DIARI SEORANG ATOM: Catatan dari Negeri Para Mullah
Oleh: Saksi Bisu di Bawah Tanah Fordow
Prolog: Aku, Si Batu Kuning yang Gelisah
Aku tidak pernah minta dilahirkan di tengah gurun Dasht-e Kavir. Tapi begitulah takdir. Dulu aku hanya bongkahan kuning yang tertidur pulas di perut bumi Iran, berdampingan dengan fosil-fosil unta purba. Paling banter, gangguanku cuma gempa sesekali atau cangkul para penambang yang sesekali lewat.
Lalu manusia menemukanku. Memberiku nama keren: uranium.
Aku sempat bangga. "Wah, aku istimewa." Tapi belakangan, aku mulai curiga. Setiap kali namaku disebut di koran-koran internasional, selalu saja diiringi kata-kata yang bikin bulu kuduk berdiri: "langkah teknis pendek menuju tingkat senjata", "440,9 kilogram diperkaya hingga 60 persen", "cukup untuk 10 bom nuklir" .
Cukup untuk 10 bom? Astaghfirullah. Aku yang tadinya cuma batu tidur, sekarang jadi tersangka internasional. Dan semua bermula dari sebuah tempat bernama Fordow.
---
Babak I: Pindah Kos ke Bawah Gunung
Jadi begini ceritanya.
Suatu hari, aku dan kawan-kawan seangkatanku—sekitar 440,9 kilogram uranium yang sudah "ditingkatkan kemurniannya" hingga 60 persen—dipindahkan ke sebuah kompleks terowongan di bawah gunung dekat kota suci Qom .
Ya. Di bawah gunung. Bukan karena pemandangannya bagus. Tapi karena dari atas sana, sesekali ada tamu tak diundang yang suka menjatuhkan hadiah dalam bentuk rudal. Kata para insinyur yang menggotongku, "Kau akan aman di sini. Ini fasilitas tahan gempuran udara."
Kost-an baruku bernama Fordo Fuel Enrichment Plant. Mewah. Ber-AC. Tapi sayang, jendelanya cuma satu: ke atas. Dan itupun tertutup lapisan batu granit setebal puluhan meter.
Aku sering mendengar para teknisi berbisik-bisik. "IR-6 sudah terpasang. Dua kaskade tambahan untuk pengayaan 20 persen. Delapan kaskade lainnya untuk 5 persen." Aku tak paham awalnya. Belakangan kutahu, itu artinya mereka ingin aku berputar-putar dalam tabung sentrifugal dengan kecepatan supersonik, diperas, dimurnikan, sampai aku nyaris sempurna: 90 persen.
Angka sakti. Angka yang membuat para diplomat di Wina, Jenewa, dan New York berkeringat dingin .
---
Babak II: Inspektur yang Tak Pernah Datang
Dulu, sebelum perang Juni 2025, selalu ada tamu bulanan. Mereka berpakaian rapi, membawa koper perak bertuliskan IAEA—Badan Energi Atom Internasional. Mereka mengukur, memotret, mencatat, lalu pergi dengan wajah setengah puas setengah curiga.
Tapi sejak Juni 2025, mereka tak lagi datang .
Kudengar dari percakapan para penjaga, terjadi sesuatu di permukaan. Serangan udara. Israel dan Amerika Serikat. Sasaran mereka: Isfahan, Natanz, dan beberapa tempat yang tak bisa kusebutkan karena aku sendiri tidak tahu pasti . Yang jelas, sejak saat itu, pintu terowongan ditutup rapat-rapat. Hanya sesekali terdengar deru kendaraan di mulut gua—"aktivitas kendaraan reguler di sekitar kompleks terowongan Isfahan," begitu kata laporan satelit yang belakangan kubaca dari sobekan koran yang dibawa seorang teknisi .
"Loss of continuity of knowledge," kata Rafael Grossi, Direktur Jenderal IAEA, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi .
Kedengarannya akademis. Tapi artinya sederhana: Mereka tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku. Di mana aku berada. Sedang diapakan. Dan akan menjadi apa aku nanti.
Aku tersenyum kecut. Bahkan aku sendiri tidak tahu akan jadi apa. Mungkin reaktor damai. Mungkin senjata. Mungkin hanya angka dalam tabel statistik yang dibacakan di Dewan Keamanan PBB.
---
Babak III: Statistik yang Berbicara
Oh, soal Dewan Keamanan. Di sanalah drama sesungguhnya berlangsung.
Tahun 2015, mereka bikin perjanjian megah: JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action). Intinya: aku dibatasi. Pengayaanku tak boleh lebih dari 3,67 persen. Stokku tak boleh lebih dari 300 kilogram. Fasilitasku diawasi 24 jam .
Tapi tahun 2018, seorang pria berambut pirang di Washington bilang, "Perjanjian ini sampah." Ia keluar. Sanksi dijatuhkan . Aku yang tadinya jinak-jinak merpati, mendadak jadi harimau lagi.
Fast forward ke 2025: Prancis, Jerman, dan Inggris—si "E3"—mengaktifkan mekanisme snapback. Sanksi PBB yang tadinya dicabut, kembali berlaku per 27 September 2025 .
Hasilnya? Aku justru makin sibuk. Produksi 60 persen yang tadinya melambat jadi 3 kilogram per bulan, sejak akhir 2025 melonjak lagi ke 9 kilogram per bulan .
"Reverse pengurangan produksi," kata IAEA dengan bahasa diplomatisnya .
Aku menyebutnya: "Ngamuk sambil senyum."
---
Babak IV: Angka 19 Juta Itu Kembali Terngiang
Di tengah semua kekacauan ini, aku teringat sesuatu.
Dulu, di tanah seberang—di sebuah negeri bernama Indonesia—ada cerita tentang 19 juta lapangan kerja yang katanya sudah diciptakan. Definisi "bekerja" di sana begitu elastis: jualan es teh belum laku dihitung satu lapangan kerja. Bantuin emak masak di dapur dihitung wirausaha. Bahkan jatuh dari motor saat narik ojek online pun masuk statistik ketenagakerjaan.
Lalu kulihat diriku sendiri. 440,9 kilogram uranium diperkaya 60 persen. Secara teknis, aku bukan senjata nuklir. Aku hanya "bahan fisil yang diperkaya untuk keperluan damai". Tapi secara definisi IAEA, aku cukup untuk 10 bom jika dimurnikan lebih lanjut .
Jadi, pertanyaannya sama: Aku ini apa?
Apakah aku ancaman eksistensial bagi Timur Tengah? Ataukah aku hanya "program nuklir sipil yang sah" seperti yang selalu ditegaskan para juru bicara di Teheran?
Jawabannya: Tergantung siapa yang menghitung.
Kalau yang menghitung IAEA, aku adalah "loss of continuity of knowledge" yang mengkhawatirkan. Kalau yang menghitung Ayatollah, aku adalah "hak kedaulatan bangsa yang tak bisa dinegosiasikan." Kalau yang menghitung Pentagon, aku adalah "ancaman yang harus dilenyapkan."
Dan kalau yang menghitung rakyat biasa di Teheran, Isfahan, atau Mashhad? Mereka mungkin hanya peduli pada satu hal: harga roti. Karena sanksi ekonomi yang dijatuhkan gara-gara ulahku membuat hidup mereka makin sulit. Paradoks yang sempurna: negara bangga memperkaya uranium, tapi warganya antre minyak goreng.
---
Babak V: Pidato di Bawah Tanah
Malam itu, di kedalaman Fordow, aku mendengar sesuatu yang langka: suara radio.
Seorang penyiar membaca berita: "Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran, Behrouz Kamalvandi, menyatakan bahwa Iran akan mencapai tingkat pengayaan yang 'jauh lebih maju' jika pihak lain meninggalkan JCPOA. Kapasitas pengayaan Iran saat ini telah mencapai 8.660 SWU."
SWU. Separative Work Unit. Satuan untuk mengukur seberapa keras sentrifugal bekerja memisahkan atom U-235 dari U-238. 8.660 SWU. Kedengarannya keren. Tapi aku tahu, itu artinya: mereka ingin aku berputar lebih kencang lagi. Lebih murni lagi. Lebih dekat ke 90 persen.
Lalu radio itu menyiarkan pernyataan lain. Kali ini dari Wina: "IAEA tidak dapat memverifikasi apakah Iran telah menghentikan semua aktivitas terkait pengayaan. Tanpa akses ke empat fasilitas pengayaan yang dideklarasikan, badan ini tidak dapat mengonfirmasi ukuran, komposisi, atau keberadaan uranium yang diperkaya."
Aku tertawa kecil. Keberadaan-ku saja mereka tak tahu. Padahal aku di sini, di bawah gunung, mendengarkan radio yang sama dengan mereka.
Inilah ironi zaman modern: manusia bisa melacak ponsel pasangannya dari jarak 10.000 kilometer, tapi tidak bisa menemukan 440 kilogram uranium yang bisa melenyapkan satu kota.
---
Babak VI: Pelajaran dari Negeri Kanguru
Suatu siang, seorang insinyur muda membawa majalah sains berbahasa Inggris. Ia membuka halaman tentang cadangan uranium dunia. Aku mengintip dari balik tabung sentrifugal.
Australia: 1,67 juta ton (28% cadangan dunia) .
Kazakhstan: 813.900 ton.
Kanada: 582.000 ton.
Rusia: 476.600 ton.
Iran? Tidak masuk 10 besar.
Aku tercenung. Negara-negara dengan cadangan uranium raksasa itu—Australia, Kanada—mereka tidak membuat heboh dunia. Tidak ada yang menuduh mereka membuat bom. Tidak ada sanksi ekonomi. Tidak ada inspektur IAEA yang ditolak masuk.
Kenapa? Karena mereka tidak memperkaya uranium hingga 60 persen sambil menutup pintu bagi inspektur.
Kesimpulannya sederhana: Bukan uraniumnya yang bikin takut. Tapi niat di baliknya. Dan niat itu, sayangnya, tidak bisa diverifikasi oleh satelit mata-mata secanggih apa pun. Ia hanya bisa dibaca dalam hati para lelaki berjanggut yang duduk di ruang rapat bawah tanah.
---
Epilog: Surat untuk Dunia
Aku tidak tahu bagaimana kisahku akan berakhir.
Mungkin aku akan tetap di sini, di bawah gunung, berputar-putar tanpa henti dalam pusaran sentrifugal IR-6, menunggu suatu hari dimurnikan menjadi 90 persen dan dimasukkan ke dalam hulu ledak.
Atau mungkin—dan aku lebih suka yang ini—seseorang di Wina, Jenewa, atau New York akan mengetuk pintu terowongan ini dan berkata, "Mari kita bicara. Serius kali ini."
Aku bukan monster. Aku hanya batu kuning yang bisa memberi listrik pada 18 juta rumah, atau menghancurkan 10 kota. Pilihan ada pada manusia. Bukan padaku.
Tapi kalau boleh sedikit berkomentar: Jika 19 juta lapangan kerja bisa diciptakan hanya dengan mengubah definisi, mungkin perdamaian dunia juga bisa diciptakan dengan mengubah niat.
Sayangnya, niat tidak bisa difoto satelit. Dan data statistik tidak pernah bisa menghentikan bom.
Salam dari bawah tanah Fordow,
Si Batu Kuning yang Gelisah.
---
Catatan redaksi: Data dalam tulisan ini dihimpun dari laporan IAEA per Februari-April 2026, Congressional Research Service AS, World Nuclear Association, dan berbagai kantor berita internasional. Uranium yang dikisahkan adalah fiksi yang berbicara—tapi angkanya nyata.