JAVASCORNER.CO.ID, BOGOR - Lima perempuan paruh baya duduk berjejer di trotoar Jembatan Layang Pakuan, Kota Bogor, Rabu (4/3/2026). Mereka hanya muncul saat bulan Ramadhan, menggelar spanduk bekas bertuliskan "Berbagi Kebaikan" sebagai alas. Emi (70), salah satu dari mereka, mengaku datang bukan semata-mata untuk meminta sedekah.
- Fenomena Unik Pengemis Musiman
- Motivasi Tersembunyi di Balik Tradisi
- Realita Sedekah di Jalanan
- Dampak Sosial dan Harapan
Fenomena Unik Pengemis Musiman
Jembatan Layang Pakuan menjadi titik berkumpulnya pengemis musiman setiap Ramadhan. Mereka datang menjelang siang dan bertahan hingga waktu berbuka. Kelompok ini terdiri dari warga sekitar seperti Emi dari Ciheleut.
Mereka duduk bersandar pada dinding pembatas berwarna hijau. Karung plastik besar dan sandal sederhana tergeletak di sekitarnya. Aktivitas utama mereka hanya menunggu sambil berbincang.
Motivasi Tersembunyi di Balik Tradisi
"Kalau bulan Ramadhan aja, kalau hari biasa enggak," ujar Emi. Ia mengungkapkan alasan personal di balik rutinitas tahunan ini. Kesepian di rumah menjadi faktor pendorong utama.
Emi merasa waktu terasa lebih lama ketika sendirian di rumah. Berkumpul dengan teman-teman membuatnya lebih nyaman. Mereka mengobrol sambil menunggu waktu berbuka puasa.
"Daripada di rumah mending di sini kumpul. Kalau di rumah duduk aja gitu, kalau di sini ngobrol," tambahnya. Interaksi sosial ini memberikan makna berbeda dibanding sekadar mencari rezeki.
Realita Sedekah di Jalanan
Meski Ramadhan identik dengan kemurahan hati, sedekah tidak selalu datang setiap hari. Kadang mereka pulang hanya dengan sedikit makanan atau bahkan tangan kosong. Pembagian yang tidak merata sering memicu persaingan.
"Kadang-kadang ada. Kadang kosong, paling ada yang ngasih makanan cuma satu," cerita Emi. Pemberian biasanya berupa takjil, makanan, atau amplop berisi uang.
Emi pernah menerima amplop berisi Rp100.000. Namun, momen seperti itu jarang terjadi. Kebanyakan pemberian bernilai kecil dan harus dibagi dengan banyak orang.
Dampak Sosial dan Harapan
Fenomena pengemis musiman mencerminkan kompleksitas masalah sosial di perkotaan. Tradisi tahunan ini menunjukkan bagaimana masyarakat mencari cara berbeda mengisi waktu selama bulan suci.
Bagi Emi dan teman-temannya, Ramadhan menjadi momen untuk keluar dari rutinitas kesepian. Mereka menemukan arti kebersamaan di tengah hiruk-pikuk kota Bogor.
Kehadiran mereka mengingatkan pentingnya memperhatikan aspek psikologis di balik fenomena sosial. Bukan sekadar masalah ekonomi, tetapi juga kebutuhan akan interaksi dan pengakuan.
Masyarakat Bogor diharapkan dapat memahami dinamika ini dengan lebih empati. Setiap tradisi memiliki cerita unik yang patut didengarkan, terutama di bulan penuh berkah seperti Ramadhan.