Javas Corner - Warga Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kembali harus menghadapi situasi berat akibat kepungan kabut asap pekat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang diperparah dengan gangguan pemadaman listrik selama berjam-jam pada Kamis (15/10/2026). Kondisi ini dirasakan langsung oleh Muhamad Habibi (33), bersama istri, dan bayi mereka yang baru berusia 15 hari.
Di tengah kualitas udara yang memburuk, di mana sejak empat hari terakhir udara Palangka Raya kuning pekat akibat kabut asap, keluarga kecil ini harus bertahan di dalam rumah tanpa aliran listrik selama berjam-jam.
"Mati listrik dari jam 12.26 sampai jam 16.30 WIB hari ini," ujar Habibi saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis malam.
Pemadaman listrik tersebut membuat situasi di dalam rumah menjadi sangat gerah dan tidak nyaman. Terlebih lagi, kipas angin dan alat penyaring udara atau air purifier tidak dapat berfungsi untuk menghalau masuknya polusi asap ke dalam ruangan.
"Ketika mati listrik, di dalam rumah itu panas, bau asap, asapnya masuk ke dalam kamar karena tidak bisa diantisipasi oleh kipas dan penyaring udara," ungkapnya.
Meski demikian, Habibi bersyukur kondisi kesehatan keluarganya, termasuk sang istri dan bayi yang baru lahir, sejauh ini masih terpantau normal dan tidak menunjukkan gejala sakit yang serius. Upaya perlindungan ekstra terus dilakukan demi menjaga kesehatan sang buah hati.
"Kondisi kesehatan sejauh ini normal, tidak ada gangguan atau gejala sakit. Karena kami tidak ingin adanya yang sakit di rumah, sejauh ini enggak," tuturnya.
Meski secara umum kondisi kesehatan keluarga terjaga, Habibi menceritakan bahwa sang istri sempat mengalami sesak napas saat masa kehamilan akibat kualitas udara yang sangat buruk dan pekatnya asap yang menerobos masuk ke dalam kamar. Untuk menyiasati hal tersebut, ia berinisiatif menutup rapat seluruh ventilasi rumah.
"Waktu hamil istri sempat sesak napas, karena waktu itu memang tingkat kualitas udara sangat buruk, asap pekat sampai masuk ke dalam kamar. Akhirnya ventilasi ditutup, sedapat mungkin tidak ada lubang yang memungkinkan asap atau polutan masuk ke dalam kamar. Lebih banyak bertahan di dalam kamar," jelas Habibi.
Sejak sang istri melahirkan, aktivitas keluarga pun praktis lebih banyak dihabiskan di dalam rumah, khususnya di dalam kamar demi menghindari paparan polusi udara luar. Sementara itu, kondisi cuaca di luar terpantau masih sangat mengkhawatirkan dengan kabut asap yang pekat menyelimuti ruas jalanan kota sebelum akhirnya sedikit mereda setelah diguyur hujan pada sore hari.
"Hari ini sempat pekat sekali, cuman sempat turun hujan jam 16.00 kurang. Jalan Riwut Tarung kuning pekat," pungkasnya.
Kisah Habibi menjadi gambaran nyata betapa beratnya dampak karhutla bagi warga Palangka Raya. Selain gangguan kesehatan, pemadaman listrik yang terjadi di tengah kondisi udara yang buruk membuat situasi semakin sulit. Diperlukan penanganan serius dari berbagai pihak agar karhutla segera teratasi dan warga bisa kembali menjalani hidup dengan normal.
#Karhutla #PalangkaRaya #KabutAsap #KalimantanTengah #Kesehatan #Bayi #ListrikPadam #BeritaNasional #Lingkungan #JavasCorner