JAVASCORNER.CO.ID, WASHINGTON - Amerika Serikat mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz yang ditutup menyusul serangan Israel ke Lebanon. Gedung Putih menegaskan penutupan jalur pelayaran strategis itu sama sekali tidak dapat diterima, meski kedua negara telah mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Kronologi Penutupan
Iran menutup Selat Hormuz setelah Israel melancarkan serangan ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026). Penutupan ini terjadi meski Tehran dan Washington telah menyepakati gencatan senjata dua pekan sebelumnya.
Salah satu poin utama perjanjian itu adalah pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Iran menganggap AS melanggar kesepakatan dengan membiarkan Israel menyerang Lebanon.
Latar Belakang Kesepakatan
Kesepakatan gencatan senjata AS-Iran mencakup beberapa poin kunci:
- Penghentian sementara konflik langsung antara kedua negara
- Pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal
- Komitmen mengurangi ketegangan di kawasan Timur Tengah
Respons Gedung Putih
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyampaikan pernyataan resmi pada Rabu (8/4/2026). Ia menegaskan posisi pemerintah AS mengenai penutupan Selat Hormuz.
"Penutupan apapun sama sekali tak dapat diterima," ujar Leavitt dalam konferensi pers di Ruang James Brady, Gedung Putih.
Ia menambahkan, "Saya menegaskan kembali harapan dan tuntutan presiden agar Selat Hormuz segera dibuka kembali dengan cepat dan aman."
Permintaan Resmi
Pemerintah AS menyampaikan tiga tuntutan utama kepada Iran:
- Membuka kembali Selat Hormuz sesegera mungkin
- Memastikan keamanan penuh jalur pelayaran
- Menghormati kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati
Dampak Global
Penutupan Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap pasar energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap hari.
Harga bahan bakar di berbagai negara mulai mengalami kenaikan. Pasokan minyak dan gas terhambat, memicu kekhawatiran di pasar internasional.
Pengaruh Ekonomi
Beberapa dampak ekonomi yang telah terlihat:
- Kenaikan harga minyak mentah di pasar global
- Peningkatan biaya transportasi laut
- Ketidakpastian pasokan energi ke negara-negara Asia
- Potensi inflasi di negara pengimpor minyak
Perkembangan Terkini
Hingga Kamis (9/4/2026), Selat Hormuz masih tertutup untuk lalu lintas kapal komersial. Iran belum memberikan respons resmi terhadap desakan AS.
Pemerintah Tehran sebelumnya mengancam akan kembali berperang dan menutup selat secara permanen jika Israel terus menyerang Lebanon. Situasi ini menciptakan ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.
Monitor Kawasan
Beberapa perkembangan yang perlu dipantau:
- Respons resmi pemerintah Iran terhadap desakan AS
- Posisi Israel terkait serangan ke Lebanon
- Reaksi negara-negara Arab di kawasan
- Pergerakan kapal perang AS di Teluk Persia
Kesepakatan gencatan senjata AS-Iran kini diuji dengan penutupan Selat Hormuz. Dunia internasional menunggu langkah berikutnya dari Tehran dan Washington, sementara pasar energi global waspada terhadap gangguan pasokan yang berkepanjangan.