JAVASCORNER.CO.ID, BEIJING - Pemerintah China akan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan lapangan kerja baru, menanggapi gelombang 12,7 juta lulusan universitas yang siap memasuki pasar kerja tahun 2026. Menteri Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial Wang Xiaoping mengumumkan strategi ini dalam konferensi pers selama sesi Kongres Rakyat Nasional, Rabu (8/3/2026).
Strategi AI untuk Penciptaan Kerja
Wang Xiaoping menjelaskan, AI akan digunakan untuk meningkatkan peran tradisional dalam berbagai industri. Teknologi ini juga dimanfaatkan untuk membuka peluang kerja di saluran-saluran baru.
"Kami ingin membantu kaum muda menunjukkan keterampilan mereka," kata Wang. Jumlah fresh graduate tahun ini lebih besar dari populasi Belgia, menciptakan tekanan signifikan pada pasar kerja.
Tantangan dan Program Pelatihan
Meski optimis, Wang mengakui adanya tantangan. Ketidakpastian global dan faktor tak terduga mengancam stabilitas pekerjaan.
Pemerintah merespons dengan meluncurkan program magang dan pelatihan skala besar. Program ini dirancang khusus untuk membantu fresh graduate beradaptasi dengan kebutuhan industri.
Fokus pada Sektor Unggulan
Penekanan khusus diberikan pada pengembangan keterampilan kejuruan di sektor-sektor strategis. Ekonomi dataran rendah, kendaraan energi baru, dan kecerdasan buatan menjadi prioritas utama.
"Ini tentang menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan masa depan," tegas Wang. Pendekatan ini diharapkan dapat menyerap jutaan lulusan universitas sekaligus mendorong inovasi teknologi.
Rencana China ini muncul di tengah persaingan global dalam pengembangan AI. Keberhasilan implementasi strategi kerja berbasis teknologi akan menjadi penanda penting bagi perekonomian terbesar kedua dunia tersebut.