Ekonomi

China Tetapkan Target Pertumbuhan Ekonomi Terendah Sejak 1991: Analisis dan Dampaknya

Ujang Trisno Ujang Trisno 06 Mar 2026 04:37 64 Views
Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang di sidang Kongres Rakyat Nasional di Beijing

Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang di sidang Kongres Rakyat Nasional di Beijing

China Tetapkan Target Pertumbuhan Ekonomi Terendah Sejak 1991

China baru saja mengumumkan target pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 4,5% hingga 5%. Ini menjadi angka terendah yang ditetapkan Beijing sejak tahun 1991, menandai periode tantangan ekonomi yang kompleks. Target ini diumumkan selama pertemuan politik besar yang dikenal sebagai "dua sesi" di Beijing.

Perdana Menteri Li Qiang menyampaikan laporan 46 halaman yang berisi target GDP dan rencana pembangunan ekonomi. Penurunan target ini memberikan ruang lebih besar bagi pemerintah untuk mengelola ekonomi tanpa tekanan mencapai angka yang terlalu ambisius.

Latar Belakang Penurunan Target

Ini pertama kalinya China menurunkan target pertumbuhan sejak tahun 2023. Pada tahun 2020, pemerintah bahkan tidak menetapkan target sama sekali karena pandemi COVID-19. Penurunan tahun ini mencerminkan realitas ekonomi yang sedang dihadapi negara tersebut.

Jason Bedford dari East Asian Institute Research Group menjelaskan bahwa China memang pernah menggunakan target fleksibel sebelumnya, terutama selama pandemi. Namun, penurunan seperti ini bukanlah hal yang biasa dalam kebijakan ekonomi China selama beberapa dekade terakhir.

Tantangan Ekonomi yang Dihadapi China

Beijing menghadapi berbagai masalah ekonomi yang saling terkait. Konsumsi domestik yang lemah menjadi salah satu kekhawatiran utama pemerintah. Sektor properti yang sedang krisis juga memberikan tekanan signifikan pada perekonomian nasional.

Populasi yang menua dan tingkat kelahiran yang turun menambah kompleksitas upaya pemulihan ekonomi. Lebih dari dua pertiga provinsi di China telah menurunkan target pertumbuhan mereka, baik dengan angka yang lebih rendah maupun bahasa yang lebih lunak.

Dampak Sektor Properti

Krisis properti telah menghantam ekonomi China dengan keras. Sektor ini pernah menyumbang hampir sepertiga dari perekonomian nasional dan menjadi sumber pendapatan penting bagi pemerintah daerah. Banyak pemerintah daerah kini menanggung utang besar akibat masalah ini.

Masalah properti juga menyebabkan PHK dan pemotongan gaji di berbagai wilayah. Ning Leng dari Georgetown University menekankan bahwa data lain menunjukkan gambaran ekonomi yang lebih lemah dari angka resmi yang dilaporkan.

Rencana Lima Tahun ke-15 dan Strategi Baru

China meluncurkan Rencana Lima Tahun ke-15 yang akan membimbing pembangunan ekonomi hingga 2030. Rencana ini mencakup lebih dari 100 proyek besar dengan fokus pada sains, teknologi, transportasi, dan energi. Investasi akan dialokasikan untuk inovasi, industri teknologi tinggi, dan penelitian ilmiah.

Perdana Menteri Li menekankan pentingnya meningkatkan konsumsi rumah tangga untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor. Beijing juga berambisi menjadi kekuatan teknologi global dengan menerapkan alat kecerdasan buatan di industri kunci.

Transformasi Energi dan Lingkungan

China berkomitmen pada transisi energi hijau dengan mengurangi emisi karbon dan meningkatkan perlindungan lingkungan. Meskipun menghadapi tantangan pasokan minyak akibat konflik global, Beijing menekankan ketergantungan yang lebih rendah pada bahan bakar fosil.

Negara ini telah bertahun-tahun beralih ke energi terbarukan. Rencana pembangunan juga mencakup pembangunan "masyarakat yang ramah kelahiran" untuk mengatasi masalah kependudukan.

Dampak Global dan Hubungan Internasional

Pertumbuhan ekonomi China yang melambat akan berdampak pada ekonomi global. Negara ini mencatat surplus perdagangan terbesar di dunia tahun lalu sebesar $1,19 triliun. Namun, ketergantungan pada ekspor menjadi kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh negara lain.

Tarif yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump memberikan tekanan tambahan pada ekonomi China. Beijing merespons dengan mengalihkan perdagangan ke negara lain untuk mempertahankan sektor manufakturnya. Pertemuan antara Trump dan Xi Jinping dijadwalkan pada April mendatang.

Analisis Para Ahli

Zhou Zheng dari China Macro Group mengatakan target pertumbuhan baru mencerminkan sikap realistis Beijing. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi China tetap menjadi "prestasi besar" mengingat kompleksitas tantangan yang dihadapi.

Para analis sepakat bahwa target yang lebih rendah memberikan fleksibilitas bagi pemerintah. Namun, implementasi kebijakan dan kemampuan mengatasi masalah struktural akan menentukan keberhasilan jangka panjang ekonomi China.

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

▸ TAG TOPIK

#China #pertumbuhan ekonomi #target GDP #dua sesi #rencana lima tahun

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

Mentan Arman Murka, Petani di Banggai Diduga Diminta Mahar Rp150 Juta demi Bantuan Kementan

Thumbnail

Viral Diduga Aksi Arogan Pria Berbaju Merah Bentak Wisatawan di Stasiun Gambir

Thumbnail

Ruben Onsu Buka Suara soal Betrand Peto yang Diduga Terlibat Kasus TPKS, Minta Publik Tak Berspekulasi

Thumbnail

Curhat Guru di Sleman, Korban Dugaan Keracunan MBG Mengaku Tanggung Pengobatan Sendiri

Thumbnail

Viral YouTuber Inggris Keluhkan Harga Nasi Goreng dan Bir Rp240 Ribu di Indonesia

Thumbnail

Dedi Mulyadi Berduka atas Kepergian Penyanyi Kanaya Whu: Surga Untukmu, Teh

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner