JAVASCORNER.CO.ID, CIKARANG - Puluhan orangtua di Ciantra, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, rela mengantre sejak pukul 03.00 WIB demi bisa mendaftarkan putra-putri mereka di SDN Ciantra 01. Fenomena ini terjadi pada Jumat (20/6/2026) karena sistem pendaftaran yang masih dilakukan secara offline, memaksa orangtua berebut nomor antrean untuk melengkapi berkas.
Kronologi Antrean
Berdasarkan video yang beredar luas, terlihat puluhan orangtua sudah berkumpul di depan gerbang SDN Ciantra 01 sejak dini hari. Mereka membawa kursi lipat, tikar, dan bekal untuk bertahan hingga proses pendaftaran dibuka.
Salah satu orangtua, Siti (34), mengaku datang pukul 03.00 WIB setelah mendapat informasi dari tetangga. "Saya khawatir kehabisan kuota, apalagi sekolah ini favorit," ujarnya.
Petugas sekolah baru membuka pendaftaran pukul 08.00 WIB. Namun, antrean sudah mengular sejak pagi buta. Sistem manual dengan nomor antrean kertas membuat proses berjalan lambat.
Proses Pendaftaran
Setiap orangtua harus menyerahkan fotokopi KK, akta kelahiran, dan surat keterangan tidak mampu (jika ada). Petugas memeriksa satu per satu, sehingga antrean bergerak pelan.
"Kami hanya menyediakan 100 formulir per hari. Itu pun sudah termasuk jalur zonasi dan afirmasi," jelas Kepala SDN Ciantra 01, Ahmad Syarif.
Dampak Sosial
Fenomena ini menimbulkan berbagai reaksi. Banyak netizen menyayangkan masih adanya antrean panjang di era digital. "Sistem online seharusnya bisa mengurangi kerumunan," tulis akun @wargabekasi di media sosial.
Namun, tidak semua orangtua melek teknologi. Beberapa mengaku lebih nyaman mendaftar langsung. "Saya tidak punya HP pintar, jadi lebih aman antre di sini," kata Dedi (40), warga Ciantra.
Respons Pemerintah Daerah
Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi belum memberikan pernyataan resmi. Namun, pihak sekolah berjanji akan mengevaluasi sistem pendaftaran tahun depan.
"Kami akan usulkan pendaftaran online agar tidak ada lagi antrean subuh," ujar Ahmad.
Fenomena antrean jam 3 pagi ini menjadi cermin betapa tingginya minat masyarakat terhadap sekolah negeri favorit. Semoga ke depan, sistem penerimaan peserta didik baru bisa lebih adil dan efisien bagi semua kalangan.