Javas Corner - Arab Saudi dikenal sebagai salah satu negara dengan anggaran militer terbesar di dunia. Negara kerajaan itu memiliki beragam alat utama sistem persenjataan atau alutsista canggih, mulai dari jet tempur hingga sistem pertahanan rudal berlapis. Namun, besarnya anggaran pertahanan dan kecanggihan persenjataan tersebut belum sepenuhnya mampu mencegah serangan kelompok Houthi dari Yaman.
Sejumlah serangan bahkan dilaporkan menyasar fasilitas strategis di Riyadh, termasuk bandara dan infrastruktur minyak. Lantas, mengapa pertahanan udara Arab Saudi masih bisa ditembus? Menurut laporan NDTV, Arab Saudi mengalokasikan sekitar 6,5 persen dari produk domestik bruto atau PDB untuk pertahanan pada 2025. Nilainya mencapai 83 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp1.486 triliun. Angka tersebut menempatkan Arab Saudi sebagai negara dengan belanja militer terbesar kedelapan di dunia .
Di atas kertas, kekuatan militer Arab Saudi memang terlihat mentereng. Negara itu memiliki jet tempur F-15 dan Eurofighter Typhoon, serta sistem pertahanan udara Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD. Jet-jet tempur Arab Saudi juga dilaporkan digunakan untuk menyerang posisi Houthi di Yaman. Namun, kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh. Sejak merebut Ibu Kota Sanaa pada 2014, kelompok tersebut terus mengembangkan kemampuan persenjataannya. Drone dan rudal yang mereka miliki diklaim mampu menjangkau sasaran hingga sekitar 2.000 kilometer, termasuk wilayah Israel .
Ada beberapa alasan mengapa pertahanan Arab Saudi sulit membendung serangan Houthi. Pertama, luas wilayah Arab Saudi yang mencapai 2,25 juta kilometer persegi membuat sistem pertahanan udara tidak bisa membentuk "kubah" yang rapat . Analis dari King's College London, Andreas Krieg, menilai bahwa bahkan sistem berlapis yang menggabungkan Patriot, THAAD, jet tempur, dan sensor lain pun tidak akan mampu menciptakan perlindungan tanpa celah di negara sebesar Arab Saudi . Serangan Houthi cukup berhasil beberapa kali saja untuk menimbulkan kerusakan besar.
Kedua, Houthi menerapkan taktik asimetris yang canggih. Investigasi awal menunjukkan bahwa Houthi meluncurkan beberapa drone terlebih dahulu untuk mengacaukan radar pertahanan udara, kemudian menembakkan kombinasi rudal balistik dan rudal jelajah ke Bandara Internasional King Khalid . Rudal yang mereka gunakan juga dilengkapi hulu ledak yang mampu bermanuver atau mengubah arah saat terbang, sehingga menyulitkan sistem pencegat Patriot .
Ketiga, serangan Houthi memaksa Arab Saudi menghabiskan banyak rudal pencegat yang pasokannya terbatas secara global . Ini menjadi semacam perang消耗 atau attrition warfare, di mana Houthi dapat terus menembakkan rudal dan drone berbiaya relatif murah, sementara Saudi harus mengeluarkan biaya mahal untuk setiap intersepsi .
Selain itu, laporan juga menyebut bahwa Houthi memiliki persediaan senjata yang tidak terbatas dan terus mengembangkan taktik mereka . Dengan dukungan Iran, mereka mampu memodifikasi rudal agar lebih efektif .
Kondisi ini menunjukkan bahwa keunggulan anggaran dan teknologi tidak selalu menjamin kemenangan dalam konflik asimetris. Houthi tidak perlu menang setiap saat, cukup beberapa serangan berhasil untuk menimbulkan kerusakan dan tekanan politik yang signifikan .
#ArabSaudi #Houthi #AnggaranMiliter #KonflikYaman #PertahananUdara #Rudal #Drone #BeritaInternasional #TimurTengah #JavasCorner