JAVASCORNER.CO.ID, MEDAN - Warga Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, mengaku kedatangan banjir kini sulit diprediksi. Mereka mendesak pemerintah segera mengeruk Sungai Deli yang dangkal untuk mengurangi risiko banjir yang semakin parah.
Banjir kembali melanda permukiman warga pada Senin (24/8/2026) setelah banjir kiriman membuat Sungai Deli meluap. Ketinggian air mencapai sekitar 3 meter, memaksa ratusan warga di bantaran sungai mengungsi ke loteng rumah dan ruko di pinggir jalan raya.
- Keluhan Warga: Banjir Tak Lagi Berpola
- Harapan Pengerukan Sungai Deli
- Sungai Deli Dinilai Makin Dangkal
Keluhan Warga: Banjir Tak Lagi Berpola
Seorang warga Sei Mati bernama Mardiwal mengaku bingung dengan frekuensi banjir yang meningkat drastis. "Wah, tidak mengertilah kita sering banjir ini. Bulan kemarin bisa 4 sampai 5 kali. Bisa juga seminggu 3 kali," katanya, Selasa (25/8/2026).
Mardiwal menjelaskan, dulu warga masih bisa memperkirakan datangnya banjir berdasarkan pola musim. Namun, kini pola tersebut berubah total. Banjir bahkan terjadi saat tidak ada hujan di wilayah mereka.
"Dibilang orang bulan yang ada 'ber'-nya saja kan, baru banjir. Tapi tidak juga. Sekarang sudah tidak tentu. Tidak ada hujan pun, banjir juga sekarang. Meski sudah surut, terus banjir lagi," lanjutnya.
Menurut Mardiwal, banjir kali ini merupakan yang paling parah sepanjang Agustus 2026. Ia berharap pemerintah segera bertindak untuk mengatasi akar permasalahan.
Harapan Pengerukan Sungai Deli
Mardiwal menyampaikan harapannya agar pemerintah melakukan pengerukan Sungai Deli. Dengan begitu, daya tampung sungai diharapkan meningkat dan banjir bisa diminimalisir.
"Kami minta tolong pemerintah bisa mengorek Sungai Deli itu. Jadi sampai sekarang ini, sudah kami usulkan. Kalau boleh juga, dibuatkan tembok seperti tepi sungai yang di seberang," harapnya.
Ia menegaskan bahwa permintaan ini sudah lama disuarakan warga. Namun, realisasinya masih belum terlihat. Warga berharap ada tindakan nyata dari pemerintah kota.
Sungai Deli Dinilai Makin Dangkal
Kepala Lingkungan 9 Sei Mati, Rozy, mengatakan banjir di wilayahnya semakin tinggi sejak 2025. Bahkan, pada November 2025, ketinggian air disebut sudah mencapai atap rumah warga.
"Biasanya dulu tidak pernah sampai sebegitu tinggi airnya. Belum pernahlah. Dari saya kecil tidak pernah setinggi itu. Tidak tentu banjir sekarang memang, tiba-tiba meluap air sungai kiriman dari Tanah Karo sana," rincinya.
Rozy menjelaskan, rumah warga kini mudah terendam meski Sungai Deli hanya mengalami sedikit kenaikan debit air. Kondisi ini dipengaruhi oleh pendangkalan sungai akibat endapan tanah, lumpur, dan pasir.
"Saya dan tatanan masyarakat juga meminta untuk dikorek sungainya. Kami minta sungai ini saja yang diberonjong, karena dekat kali dengan sungai, rendah juga tanahnya. Kalau direalisasi, bersyukur kali kami," tuturnya.
Warga berharap pemerintah segera merespons keluhan mereka. Pengerukan sungai dan pembangunan tanggul dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir yang kian tak menentu ini.