JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Dewan Ulama Iran yang bertugas memilih pemimpin tertinggi dilaporkan hampir mencapai kesepakatan mengenai pengganti Ali Khamenei. Anggota majelis menyatakan konsensus mayoritas telah terbentuk meski masih ada hambatan teknis sebelum pengumuman resmi.
Konsensus Mulai Terbentuk
Mohammadmehdi Mirbaqeri, anggota Assembly of Experts, mengungkapkan panel ulama pada dasarnya telah mencapai kesepakatan mayoritas. Pernyataan ini dikutip kantor berita Mehr News Agency pada Minggu (8/3/2026).
Dua anggota lain, Mohsen Heidari Alekasir dan Ahmad Alamolhoda, juga mengkonfirmasi majelis telah memilih penerus. Alamolhoda menegaskan pengumuman resmi akan disampaikan oleh kepala sekretariat majelis, Hashem Hosseini Bushehri.
Proses pemilihan berlangsung dalam situasi darurat setelah Khamenei tewas dalam serangan militer. Seorang ulama senior sebelumnya menyatakan para anggota akan bertemu "dalam satu hari" untuk menentukan pemimpin baru.
Hambatan Prosedural
Media Iran melaporkan muncul perbedaan kecil mengenai mekanisme pengumuman. Beberapa anggota memperdebatkan apakah keputusan harus diumumkan melalui pertemuan langsung atau cukup secara tertulis.
Heidari Alekasir dalam video Nournews menyatakan pertemuan langsung sulit dilakukan dalam situasi saat ini. "Ini situasi luar biasa. Majelis tidak bisa menggelar sidang pleno," ujarnya.
Ia menambahkan pertemuan fisik berisiko menjadi target serangan. Menurutnya, hal itu hanya akan menguntungkan musuh Iran dan merugikan revolusi.
Kandidat Utama Mengemuka
Nama Mojtaba Khamenei, putra almarhum pemimpin, muncul sebagai kandidat kuat. Heidari Alekasir menyebut kandidat terpilih memenuhi kriteria Khamenei sebelumnya: sosok yang "dibenci oleh musuh".
"Bahkan 'Setan Besar' (Amerika Serikat) pernah menyebut namanya," kata dia tanpa merinci lebih lanjut.
Mojtaba Khamenei berusia 56 tahun dan dikenal dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps. Selama bertahun-tahun, ia disebut sebagai calon penerus meski tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan resmi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai kandidat paling mungkin. Namun Trump menilai opsi tersebut tidak dapat diterima dan menyatakan ingin terlibat dalam proses pemilihan.
Kondisi Ketegangan Regional
Proses suksesi berlangsung di tengah eskalasi konflik regional. Sejak perang meletus 28 Februari, serangan Israel dan AS menewaskan puluhan pejabat Iran termasuk Khamenei.
Media Iran melaporkan serangan udara menghancurkan bangunan tambahan Assembly of Experts di Qom. Kondisi ini mempersulit pertemuan fisik para anggota dewan.
Ali Khamenei memimpin Iran sejak 1989 setelah sebelumnya menjabat presiden hampir delapan tahun. Kematiannya menandai akhir era kepemimpinan yang membentuk politik Iran selama beberapa dekade.
Pemilihan penerusnya akan menentukan arah kebijakan Iran di tengah ketegangan dengan Barat dan negara-negara regional. Hasil akhir diprediksi akan diumumkan dalam waktu dekat setelah hambatan prosedural terselesaikan.