Novel

Daun Muda Halaman 4: Kota yang Tak Pernah Tidur

Ujang Trisno Ujang Trisno 09 Apr 2026 23:18 65 Views
Daun Muda Halaman 4: Kota yang Tak Pernah Tidur

Daun Muda Halaman 4: Kota yang Tak Pernah Tidur

Daun Muda

Oleh: Ujang Trisno

Halaman 4: Kota yang Tak Pernah Tidur

Kereta berhenti dengan suara napas panjang seperti orang yang sudah lelah berlari. Stasiun kota jauh berbeda dari stasiun kecil tempat Hujan dan Jaya naik. Di sini, lampu menyala di mana-mana. Terang. Menyilaukan. Sampai Hujan harus mengerjap beberapa kali sebelum matanya bisa beradaptasi.

 

Orang lalu lalang seperti air sungai di musim hujan. Mereka berjalan cepat, menunduk, tidak ada yang saling menatap. Sebuah papan reklame besar bergambar wanita tersenyum dengan tulisan yang Hujan tidak bisa baca karena hurufnya terlalu kecil dan kata-katanya terlalu asing.

 

“Selamat datang di neraka,” kata Jaya sambil menguap. “Tapi neraka ini punya Indomaret buka 24 jam. Jadi ya... lumayan.”

 

Hujan tidak tahu apa itu Indomaret. Tapi ia tidak bertanya. Sejak masuk ke kota ini, ia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan takut. Bukan juga senang. Tapi seperti ada tangan tak kasat mata yang menekan dadanya pelan-pelan, mengingatkannya bahwa ia sekarang bukan siapa-siapa.

 

Di desa, ia adalah Hujan, cucu Nenek, anak yang pintar baca puisi.

 

Di sini, ia hanya satu dari sekian banyak anak kumuh yang turun dari kereta ekonomi.

 

“Kita tidur di mana?” tanya Hujan.

 

“Ikut aku,” kata Jaya.

 

Jaya membawanya menyusuri gang-gang sempit di belakang stasiun. Bau pesing dan sampah basah menyambut mereka. Ada beberapa kardus bekas yang disusun membentuk ruangan darurat di antara dua tembok. Di dalamnya, sudah ada empat anak lain. Usia mereka antara sembilan sampai tiga belas tahun. Semuanya laki-laki. Semuanya kurus. Semuanya punya mata yang sama: mata yang sudah terlalu banyak melihat, terlalu sedikit tersenyum.

 

“Ini Hujan. Teman baru,” kata Jaya singkat.

 

Seorang anak paling besar, dadanya sedikit berisi meskipun lengan masih kurus, mendekati Hujan. Ia menatap Hujan dari ujung rambut sampai ujung kaki.

 

“Bawa bekal apa?” tanyanya.

 

“Tidak punya apa-apa,” jawab Hujan jujur.

 

“Bisa kerja apa?”

 

“Bisa baca puisi.”

 

Semua anak laki-laki itu terdiam. Lalu mereka tertawa bersamaan. Bukan tawa jahat. Tapi tawa yang terheran-heran, seperti mendengar lelucon paling aneh di dunia.

 

“Puisi?” kata si anak paling besar. “Nak, di sini yang laku cuma keringat dan perut kuat. Puisi tidak bisa beli nasi.”

 

Hujan tidak marah. Ia hanya tersenyum. Senyum yang dulu ia gunakan saat teman-teman sekelas menertawakan sandal jepitnya yang sobek.

 

“Nenek saya bilang,” ucap Hujan perlahan, “puisi itu keberanian untuk berkata jujur ketika seluruh dunia memintamu diam. Kalian tertawa. Itu artinya kalian mendengar. Dan selama kalian mendengar, puisi masih hidup.”

 

Anak paling besar itu mengernyit. Lalu ia menghela napas.

 

“Aku Reno. Ini wilayah kami. Selama kamu tidak mencuri, tidak berisik, dan tidak bawa masalah, kamu boleh tidur di sini. Tapi besok pagi, kamu harus cari makan sendiri. Tidak ada yang berhutang apa pun padamu di kota ini.”

 

“Aku tahu,” kata Hujan. “Aku tidak datang ke sini untuk berhutang.”

 

Malam itu Hujan tidur di atas kardus. Bau sampah masih menusuk hidung. Di kejauhan, terdengar suara klakson mobil dan orang mabuk yang menyanyi dengan nada sumbang. Langit di atasnya tidak seperti langit desa. Tidak ada bintang. Hanya cahaya jingga dari lampu-lampu kota yang memantul ke awan rendah.

 

Hujan memejamkan mata. Tapi tidur tidak datang.

 

Ia ingat neneknya. Ia membayangkan neneknya sendirian di rumah bocor itu, mungkin terbangun tengah malam dan mencari-cari dirinya. Hujan menggigit bibir.

 

“Maafkan aku, Nek. Tapi aku harus menemukan ibuku. Bukan karena aku tidak sayang Nenek. Tapi karena kalau aku tidak mencari sekarang, aku takut tidak akan pernah berani.”

 

Air matanya jatuh ke kardus. Tanpa suara.

 

Tiba-tiba Jaya yang tidur di sampingnya bergerak.

 

“Kamu nangis?” bisik Jaya.

 

“Enggak.”

 

“Hidungmu meler.”

 

“Karena dingin.”

 

Jaya tidak mengejar. Tapi ia menggeser kardusnya sedikit lebih dekat. Sehingga bahu mereka bersentuhan. Hangat. Seperti kenalan lama yang tidak perlu banyak kata.

 

“Besok kita cari kerja ke pasar,” kata Jaya. “Angkut barang. Kadang dapat seribu, kadang dua ribu. Kalau lagi hoki, dapat makanan sisa dari pedagang.”

 

“Aku ikut.”

 

“Tapi kamu jangan baca puisi di sana nanti. Pedagang pasar tidak suka omong kosong.”

 

Hujan hampir tertawa. “Janji.”

 

Pagi datang tanpa permisi. Matahari tidak terlihat di balik gedung-gedung tinggi, tapi cahaya abu-abu mulai menyusup ke gang sempit itu. Hujan bangun dengan punggung sakit dan perut keroncongan. Ia belum makan sejak sebelum naik kereta.

 

Reno sudah bangun lebih dulu. Ia sedang membagi sepotong roti keras untuk enam orang.

 

“Ini jatah kalian,” katanya sambil menyobek roti itu dengan tangan. “Makan pelan-pelan. Kita tidak tahu kapan dapat lagi.”

 

Hujan menerima sobekan roti sebesar kepalan tangan anak kecil. Roti itu keras dan agak berbau apek. Tapi ia memakannya seperti menyantap hidangan di meja makan.

 

Nenek dulu bilang, ketika kau punya sedikit, jangan pernah makan dengan wajah sedih. Karena makanan akan merasa tidak dihargai.

 

Hujan tersenyum kecil mengingat itu. Lalu ia berdiri. Menepis debu dari celana pendeknya yang satu-satunya.

 

“Ayo,” katanya pada Jaya. “Kita cari kota ini.”

 

Pasar itu lebih ramai dan lebih kotor dari yang Hujan bayangkan. Bau ikan asin campur bumbu daging dan keringat puluhan orang menyatu jadi aroma yang khas—bukan harum, tapi terasa hidup. Pedagang berteriak-teriak menawarkan dagangan. Ibu-ibu menyenggol bahu Hujan tanpa permisi. Sepeda motor menerobos di antara lapak-lapak sempit.

 

Jaya menarik tangan Hujan ke sebuah kios sayur.

 

“Pak, kami bisa angkut sayur. Dua ribu saja, Pak.”

 

Pak Kios, laki-laki perut buncit dengan kumis tipis, melirik mereka. “Kamu yang baru itu?”

 

“Iya, Pak. Namanya Hujan.”

 

“Namanya hujan?” Pak Kios terkekeh. “Ya sudah. Angkut sayur ini ke mobil pickup di depan. Kalau rapi, aku kasih tiga ribu.”

 

Hujan dan Jaya bekerja tanpa banyak bicara. Karung sayur itu berat. Lebih berat dari apa yang Hujan bayangkan. Tapi ia tidak mengeluh. Ia hanya mengangkat, berjalan, menurunkan, lalu kembali lagi. Setelah dua puluh kali bolak-balik, bajunya basah oleh keringat. Tangannya lecet. Tapi ia tersenyum saat Pak Kios menyerahkan tiga lembar uang seribuan.

 

“Nah. Besok kalau mau, datang lagi.”

 

“Besok kami pasti datang, Pak,” kata Hujan cepat, sebelum Jaya sempat menjawab.

 

 

Di sore hari, mereka duduk di pinggir kali yang airnya hitam dan berbau. Tapi mereka tidak peduli. Mereka memegang uang masing-masing. Seribu untuk Hujan. Dua ribu untuk Jaya (karena Jaya yang kenal Pak Kios, katanya).

 

“Ini pertama kali aku bekerja,” kata Hujan sambil menatap uang kertas itu.

 

“Rasanya gimana?”

 

“Seperti... punya sesuatu yang tidak bisa diambil orang lain.”

 

Jaya mengangguk. “Ya. Itulah kenapa orang bertahan di kota ini. Bukan karena kotanya bagus. Tapi karena di sini, meskipun kecil, kau punya milikmu.”

 

Hujan menyelipkan uang seribu rupiah itu ke saku celananya. Lalu ia menengadahkan kepala. Di antara celah gedung-gedung tinggi, ia melihat secuil langit sore. Jingga. Sama seperti langit di desa.

 

“Jaya,” kata Hujan pelan.

 

“Apa?”

 

“Kamu pernah kehilangan seseorang?”

 

Jaya diam sejenak. “Ibuku. Meninggal.”

 

“Aku kehilangan ibuku juga. Tapi ia tidak meninggal. Ia pergi. Dan entah kenapa, itu lebih menyakitkan. Karena kalau ia meninggal, aku bisa berhenti berharap. Tapi kalau ia pergi... setiap kali melihat perempuan dengan postur mirip, hatiku berhenti sebentar.”

 

Jaya tidak menjawab. Tapi ia meletakkan tangannya di pundak Hujan.

 

Dan di sore itu, di tepi kali hitam yang bau, dua anak laki-laki yang kehilangan arah saling berjanji dalam diam:

 

Kita tidak akan berhenti mencari. Entah itu ibu, atau rumah, atau hanya alasan untuk tetap hidup.

 

Bersambung ke halaman 5...

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

▸ TAG TOPIK

#Daun Muda Halaman 4: Kota yang Tak Pernah Tidur

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

Mentan Arman Murka, Petani di Banggai Diduga Diminta Mahar Rp150 Juta demi Bantuan Kementan

Thumbnail

Viral Diduga Aksi Arogan Pria Berbaju Merah Bentak Wisatawan di Stasiun Gambir

Thumbnail

Ruben Onsu Buka Suara soal Betrand Peto yang Diduga Terlibat Kasus TPKS, Minta Publik Tak Berspekulasi

Thumbnail

Curhat Guru di Sleman, Korban Dugaan Keracunan MBG Mengaku Tanggung Pengobatan Sendiri

Thumbnail

Viral YouTuber Inggris Keluhkan Harga Nasi Goreng dan Bir Rp240 Ribu di Indonesia

Thumbnail

Dedi Mulyadi Berduka atas Kepergian Penyanyi Kanaya Whu: Surga Untukmu, Teh

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner