JAVASCORNER.CO.ID, WASHINGTON - Hampir enam bulan setelah Presiden AS Donald Trump menjanjikan kemenangan cepat atas Iran, konflik kedua negara belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kini, pemerintahan Trump menyiapkan langkah baru: tekanan ekonomi yang disebut “D-Day ekonomi”.
Kebijakan ini akan memberi konsekuensi ekonomi berat bagi negara maupun lembaga yang tetap bertransaksi dengan Iran. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, akan mengumumkan rinciannya dalam konferensi pers pada 24 Agustus 2026.
Latar Belakang Konflik AS-Iran
Ketegangan antara Washington dan Teheran telah berlangsung lama. Sejak Revolusi Islam 1979, AS telah menjatuhkan berbagai sanksi ekonomi. Ketegangan meningkat tajam setelah Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir JCPOA pada 2018.
Dalam konflik terbaru, AS meluncurkan “Operation Economic Fury” yang menggabungkan sanksi keuangan dan blokade angkatan laut di sejumlah pelabuhan. Namun, pendekatan ini belum membuahkan hasil yang diinginkan.
Pakar geostrategi Atlantic Council, Imran Bayoumi, menilai kebijakan terbaru mencerminkan frustrasi Washington. “Mereka mencoba cara yang lebih keras karena yang sebelumnya tidak efektif,” ujarnya.
Isi Kebijakan “D-Day Ekonomi”
Dalam wawancara dengan CNBC, Bessent menegaskan bahwa AS akan menindak tegas siapa pun yang membantu perekonomian Iran. “Anda harus memilih: bersama kami atau melawan kami,” katanya.
Ia merinci bahwa tindakan akan menyasar transfer uang, pembelian minyak, atau transfer muatan di laut. “Kami akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk menindak Anda,” tegasnya.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut ini sebagai “fase baru” dalam konflik. Menurutnya, tekanan ekonomi adalah instrumen paling efektif untuk mencapai tujuan akhir terhadap Teheran.
Ancaman bagi Negara Ketiga
Kebijakan ini tidak hanya menargetkan Iran, tetapi juga negara-negara yang masih menjalin bisnis dengannya. China, mitra dagang utama Iran, menjadi sorotan utama.
Analis memperkirakan China akan terkena dampak signifikan, mengingat volume impor minyaknya dari Iran. Namun, Beijing diperkirakan akan mencari celah untuk menghindari sanksi.
Reaksi dan Dampak yang Diperkirakan
Pakar menilai kebijakan ini bisa memicu kenaikan harga minyak global. Jika blokade diperketat, pasokan minyak dari Iran akan berkurang, memicu gejolak pasar.
Iran sendiri bukan negara asing dengan sanksi. Selama puluhan tahun, mereka telah beradaptasi dengan berbagai embargo. Ekonom Iran diperkirakan akan mencari jalur alternatif untuk mengekspor minyak, misalnya melalui kapal berbendera asing atau transaksi non-dolar.
Namun, tekanan ekonomi yang lebih berat bisa memperlemah rial Iran dan memicu inflasi. Masyarakat Iran mungkin akan merasakan dampaknya dalam bentuk kenaikan harga barang kebutuhan pokok.
| No | Negara/Blok | Potensi Dampak |
|---|---|---|
| 1 | Iran | Inflasi tinggi, rial terdepresiasi, ekonomi tertekan |
| 2 | China | Gangguan pasokan minyak, risiko sanksi sekunder |
| 3 | Uni Eropa | Kesulitan membayar impor energi, potensi konflik diplomatik |
| 4 | Global | Kenaikan harga minyak, ketidakpastian pasar |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa dampak terbesar akan dirasakan Iran sendiri, diikuti China. Sementara itu, global berpotensi mengalami gejolak harga minyak.
Sejauh ini, Iran belum memberikan respons resmi terhadap ancaman “D-Day ekonomi”. Namun, sebelumnya Teheran telah mengklaim beberapa wilayah AS sebagai balasan atas klaim Trump atas Selat Hormuz.
Konflik ini masih jauh dari selesai. Dengan kebijakan ekonomi baru ini, Trump tampaknya bertekad untuk meningkatkan tekanan. Namun, efektivitasnya masih dipertanyakan, mengingat Iran telah terbiasa hidup di bawah sanksi.
Masyarakat internasional pun menunggu apakah kebijakan ini akan benar-benar diterapkan atau hanya gertakan politik. Yang jelas, dunia akan semakin tegang menyaksikan langkah AS berikutnya.