JAVASCORNER.CO.ID, BEIRUT - Tiga jurnalis Lebanon tewas setelah kendaraan mereka diserang Israel di wilayah Jezzine, Lebanon selatan, Sabtu (28/3/2026). Korban termasuk koresponden dari media yang berafiliasi dengan Hizbullah.
Sumber militer Lebanon mengonfirmasi insiden tersebut kepada AFP. Al-Mayadeen dan Al-Manar, media tempat para jurnalis bekerja, telah mengeluarkan pernyataan resmi tentang kematian staf mereka.
Kronologi Serangan
Serangan terjadi sekitar siang hari waktu setempat. Kendaraan yang membawa para jurnalis menjadi sasaran tembakan atau serangan udara di daerah pegunungan Jezzine.
Lokasi ini berjarak sekitar 20 kilometer dari perbatasan dengan Israel. Jezzine sebelumnya relatif tenang dibandingkan wilayah selatan Lebanon lainnya yang sering mengalami pertukaran tembakan.
Detail Waktu dan Tempat
Menurut laporan Aljazeera, serangan Israel di Lebanon selatan telah meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pada Jumat (27/3), serangan di Saksakiyah, distrik Sidon, menewaskan empat orang dan melukai delapan lainnya.
Insiden terbaru di Jezzine memperluas jangkauan geografis konflik. Aktivitas militer kini mencakup area yang lebih luas di selatan Lebanon.
Identitas Korban
Ketiga jurnalis yang tewas adalah warga Lebanon. Mereka bekerja untuk media yang memiliki hubungan dengan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
- Al Shouaib: Koresponden untuk Al-Manar, saluran televisi milik Hizbullah yang terkenal dengan liputan pro-kelompok tersebut.
- Fatima Fatouni: Jurnalis Al-Mayadeen, media yang dianggap dekat dengan gerakan-gerakan yang didukung Iran di Timur Tengah.
- Seorang juru kamera: Masih dalam proses identifikasi lengkap oleh otoritas Lebanon.
Saudara laki-laki Fatouni juga tewas dalam serangan yang sama. Ia bukan jurnalis namun ikut dalam kendaraan tersebut.
Konfirmasi Media
Al-Manar menyiarkan berita kematian Al Shouaib dengan menampilkan foto dan segmen khusus tentang kontribusinya untuk stasiun tersebut. Manajemen saluran menyebutnya sebagai "martir pers".
Al-Mayadeen mengeluarkan pernyataan yang mengecam serangan terhadap "tim jurnalistik yang sedang melakukan tugasnya". Media itu menuntut penyelidikan internasional.
Konflik yang Memanas
Serangan terhadap jurnalis terjadi di tengah eskalasi ketegangan antara Israel dan Hizbullah. Kedua pihak telah terlibat dalam pertukaran serangan hampir setiap hari selama beberapa bulan terakhir.
Israel menyatakan serangan mereka menargetkan "infrastruktur teror" Hizbullah. Militer Israel belum memberikan komentar spesifik tentang insiden di Jezzine.
Pola Serangan Terbaru
Dalam seminggu terakhir, Israel melancarkan serangkaian serangan di berbagai wilayah Lebanon:
- Rabu (25/3): Serangan udara di selatan Beirut menyebabkan kerusakan bangunan dan kebakaran.
- Jumat (27/3): Serangan di Saksakiyah menewaskan empat warga sipil.
- Sabtu (28/3): Serangan di Jezzine yang menewaskan tiga jurnalis.
Hizbullah membalas dengan menembakkan roket ke wilayah utara Israel. Beberapa roket mendarat di area terbuka tanpa korban jiwa.
Dampak pada Warga Sipil
PBB mencatat peningkatan pengungsian internal di Lebanon selatan. Ribuan keluarga telah meninggalkan rumah mereka dekat perbatasan.
Infrastruktur sipil seperti jalan, jembatan, dan jaringan listrik juga mengalami kerusakan. Beberapa desa kini hanya dapat diakses melalui rute alternatif yang berbahaya.
Reaksi Internasional
Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) mengutuk keras serangan terhadap rekan media di Lebanon. Organisasi itu menyerukan perlindungan lebih bagi jurnalis yang meliput zona konflik.
"Menargetkan jurnalis adalah pelanggaran hukum humaniter internasional," bunyi pernyataan IFJ. Mereka mendesak semua pihak untuk menghormati status sipil pekerja media.
Respons Pemerintah Lebanon
Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati menyebut serangan itu "kejahatan perang". Pemerintahnya berjanji akan mengajukan keluhan resmi ke Dewan Keamanan PBB.
Kementerian Luar Negeri Lebanon telah memanggil duta besar negara-negara anggota Dewan Keamanan untuk konsultasi darurat. Mereka menekankan kebutuhan akan tekanan internasional untuk menghentikan serangan Israel.
Posisi Israel
Kementerian Luar Negeri Israel belum merespons langsung insiden Jezzine. Namun dalam pernyataan sebelumnya tentang operasi di Lebanon, mereka menyatakan berhak membela diri dari ancaman Hizbullah.
Pemerintah Israel sering menuduh media seperti Al-Manar dan Al-Mayadeen sebagai "alat propaganda" untuk kelompok teroris. Mereka berargumen bahwa jurnalis yang bekerja dengan kelompok bersenjata kehilangan status perlindungan sipil.
Insiden ini menambah daftar panjang jurnalis yang tewas dalam konflik Israel-Palestina dan sekitarnya. Menurut Committee to Protect Journalists, setidaknya 100 jurnalis telah terbunuh sejak Oktober 2023, sebagian besar di Gaza.
Kematian tiga jurnalis Lebanon kemungkinan akan memicu protes lebih lanjut dari organisasi media dan hak asasi manusia. Tekanan internasional terhadap Israel untuk membatasi operasi militernya di wilayah berpenduduk sipil diperkirakan akan meningkat dalam beberapa hari mendatang.