News

BMKG Ungkap Arah Sebaran Abu Anak Krakatau, Dominan Bergerak ke Samudra Hindia dan Sejumlah Wilayah Sumatra

Ujang Trisno Ujang Trisno 07 Sep 2026 14:14 29 Views
BMKG Ungkap Arah Sebaran Abu Anak Krakatau, Dominan Bergerak ke Samudra Hindia dan Sejumlah Wilayah Sumatra

BMKG Ungkap Arah Sebaran Abu Anak Krakatau, Dominan Bergerak ke Samudra Hindia dan Sejumlah Wilayah Sumatra

Javas Corner - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengungkap arah sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan analisis kondisi atmosfer dan citra satelit terbaru, abu vulkanik berpotensi bergerak menuju sejumlah wilayah di Sumatra hingga Samudra Hindia.

 

Analisis tersebut disampaikan BMKG dengan mengacu pada informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG, Volcanic Ash Advisory Center atau VAAC Darwin, serta pengamatan Citra RGB Himawari-9 pada Senin, 7 September 2026.

 

BMKG memantau adanya dua klaster sebaran abu vulkanik pada ketinggian sekitar 15.000 kaki dan 50.000 kaki. Secara umum, sebaran abu tersebut dominan bergerak ke arah barat hingga barat daya.

 

"BMKG memantau dua klaster sebaran abu vulkanik hingga ketinggian 15.000 kaki dan 50.000 kaki, dengan sebaran dominan ke arah Barat hingga Barat Daya," demikian keterangan resmi BMKG.

 

Berdasarkan analisis hingga pukul 07.00 WIB, abu vulkanik yang berada pada ketinggian sekitar 15.000 kaki bergerak dengan arah tenggara-barat laut. Sebaran pada lapisan tersebut berpotensi mencapai sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Selain wilayah daratan, abu juga berpotensi terbawa menuju perairan Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu dan Lampung.

 

Sementara itu, abu vulkanik pada ketinggian sekitar 50.000 kaki terpantau bergerak ke arah barat daya-barat. Untuk klaster pada ketinggian tersebut, potensi sebarannya lebih dominan berada di wilayah Samudra Hindia.

 

Pergerakan abu vulkanik tidak terlepas dari kondisi atmosfer. BMKG memperkirakan cuaca pada periode 7 hingga 9 September 2026 didominasi kondisi cerah dengan angin bertiup dari arah timur dengan kecepatan sekitar 29 hingga 33 kilometer per jam. Kondisi angin pada lapisan atmosfer menjadi faktor penting dalam menentukan arah pergerakan material erupsi termasuk abu vulkanik.

 

Sementara itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian serius pemerintah. Badan Geologi melalui PVMBG menyatakan aktivitas gunung api tersebut masih berada pada Level III atau Siaga.

 

Berdasarkan evaluasi Badan Geologi pada 7 September 2026 pukul 06.00 WIB, Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas erupsi. Pada periode 6 hingga 7 September, pengamatan visual dan CCTV memperlihatkan erupsi strombolian dengan kolom erupsi berwarna hitam.

 

Badan Geologi juga mencatat episode erupsi menerus yang berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB atau sekitar 25 jam. Setelah episode tersebut berakhir, masih terjadi erupsi strombolian dengan intensitas yang lebih rendah.

 

Meskipun erupsi menerus telah berakhir, Badan Geologi menilai probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya masih tinggi. Ancaman bahaya yang perlu diwaspadai antara lain lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Apabila erupsi menerus kembali terjadi, terdapat pula potensi bahaya berupa aliran lava.

 

Badan Geologi merekomendasikan masyarakat yang terdampak abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar guna menghindari gangguan pernapasan.

 

Masyarakat dan pengunjung juga diminta tidak memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

 

Sementara itu, masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mempercayai informasi yang tidak berasal dari sumber resmi mengenai isu erupsi yang disebut dapat menyebabkan tsunami. Masyarakat diminta mengikuti arahan BPBD setempat.

 

BMKG dan Badan Geologi terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta dampaknya terhadap atmosfer dan wilayah sekitarnya. Masyarakat disarankan memperoleh informasi terbaru melalui kanal resmi pemerintah termasuk BMKG, PVMBG, Badan Geologi, dan aplikasi Magma Indonesia.

 

Dengan kondisi aktivitas vulkanik yang masih dinamis, masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak abu diimbau untuk terus mengikuti pembaruan arah sebaran abu, kondisi cuaca, serta rekomendasi dari otoritas terkait.

 

#BMKG #AnakKrakatau #AbuVulkanik #GunungAnakKrakatau #PVMBG #SamudraHindia #SebaranAbu #StatusSiaga #ErupsiVulkanik #InfoBencana

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

Mentan Arman Murka, Petani di Banggai Diduga Diminta Mahar Rp150 Juta demi Bantuan Kementan

Thumbnail

Viral Diduga Aksi Arogan Pria Berbaju Merah Bentak Wisatawan di Stasiun Gambir

Thumbnail

Ruben Onsu Buka Suara soal Betrand Peto yang Diduga Terlibat Kasus TPKS, Minta Publik Tak Berspekulasi

Thumbnail

Curhat Guru di Sleman, Korban Dugaan Keracunan MBG Mengaku Tanggung Pengobatan Sendiri

Thumbnail

Viral YouTuber Inggris Keluhkan Harga Nasi Goreng dan Bir Rp240 Ribu di Indonesia

Thumbnail

Dedi Mulyadi Berduka atas Kepergian Penyanyi Kanaya Whu: Surga Untukmu, Teh

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner