediksi. Setelah masa tenang karena cuaca atau agenda politik, kita akan melihat lonjakan lagi sebagai penegasan kapabilitas," ujar pengamat militer seperti dikutip Telangana Today.
Peningkatan terjadi di tengah memanasnya situasi global. Beijing terus menegaskan Taiwan adalah wilayah tidak terpisahkan dari China.
Respons Taiwan
Militer Taiwan meningkatkan kewaspadaan menghadapi gelombang aktivitas ini. Pesawat tempur dan kapal perang dikerahkan untuk memantau situasi.
Sistem rudal darat disiagakan untuk memastikan pertahanan wilayah udara dan perairan Taiwan. Kementerian Pertahanan di Taipei terus memperbarui publik melalui rilis rutin.
Dengan 39 kali deteksi pesawat dan 90 kali deteksi kapal perang China sepanjang Maret, tekanan militer di Selat Taiwan terus menguji kesiapsiagaan pertahanan Taiwan. Situasi ini tetap menjadi perhatian utama stabilitas kawasan.