JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Iran memiliki persediaan drone yang cukup untuk mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz selama berbulan-bulan. Ancaman ini memicu lonjakan harga minyak dan gas alam global setelah serangan terhadap enam kapal di jalur vital tersebut.
Intelijen dan analis militer mengungkapkan hal ini di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Sejak Sabtu lalu, Teheran telah meluncurkan ratusan rudal dan lebih dari 1.000 drone ke negara-negara Teluk sekutu Washington.
Kapasitas Militer Iran
Centre for Information Resilience (CIR) memperkirakan kapasitas produksi drone Iran mencapai 10.000 unit per bulan. Negara ini dikenal sebagai produsen drone utama di kawasan.
Drone generasi terbaru Shahed-136 memiliki jangkauan 700–1.000 kilometer. Jangkauan ini cukup untuk menjangkau seluruh pesisir selatan Teluk dari daratan atau kapal Iran.
Sebanyak 65 drone berhasil menembus pertahanan udara Uni Emirat Arab sejak konflik pecah. Beberapa di antaranya menghantam pusat data Amazon, Bandara Internasional Dubai, dan hotel Fairmont.
Stok Rudal yang Diperdebatkan
Militer Israel memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal. Analis lain menyebut angka ini bisa mencapai 6.000 unit.
Stok rudal strategis Iran menjadi titik lemah. Rusia dinilai sulit memasok ulang karena tekanan perang di Ukraina. China juga berhati-hati agar tidak merusak hubungan dengan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk.
Persediaan rudal sebelumnya berkurang karena dipasok ke Hizbullah di Lebanon dan kelompok Houthi di Yaman. Jumlah peluncur rudal juga menyusut setidaknya setengahnya dalam setahun terakhir akibat serangan Israel dan AS.
Dampak pada Pasar Energi
Selat Hormuz merupakan jalur sempit antara Iran dan Oman. Sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati selat ini.
Aktivitas pelayaran di jalur vital tersebut nyaris terhenti setelah serangan terhadap enam kapal. Lonjakan harga energi pun tak terhindarkan.
Harga minyak Brent naik sekitar 12% pekan ini. Harga gas alam acuan Eropa bahkan melonjak sekitar 50%. Pelaku pasar energi bersiap menghadapi potensi lonjakan harga lanjutan.
Opsi Militer Lainnya
Jika stok rudal dan drone mulai menipis, Iran masih memiliki opsi menggunakan ranjau laut. Dryad Global memperkirakan Iran memiliki 5.000 hingga 6.000 ranjau laut.
Ranjau tersebut dapat dipasang di dasar laut, digerakkan roket, atau dibiarkan hanyut. Hingga kini belum ada indikasi ranjau telah ditebar di Selat Hormuz.
Analis memperingatkan proses pembersihan ranjau laut bisa memakan waktu lama. Gangguan pelayaran berpotensi berlangsung selama berbulan-bulan jika opsi ini digunakan.
Durasi konflik akan sangat ditentukan oleh ketersediaan persenjataan Iran. Meski menghadapi tekanan internasional, kemampuan produksi drone tetap menjadi ancaman serius bagi stabilitas pasokan energi global.