Di tengah sidang National People's Congress, Beijing meluncurkan dokumen setebal 141 halaman yang mengguncang analis di Washington. Cetak biru ini bukan laporan biasa, melainkan peta jalan menuju dominasi teknologi global, dengan China sebagai penguasa tunggal. Dokumen tersebut menegaskan ambisi besar negara itu dalam menguasai masa depan teknologi dunia.
Kecerdasan buatan atau AI disebut lebih dari 50 kali dalam naskah, menandainya sebagai napas baru ekonomi China. Program AI+ Action Plan menjadi motor penggerak, mencakup robot pengganti tenaga manusia hingga agen digital yang bekerja mandiri. Ini adalah langkah strategis untuk menyentuh semua sektor, dari pabrik hingga rumah sakit.
Strategi AI China yang Menyeluruh
Kyle Chan dari Brookings Institution melihat ini sebagai strategi jitu Beijing. AI dan robotika dirancang untuk merambah semua lini kehidupan dan industri. Tujuannya bukan lagi mengejar ketertinggalan, tetapi menciptakan standar baru yang akan dipatuhi dunia.
Program AI+ Action Plan
Program ambisius ini menjadi tulang punggung rencana teknologi China. Robotika dan agen digital akan mengurangi ketergantungan pada tenaga manusia, meningkatkan efisiensi secara drastis. Implementasinya diharapkan membawa transformasi besar dalam ekonomi dan masyarakat.
Target Teknologi Masa Depan Lainnya
Ambisi China tidak berhenti pada AI saja. Dokumen itu juga menargetkan penguasaan komputasi kuantum, jaringan 6G, dan embodied AI untuk robot humanoid. Perdana Menteri Li Qiang menyebutnya "kekuatan produktif berkualitas baru", menegaskan teknologi sebagai prioritas mutlak.
Komputasi Kuantum dan 6G
Komputasi kuantum diharapkan memberikan kecepatan super untuk pemrosesan data kompleks. Sementara jaringan 6G akan menjadi tulang punggung konektivitas masa depan, mendukung berbagai aplikasi canggih. Keduanya menjadi bagian integral dari visi teknologi China.
Respons Terhadap Perang Teknologi dengan AS
Semua gerakan ini adalah respons langsung atas persaingan teknologi dengan Amerika Serikat. China yang selama ini bergantung pada chip AS, kini berusaha mandiri. AS membatasi ekspor chip canggih, sementara China membalas dengan membatasi ekspor logam tanah jarang.
Strategi Open-Source sebagai Senjata
China memilih jalan open-source sebagai keunggulan kompetitif utama. Tilly Zhang dari Gavekal Dragonomics menilai ini langkah cerdas yang dipelajari dari persaingan sebelumnya. Dengan open-source, China tidak hanya membangun untuk diri sendiri, tetapi mengajak dunia berkolaborasi.
Strategi open-source membuat tawaran China sulit ditolak dan lebih sulit dilawan. Ini adalah pendekatan inklusif yang berpotensi mengubah dinamika persaingan teknologi global. China berusaha menjadi pemimpin dengan mengajak semua pihak bergabung.