JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - China secara resmi mendesak Iran untuk segera menghentikan permusuhan dengan Amerika Serikat dan kembali ke meja perundingan. Langkah ini diambil Beijing untuk memperkuat posisinya sebagai mediator global menjelang pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
- Desakan Diplomasi China ke Iran
- Dampak pada Perdagangan Energi dan Selat Hormuz
- Posisi China sebagai Mediator Global
Desakan Diplomasi China ke Iran
Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan rekannya dari Iran, Abbas Araghchi, di Beijing pada Rabu (6/5/2026). Dalam pertemuan tersebut, Wang menyerukan penghentian segera permusuhan dan mendesak negosiasi diplomatik demi stabilitas kawasan.
"Kami menyerukan penghentian segera permusuhan dan mendesak kekuatan-kekuatan yang bertikai untuk melanjutkan negosiasi diplomatik," ujar Wang Yi.
Kunjungan Araghchi ini merupakan yang pertama sejak pecahnya perang antara AS-Israel melawan Teheran pada 28 Februari lalu. Momentum ini terjadi hanya beberapa hari sebelum Trump dijadwalkan mengunjungi Beijing.
Waktu yang Strategis
Menurut Amir Handjani dari Quincy Institute for Responsible Statecraft, pertemuan ini sangat strategis. "Teheran dan Beijing sedang menyelaraskan kepentingan mereka sebelum pertemuan puncak Trump dengan Xi Jinping," katanya.
Handjani menambahkan bahwa China sangat menginginkan stabilitas di Teluk Persia untuk melindungi arus perdagangan dan energi. China tidak ingin terjadi inflasi atau resesi akibat blokade berkepanjangan.
Dampak pada Perdagangan Energi dan Selat Hormuz
Sebelum perang, sekitar 20% minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz. Namun, lalu lintas komersial telah melambat tajam dalam beberapa pekan terakhir.
China, sebagai pembeli minyak dan gas Teluk terbesar di dunia, mulai merasakan dampak gangguan di Hormuz meskipun memiliki cadangan domestik. "Kepemimpinan China ingin kapal tanker bergerak dan perdagangan mengalir dari Teluk Persia ke pasar Asia," kata Handjani.
Posisi China sebagai Mediator Global
Kunjungan Araghchi ke China juga dianggap sebagai cara Teheran menunjukkan bahwa mereka tidak terisolasi. "Bagi Teheran, ini adalah cara untuk menunjukkan kepada AS bahwa mereka memiliki teman dan pilihan," ujar Danny Russel dari Asia Society Policy Institute.
Bagi Presiden Xi, kunjungan ini merupakan kesempatan untuk memposisikan Beijing sebagai kekuatan yang bertanggung jawab. China juga mengambil langkah berani dengan melawan sanksi Washington terhadap kilang-kilang China yang membeli minyak mentah Iran.
Pertemuan puncak Trump-Xi di Beijing yang sempat tertunda lebih dari sebulan karena perang di Iran, dipandang sebagai peluang kritis. Trump diperkirakan akan berusaha meredakan gesekan dan mengamankan komitmen China untuk membeli produk pertanian, barang industri, dan energi AS menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang.
Dengan langkah ini, China menunjukkan perannya sebagai penstabil kawasan di tengah ketegangan global. Dunia kini menanti hasil pertemuan puncak Trump-Xi yang akan menentukan arah konflik dan perdagangan energi ke depan.