Internasional

China Umumkan 10 Langkah Damai untuk Taiwan Setelah Kunjungan KMT

Ujang Trisno Ujang Trisno 13 Apr 2026 11:54 76 Views
Bendera Taiwan berkibar di depan pemandangan kota Taipei

Bendera Taiwan berkibar di depan pemandangan kota Taipei

JAVASCORNER.CO.ID, BEIJING - Pemerintah China mengumumkan serangkaian kebijakan baru untuk meningkatkan hubungan dengan Taiwan pada Minggu (13/4/2026), tepat di hari terakhir kunjungan langka delegasi partai oposisi Kuomintang (KMT). Pengumuman ini muncul setelah pertemuan antara Ketua KMT Cheng Li-wun dengan Presiden Xi Jinping di Beijing.

10 Langkah Kebijakan Baru

Kantor Urusan Taiwan (TAO) Beijing merilis daftar 10 langkah konkret yang bertujuan mendorong perkembangan damai hubungan lintas selat. Kebijakan ini mencakup berbagai aspek pertukaran antara kedua wilayah.

Peningkatan Konektivitas Transportasi

TAO akan mendorong dimulainya kembali program percontohan perjalanan individu ke Taiwan bagi warga Shanghai dan Fujian. Langkah ini diharapkan bisa memulihkan arus wisatawan yang sempat terhambat.

"Dalam potensi peningkatan lebih lanjut, kami akan mengaktifkan kembali penerbangan langsung antara Taiwan dan berbagai kota China," jelas pernyataan resmi yang dikutip kantor berita Xinhua.

Kota-kota yang akan terhubung meliputi:

  • Urumqi di Xinjiang
  • Xi'an di Shaanxi
  • Harbin di Heilongjiang
  • Kunming di Yunnan
  • Lanzhou di Gansu

Ekspansi Pertukaran Budaya

China juga akan mengizinkan impor konten hiburan dari Taiwan dengan syarat tertentu. Drama, dokumenter, dan animasi Taiwan bisa masuk ke pasar China asalkan memenuhi standar kualitas dan orientasi yang ditetapkan Beijing.

"Konten harus berorientasi dengan benar, bermanfaat, dan berkualitas tinggi," tegas pernyataan Xinhua. Kebijakan ini dianggap sebagai upaya memperluas pengaruh budaya China sekaligus membuka peluang ekonomi bagi produsen konten Taiwan.

Respons Berbeda dari Taiwan

Reaksi terhadap pengumuman China ini terbelah di Taiwan. Partai KMT menyambut positif langkah-langkah tersebut, sementara pemerintah Taiwan yang dikuasai Partai Progresif Demokratik (DPP) bersikap skeptis.

Dukungan dari KMT

Wakil Ketua KMT Chang Jung-kung menyatakan langkah-langkah tersebut "sangat disambut baik" dan sesuai dengan harapan berbagai sektor di Taiwan. "Ini merupakan dorongan signifikan bagi perkembangan damai hubungan lintas selat," ujarnya dalam pernyataan resmi.

Chang menekankan bahwa kebijakan baru ini bisa membuka peluang ekonomi dan memperbaiki komunikasi antara kedua pihak setelah tahun-tahun ketegangan.

Kritik dari Pemerintah Taiwan

Juru bicara kepresidenan Taiwan Karen Kuo memberikan respons yang lebih berhati-hati. Menurutnya, sebagian besar langkah yang diumumkan China "telah lama mengalami pembukaan dan penutupan yang terputus-putus".

"Seperti di masa lalu, China sekali lagi gagal mengikuti saluran yang ada untuk bernegosiasi dengan pemerintah kami," kritik Kuo. Ia mempertanyakan apakah China akan menggunakan kebijakan ini sebagai alat "pemaksaan ekonomi" seperti yang terjadi sebelumnya.

Kuo juga mencatat bahwa banyak kebijakan tersebut tidak mengikuti mekanisme pasar atau norma internasional yang berlaku.

Pertemuan dengan Xi Jinping

Pengumuman kebijakan baru ini datang dua hari setelah pertemuan bersejarah antara Cheng Li-wun dengan Presiden Xi Jinping di Beijing. Pertemuan ini menjadi kunjungan pertama pemimpin partai Taiwan ke China dalam satu dekade terakhir.

Pesan Persatuan dari Xi

Dalam pertemuan tersebut, Xi Jinping menegaskan bahwa "tren umum warga negara di kedua sisi Selat yang semakin dekat, semakin mendekat, dan menjadi bersatu tidak akan berubah". Presiden China ini menyampaikan komitmennya untuk mempertahankan hubungan damai dengan Taiwan.

Xi juga menekankan pentingnya generasi muda dalam menjaga stabilitas kawasan. "Kita harus menghindari perang dengan menentang kemerdekaan Taiwan," pesannya kepada delegasi KMT.

Ekspektasi Cheng Li-wun

Cheng Li-wun menggemakan sentimen Xi dalam konferensi pers setelah pertemuan. Ketua KMT ini menyerukan semua pihak untuk menjaga perdamaian dan menghindari konflik bersenjata.

"Kunjungan ini bertujuan membangun jembatan komunikasi yang lebih baik," jelas Cheng. Namun, kunjungannya ke China menuai kritik di Taiwan, di mana beberapa pihak menuduhnya terlalu pro-Beijing.

Latar Belakang Ketegangan

Hubungan China-Taiwan mengalami pasang surut dalam beberapa tahun terakhir. Ketegangan meningkat setelah kemenangan DPP dalam pemilihan presiden Taiwan tahun 2016.

Pembekuan Komunikasi

Beijing memutus kontak tingkat tinggi dengan Taiwan setelah DPP yang menolak klaim kedaulatan China atas pulau tersebut berkuasa. Selama delapan tahun terakhir, komunikasi resmi antara kedua pihak hampir tidak ada.

China menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan bersumpah akan menyatukannya kembali, dengan kekuatan jika diperlukan. Posisi ini ditolak keras oleh pemerintah Taiwan yang berkuasa saat ini.

Tekanan Militer China

Dalam beberapa tahun terakhir, China meningkatkan tekanan militer di sekitar Taiwan. Beijing secara rutin mengerahkan jet tempur dan kapal perang ke wilayah dekat Taiwan, serta menggelar latihan militer skala besar.

Aktivitas militer ini menimbulkan kekhawatiran di kawasan dan mendapat perhatian internasional. Amerika Serikat, meski mengakui kebijakan Satu China, tetap menjual senjata ke Taiwan dan menyatakan komitmennya untuk membantu pertahanan pulau tersebut.

Signifikansi Kebijakan Baru

Kebijakan 10 langkah yang diumumkan China dianggap sebagai upaya merenggangkan ketegangan tanpa mengubah posisi fundamental Beijing mengenai kedaulatan. Para analis melihat ini sebagai pendekatan yang lebih lunak dibanding tekanan militer yang selama ini diterapkan.

Namun, efektivitas kebijakan ini masih perlu dibuktikan. Banyak yang mempertanyakan apakah langkah-langkah ini benar-benar akan diimplementasikan secara konsisten, atau hanya menjadi alat politik sementara.

Perkembangan hubungan China-Taiwan akan terus dipantau oleh komunitas internasional. Stabilitas Selat Taiwan memiliki implikasi penting bagi keamanan regional dan ekonomi global, mengingat posisi strategis Taiwan dalam rantai pasok teknologi dunia.

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

▸ TAG TOPIK

#China #Taiwan #Hubungan Internasional #Politik Asia #Xi Jinping

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

Mentan Arman Murka, Petani di Banggai Diduga Diminta Mahar Rp150 Juta demi Bantuan Kementan

Thumbnail

Viral Diduga Aksi Arogan Pria Berbaju Merah Bentak Wisatawan di Stasiun Gambir

Thumbnail

Ruben Onsu Buka Suara soal Betrand Peto yang Diduga Terlibat Kasus TPKS, Minta Publik Tak Berspekulasi

Thumbnail

Curhat Guru di Sleman, Korban Dugaan Keracunan MBG Mengaku Tanggung Pengobatan Sendiri

Thumbnail

Viral YouTuber Inggris Keluhkan Harga Nasi Goreng dan Bir Rp240 Ribu di Indonesia

Thumbnail

Dedi Mulyadi Berduka atas Kepergian Penyanyi Kanaya Whu: Surga Untukmu, Teh

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner