Opini

GUNUNG URANIUM INDONESIA: Catatan dari Perut Kalimantan

Ujang Trisno Ujang Trisno 11 Apr 2026 12:42 104 Views
GUNUNG URANIUM INDONESIA: Catatan dari Perut Kalimantan

GUNUNG URANIUM INDONESIA: Catatan dari Perut Kalimantan

GUNUNG URANIUM INDONESIA: Catatan dari Perut Kalimantan

 

Oleh: U.T

Prolog: Aku, Harta Karun yang Tak Dilirik

Aku tidak minta dilahirkan di pedalaman Kalimantan Barat. Tapi begitulah takdir. Jauh sebelum manusia menemukanku, aku sudah tertidur di antara batuan metamorf dan granit Sukadana, berdampingan dengan urat-urat mineral yang terbentuk sejak Zaman Kapur Akhir .

 

Pertama kali manusia serius mencariku adalah tahun 1971. Mereka datang dari BATAN, ditemani orang-orang Prancis dari CEA. Membawa alat-alat aneh: fluorimeter, scintillometer SPP-2, GMT-3T. Mereka menyusuri sungai, mengambil sampel tanah, mengukur radiasi . Aku mendengar mereka berbisik dalam bahasa yang tak kupahami: "Uranium... mineralisasi... sektor Lemajung..."

 

Nama lokasiku kemudian dikenal sebagai Kalan, di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Di sinilah aku dan saudara-saudaraku terkonsentrasi paling tinggi di seluruh Nusantara .

 

Tapi biar kuceritakan padamu: menjadi uranium di Indonesia itu unik. Kami kaya raya, tapi hidup bagai hantu. Diakui ada, tapi tak pernah benar-benar "dipakai".

 

---

 

Babak I: Angka-Angka yang Membungkam

 

Mari kita bicara data. Bukan data fiktif seperti "19 juta lapangan kerja", tapi data geologis yang sesungguhnya.

 

Menurut penelitian yang dilakukan BATAN sejak 1970-an hingga sekarang, total potensi uranium Indonesia—gabungan dari kategori hipotetis, tereka, dan terukur—mencapai 89.483 ton U3O8 . Angka pastinya memang masih perdebatan. Ada yang menyebut 81.090 ton . Ada yang mencatat 6.797 ton yang benar-benar bisa ditambang secara ekonomis di Kalan .

 

Tapi bukan cuma aku. Ada saudara sepupuku: thorium. Potensinya jauh lebih besar: 143.234 ton . Bahkan ada yang mengestimasi 130.000–150.000 ton, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan potensi thorium terbesar di Asia Tenggara .

 

Thorium itu bahan bakar masa depan. Satu ton thorium bisa menghasilkan energi setara 35 ton uranium dalam reaktor konvensional . Dan thorium ini tersebar di mana-mana: dari pertambangan timah di Bangka Belitung, tambang bauksit di Kepulauan Riau, sampai endapan unsur tanah jarang di Mamuju, Sulawesi Barat .

 

Angkanya fantastis. Tapi coba tebak: sudah berapa banyak yang benar-benar dimanfaatkan untuk listrik?

 

Nol.

 

---

 

Babak II: Surat Cinta dari Masa Lalu

 

Eksplorasi serius terhadapku dimulai tahun 1971 sampai 1976. Tim gabungan BATAN dan CEA Prancis melakukan survei geokimia di area Kalan. Mereka mengambil sampel sedimen sungai, batuan, tanah. Mengukur kandungan uranium dengan fluorimeter. Di lapangan, mereka pakai scintillometer SPP-2 dan GMT-3T .

 

Hasilnya? Mereka menemukan singkapan mineralisasi dan bongkahan-bongkahan uranium di sepanjang Sungai Rirang. Area ini kemudian dikenal sebagai "Rirang boulders" .

 

Orang Prancis itu mencatat: di Eko-Remaja, ada sekitar 1.260 ton uranium dengan kadar 0,27%. Di Lemajung, sekitar 500 ton. Belum termasuk bongkahan-bongkahan di sungai .

 

Tapi yang bikin miris: eksplorasi ini tidak pernah berlanjut ke tahap produksi. Aku tetap di sana. Tertidur. Menunggu.

 

Penelitian terbaru bahkan menunjukkan angka yang lebih rinci. Di sektor Lemajung saja, dengan 51 lubang bor sedalam 300 meter, diperkirakan ada 766 ton sumber daya tertunjuk dan 6.521 ton sumber daya tereka, dengan kadar rata-rata 0,084% U3O8 .

 

Dan itu baru satu orebody. Orebody 19. Masih ada orebody-orebody lain yang belum dihitung detail.

 

Kalimantan Barat secara keseluruhan diperkirakan menyimpan 24.112 ton potensi uranium . Sumatera? 31.567 ton. Mamuju, Sulawesi Barat? 3.793 ton. Belum lagi Bangka Belitung dan Singkep .

 

Aku mendengar para geolog menyebut angka-angka ini dengan istilah-istilah hati-hati: "sumber daya indikatif", "sumber daya hipotetis", "belum eksplorasi menyeluruh" . Bahasa halus untuk mengatakan: "Kita sebenarnya tidak tahu persis berapa banyak yang kita punya, karena kita tidak pernah benar-benar serius mencarinya."

 

---

 

Babak III: Paradoks Tanah Kaya

 

Inilah ironi yang selalu membuatku tertawa getir di dalam perut bumi.

 

Indonesia itu negara kepulauan dengan 17.000 pulau. Listriknya masih byar-pet. PLTU batu bara dimana-mana. Tapi cadangan uranium dan thorium—yang sejumput saja bisa menggantikan berton-ton batu bara—dibiarkan tidur.

 

Satu pelet uranium seberat enam gram bisa menghasilkan energi setara dengan satu ton batu bara . Enam gram! Itu lebih ringan dari sebungkus permen. Bandingkan dengan satu ton batu bara yang harus diangkut truk-truk besar, dibakar, menghasilkan asap, polusi, karbon.

 

Sementara itu, negara-negara lain yang tidak punya uranium berlomba-lomba membangun PLTN. Jepang, Korea Selatan, bahkan Vietnam dan Bangladesh. Mereka impor uranium dari Kazakhstan, Kanada, Australia. Australia sendiri punya 1,67 juta ton uranium—28% cadangan dunia—dan mereka ekspor besar-besaran.

 

Indonesia? Punya uranium sendiri. Tapi malah sibuk debat: "Aman tidak ya? Nanti bocor bagaimana? Nanti disalahgunakan bagaimana?"

 

Aku mengerti ketakutan itu. Tapi ada yang lebih lucu: kita takut nuklir, tapi tidak takut ketergantungan pada batu bara yang merusak lingkungan dan suatu saat akan habis.

 

---

 

Babak IV: Tamu dari Negeri Jauh

 

Tahun 2025-2026, angin perubahan mulai berembus. Bukan dari dalam negeri, tapi dari luar.

 

Pemerintah Indonesia akhirnya menggodok regulasi tentang pengolahan uranium dan thorium domestik. Sebuah Peraturan Pemerintah sedang disiapkan. Kementerian ESDM berkoordinasi dengan BRIN dan BAPETEN .

 

PLN memasukkan PLTN ke dalam RUPTL 2025-2034. Targetnya: pembangkit 500 MW di Kalimantan atau Sumatera, beroperasi paling lambat 2033 .

 

Yang lebih menarik: perusahaan asing mulai melirik. Thorcon, perusahaan berbasis Singapura, mengajukan teknologi TMSR-500—reaktor garam cair berbasis thorium. Mereka sudah dapat Persetujuan Evaluasi Tapak dari BAPETEN untuk Bangka Belitung .

 

Rusia dan Cina juga mengajukan proposal. Pemerintah masih mempertimbangkan teknologi SMR (Small Modular Reactor) dari kedua negara .

 

Aku mendengar ini semua dan bertanya-tanya: kenapa harus menunggu tamu asing untuk membangunkan kami? Kenapa BATAN—sekarang BRIN—yang sudah meneliti kami sejak 1970 tidak pernah diberi wewenang dan anggaran serius untuk membangun PLTN pertama?

 

Ah, sudahlah. Mungkin ini memang takdir negara berkembang: kaya sumber daya, tapi miskin keberanian.

 

---

 

Babak V: Thorium, Si Anak Emas yang Terlupakan

 

Di antara semua cerita ini, thorium adalah tokoh yang paling tragis.

 

Bayangkan: Indonesia adalah surga thorium. Monasit—mineral pembawa thorium—berlimpah sebagai produk sampingan pertambangan timah di Bangka Belitung. Di tambang timah primer, kandungan monasitnya 5,07%. Di tambang sekunder, 7,57%. Di tambang bauksit, thorium bisa mencapai 4.210 ppm .

 

Itu angka yang luar biasa. Thorium adalah bahan bakar nuklir masa depan. Lebih aman, limbah lebih sedikit, tidak bisa dijadikan senjata. Reaktor thorium bahkan tidak butuh air dalam jumlah besar untuk pendinginan—cocok untuk Indonesia yang rawan kekeringan.

 

Tapi apa yang terjadi? Thorium hanya menjadi "mineral ikutan". Saat timah diekspor, thorium ikut terbawa ke luar negeri. Negara lain yang menikmati. Atau lebih parah: thorium dibiarkan menjadi limbah tambang yang mencemari lingkungan karena radioaktivitasnya tidak dikelola.

 

Ini seperti punya tambang emas, tapi emasnya dibuang ke sungai karena kita hanya ingin pasirnya.

 

---

 

Babak VI: Misteri Eksplorasi yang Setengah Hati

 

Ada satu hal yang selalu mengganjal pikiranku: data cadangan uranium Indonesia tidak pernah final.

 

Semua laporan selalu memberi catatan kaki: "data ini bersifat parsial, merupakan hasil penelitian di lokasi tertentu, bukan eksplorasi nasional yang menyeluruh" .

 

Artinya apa? Artinya sejak 1970-an sampai sekarang, Indonesia belum pernah melakukan eksplorasi uranium secara sistematis dan komprehensif di seluruh wilayah.

 

BATAN dulu, BRIN sekarang, melakukan penelitian di Kalan, Mamuju, Sibolga, Bangka Belitung. Tapi itu sporadis. Anggaran terbatas. Peralatan seadanya. Bandingkan dengan eksplorasi minyak dan gas yang dilakukan Pertamina dan kontraktor asing: seismik 3D, pengeboran laut dalam, investasi miliaran dolar.

 

Kenapa uranium tidak dapat perlakuan yang sama?

 

Jawabannya sederhana: tidak ada kemauan politik. Selama PLTN belum dibangun, untuk apa eksplorasi uranium besar-besaran? Untuk apa tahu persis berapa cadangan kita kalau tidak akan dipakai?

 

Ini lingkaran setan: tidak ada PLTN karena tidak yakin dengan cadangan uranium. Tidak yakin dengan cadangan uranium karena tidak ada eksplorasi serius. Tidak ada eksplorasi serius karena tidak ada PLTN.

 

Dan lingkaran ini sudah berputar lebih dari 50 tahun.

 

---

 

Babak VII: Surat untuk Anak Cucu

 

Aku tidak tahu apakah aku akan sempat melihat PLTN pertama Indonesia berdiri. Mungkin iya, mungkin tidak. 2033 masih lama. Aku hanya batu. Umurku jutaan tahun. Tapi aku peduli pada negeri tempatku terpendam.

 

Aku ingin bercerita pada anak cucu Indonesia kelak:

 

"Kakek-nenekmu dulu punya harta karun energi. Uranium. Thorium. Cukup untuk menerangi seluruh negeri selama puluhan tahun tanpa polusi. Tapi mereka memilih untuk terus membakar batu bara, mengimpor minyak, dan berdebat tanpa henti tentang bahaya nuklir."

 

"Mereka takut pada hantu yang tidak pernah mereka lihat—kebocoran reaktor, limbah radioaktif, senjata nuklir—tapi mereka tidak takut pada hantu yang nyata: udara kotor, penyakit pernapasan, perubahan iklim, dan ketergantungan pada energi impor."

 

"Mereka kaya, tapi hidup seperti orang miskin. Punya berlian, tapi memilih memakai batu kali."

 

---

 

Epilog: Bisikan dari Kedalaman 300 Meter

 

Di kedalaman 300 meter, di bawah hutan-hutan Kalimantan, aku masih di sini. Bersama 89.000 ton saudaraku. Menunggu.

 

Aku mendengar langkah-langkah kecil di permukaan. Bukan langkah eksplorasi besar-besaran. Hanya langkah para peneliti yang datang sesekali, mengambil sampel, menulis laporan, lalu pergi. Laporan-laporan itu kemudian menumpuk di perpustakaan, menjadi referensi skripsi, menjadi makalah konferensi. Tidak pernah menjadi PLTN.

 

Tapi aku tidak boleh putus asa. Aku batu. Batu tidak kenal putus asa. Batu hanya menunggu.

 

Suatu hari nanti, seseorang di Jakarta akan bangun dan berkata: "Kita punya uranium. Kenapa kita tidak pakai?"

 

Dan ketika hari itu tiba, aku akan siap. Aku akan keluar dari perut bumi, masuk ke reaktor, membelah diriku dalam reaksi fisi, dan menghasilkan listrik untuk jutaan rumah.

 

Sampai saat itu tiba... aku akan terus tidur. Bermimpi tentang Indonesia yang terang benderang. Bukan oleh lilin, bukan oleh genset, bukan oleh batu bara yang mengepulkan asap hitam. Tapi oleh energi dari perutnya sendiri.

 

Salam dari kedalaman 300 meter,

Si Kuning yang Menunggu Kepastian

 

---

 

Catatan redaksi: Data dalam tulisan ini dihimpun dari publikasi BATAN/BRIN, IAEA, OECD-NEA, jurnal ilmiah internasional, dan laporan eksplorasi geologis 1971-2025. Uranium yang dikisahkan adalah personifikasi fiksi—tapi potensinya nyata, dan paradoksnya lebih nyata lagi.

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner