Amerika Serikat dan Israel baru saja melancarkan salah satu operasi udara terbesar dalam sejarah militer modern. Dalam 100 jam pertama, mereka menggempur lebih dari 2.000 target di seluruh wilayah Iran. Serangan ini melibatkan bomber siluman B-2 Spirit dan menandai eskalasi konflik yang signifikan di Timur Tengah.
Iran langsung mengecam aksi ini sebagai tindakan agresi yang melanggar hukum internasional. Teheran berjanji akan membalas dengan "harga yang mahal" dan memperingatkan konflik bisa meluas ke seluruh kawasan.
Skala Operasi yang Luar Biasa
Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper menyebut skala operasi ini sangat besar. Bahkan, hampir dua kali lipat dibandingkan serangan udara awal AS dan sekutunya pada Perang Irak 2003. Operasi melibatkan lebih dari 200 pesawat tempur yang didukung dua kapal induk AS di kawasan.
Cooper menggambarkannya sebagai penumpukan kekuatan militer AS terbesar di Timur Tengah dalam satu generasi. Tujuan utamanya adalah menghancurkan infrastruktur rudal, sistem pertahanan udara, pabrik drone, dan aset angkatan laut Iran secara sistematis.
Peran Tiga Bomber Strategis AS
Operasi ini mencatat sejarah dengan pengerahan tiga jenis pengebom strategis utama Angkatan Udara AS secara bersamaan. Masing-masing memiliki peran khusus dalam melumpuhkan pertahanan Iran.
B-2 Spirit: Penembus Pertahanan Ketat
Pesawat siluman ini dikerahkan untuk menembus wilayah udara yang dijaga ketat. Mereka melancarkan serangan presisi terhadap fasilitas rudal yang diperkeras dan tersembunyi jauh di pedalaman Iran.
B-1B Lancer: Serangan Volume Tinggi
Pengebom dengan kapasitas muatan besar ini menjalankan serangan presisi bervolume tinggi. Mereka menargetkan infrastruktur rudal serta berbagai target strategis lainnya dengan efektif.
B-52 Stratofortress: Penghancur Komando
Mengandalkan jangkauan tempur yang sangat panjang, pesawat legendaris ini difokuskan pada fasilitas komando dan kontrol militer Iran. Mereka memastikan komunikasi dan koordinasi pertahanan Iran terganggu.
Dominasi Udara dan Laut
Laksamana Cooper menyebut misi para pengebom sebagai "serangan bedah tanpa perlawanan". Pernyataan ini mengindikasikan sistem pertahanan udara Iran telah banyak dilumpuhkan. Pejabat militer AS mengklaim kekuatan gabungan AS dan Israel kini mendominasi ruang udara Iran.
Selain menguasai udara, operasi juga menargetkan kekuatan maritim Iran. Pasukan AS melaporkan telah menghancurkan 17 kapal angkatan laut Iran selama serangan berlangsung. Dua target penting yang berhasil ditenggelamkan adalah satu-satunya kapal selam operasional Iran dan Shahid Bagheri.
Teknologi Baru dan Respon Iran
Operasi ini menampilkan penggunaan sistem tempur tak berawak baru bernama LUCAS dalam jumlah besar. Menariknya, sistem tersebut dirancang berdasarkan desain amunisi loitering Shahed-136 buatan Iran. Kini, AS menggunakan teknologi serupa untuk menyerang balik target milik Teheran dengan dampak operasional signifikan.
Sebagai respons langsung, Iran meluncurkan serangan rudal balistik dan drone dalam skala besar ke berbagai target di kawasan. Menurut data militer AS, Iran telah menembakkan lebih dari 500 rudal balistik dan sekitar 2.000 drone sejak operasi dimulai.
Saat ini, pasukan AS masih melanjutkan operasi penargetan dinamis untuk memburu dan menghancurkan peluncur rudal balistik mobile Iran yang masih beroperasi. Situasi di Timur Tengah tetap tegang dengan potensi eskalasi lebih lanjut.