JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Dukungan publik Amerika Serikat terhadap perang Iran anjlok ke level terendah, dengan hanya 35% warga yang menyetujui opsi militer Presiden Donald Trump. Survei Reuters/Ipsos yang dirilis Rabu (25/3/2026) menunjukkan penurunan signifikan dari 37% pekan sebelumnya, mencerminkan perubahan drastis pandangan masyarakat AS terhadap keterlibatan militer.
- Survei Terbaru Ungkap Tren Penurunan
- Tiga Faktor Kunci Penurunan Dukungan
- Dukungan Trump Anjlok Secara Keseluruhan
- Konteks Historis Dukungan Perang AS
Survei Terbaru Ungkap Tren Penurunan
Survei nasional melibatkan 1.272 responden dewasa di AS dengan margin of error 3 poin persentase. Hasilnya mengejutkan: 61% warga Amerika tidak menyetujui serangan terhadap Iran, naik dari 59% pekan sebelumnya.
Hanya 26% responden menilai perang akan membuat AS lebih aman. Sebaliknya, 46% meyakini konflik justru mengurangi keamanan negara dalam jangka panjang.
Perubahan Metodologi Survei
Survei terbaru menghilangkan opsi ketidakpastian yang sebelumnya tersedia. Pada survei 28 Februari-1 Maret, 29% responden menyatakan ragu-ragu terhadap perang.
"Perubahan metodologi ini menunjukkan publik semakin yakin dengan posisi mereka," kata analis politik yang enggan disebutkan namanya.
Tiga Faktor Kunci Penurunan Dukungan
Penurunan dukungan publik terhadap perang Iran dipengaruhi beberapa faktor mendasar:
- Tujuan Perang Tidak Jelas
Publik kesulitan memahami alasan intervensi militer. Iran tidak dianggap sebagai ancaman langsung sebelum wacana serangan muncul, berbeda dengan Perang Dunia II yang memiliki justifikasi kuat. - Ketidakjelasan Akhir Konflik
Ambiguitas mengenai durasi dan indikator keberhasilan perang mengurangi kepercayaan publik. Tanpa parameter jelas, masyarakat sulit menilai apakah risiko sepadan dengan biaya. - Prioritas Ekonomi Domestik
Isu biaya hidup dan tekanan ekonomi sehari-hari lebih mendesak bagi warga AS. Kenaikan harga bahan bakar pasca serangan 28 Februari memperburuk persepsi publik.
Dukungan Trump Anjlok Secara Keseluruhan
Approval rating Presiden Trump merosot ke 36%, terendah sejak kembali menjabat. Survei empat hari hingga Senin menunjukkan penurunan dari 40% pekan sebelumnya.
Kinerja Ekonomi Dipertanyakan
Hanya 25% responden puas dengan penanganan Trump terhadap biaya hidup. Tingkat persetujuan kebijakan ekonominya mencapai 29%, lebih rendah dari pendahulunya Joe Biden.
"Penting bagi masyarakat untuk mengetahui bahwa presiden merasakan penderitaan mereka," ujar Amanda Makki, ahli strategi Partai Republik.
Persepsi Kondisi Ekonomi
Sebanyak 63% warga AS menilai ekonomi "agak lemah" atau "sangat lemah". Angka ini mencakup 40% pemilih Republik, 66% independen, dan 84% Demokrat.
Konteks Historis Dukungan Perang AS
Dukungan publik terhadap perang menunjukkan tren penurunan panjang selama beberapa dekade. Pada Perang Dunia II, tingkat dukungan mencapai 97%, mencerminkan konsensus nasional yang solid.
Pola Dukungan Sementara
Dukungan bisa melonjak saat krisis besar. Pasca Serangan 11 September, perang Afghanistan mendapat dukungan 92%. Perang Irak 2003 meraih 76% dukungan awal.
Namun dukungan ini tidak bertahan lama. Konflik berlarut membuat opini publik berbalik, menunjukkan sifat sementara dukungan militer.
Perubahan Paradigma
Masyarakat AS modern lebih skeptis terhadap intervensi militer. Persepsi ancaman langsung tetap menjadi faktor pendorong, tetapi efeknya cepat memudar.
Survei The New York Times mencatat dukungan terhadap konflik Iran hanya 41%, salah satu yang terendah dalam sejarah perang AS.
Perkembangan terbaru menunjukkan ketegangan terus berlanjut. Iran membantah klaim Trump bahwa negosiasi sedang berlangsung, sementara Washington dikabarkan akan mengirim ribuan tentara tambahan ke Timur Tengah. Situasi ini menguji tidak hanya strategi militer AS, tetapi juga kesabaran publik yang semakin kritis terhadap kebijakan luar negeri pemerintah mereka.