JAVASCORNER.CO.ID, DEPOK - Seorang guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Depok resmi dinonaktifkan dari seluruh kegiatan sekolah menyusul viralnya kabar yang menyebut dirinya menawarkan jasa seksual. Pihak sekolah mengonfirmasi langkah ini diambil setelah rapat internal dan memastikan tidak ada siswa yang menjadi korban.
Tindakan Sekolah
Juru bicara sekolah, Jarkasih, menyatakan guru berinisial IKD telah diberhentikan sementara sejak Jumat, 27 Maret 2026. Keputusan ini diambil setelah rapat mendesak yang melibatkan yayasan, kepala madrasah, dan dewan guru.
"Yang bersangkutan memang benar merupakan guru di MTs. Namun, sejak Jumat sore sudah kami nonaktifkan dari seluruh aktivitas di sekolah," jelas Jarkasih kepada wartawan di Depok, Senin (30/3/2026).
Rapat internal digelar sebagai respons cepat atas informasi yang beredar luas di media sosial. Sekolah ingin mencegah dampak lebih luas terhadap lingkungan pendidikan.
Profil Guru
IKD diketahui bergabung dengan sekolah tersebut sekitar tahun 2017. Selama bertugas, ia dikenal sebagai pengajar berdedikasi tinggi dengan catatan kinerja positif.
Selain mengajar, guru ini juga menjalankan peran ganda sebagai operator sekolah. Mata pelajaran yang diampu meliputi Bahasa Inggris dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
"Secara pribadi, yang bersangkutan dikenal baik, disiplin dan memiliki semangat mengajar yang tinggi. Karena itu, kami semua sangat kaget saat kabar ini muncul," ungkap Jarkasih.
Reaksi Komunitas Sekolah
Kabar ini mengejutkan seluruh warga sekolah. Banyak yang sulit mempercayai karena selama ini IKD menunjukkan sikap profesional.
Beberapa rekan guru mengaku tidak melihat tanda-tanda penyimpangan dalam perilaku sehari-hari. Mereka mendukung langkah sekolah untuk menyelidiki kasus ini secara menyeluruh.
Pengakuan dan Latar Belakang
Dalam pertemuan internal yang dilakukan di luar area sekolah, IKD bersikap terbuka dan mengakui perbuatannya. Pengakuan ini menjadi titik penting dalam penyelidikan.
"Yang bersangkutan mengakui bahwa perbuatan tersebut pernah dilakukan, bahkan sejak tahun 2014, sebelum bergabung dengan sekolah ini," tutur Jarkasih.
Disebutkan pula bahwa IKD telah mengidap HIV sejak tahun yang sama. Namun, guru tersebut membantah keras pernah melakukan tindakan menyimpang terhadap siswa di sekolah tempatnya mengajar.
"Dia bersumpah tidak pernah melakukan hal tersebut kepada siswa-siswi di sini," tegas juru bicara sekolah.
Motif Ekonomi
Berdasarkan klarifikasi internal, tindakan menawarkan jasa seksual diduga dilatarbelakangi faktor ekonomi. IKD mengaku terpaksa melakukan hal itu untuk memenuhi kebutuhan hidup.
"Pengakuannya, hal itu dilakukan karena kebutuhan ekonomi, bukan karena kelainan," terang Jarkasih. Pengakuan ini menjadi pertimbangan sekolah dalam mengambil keputusan lebih lanjut.
Langkah Perlindungan
Sekolah segera mengambil langkah proaktif untuk melindungi siswa. Pengecekan kondisi siswa dilakukan secara menyeluruh dan komunikasi intensif dengan orang tua dibangun.
"Hingga saat ini, alhamdulillah tidak ditemukan adanya siswa kami yang menjadi korban," ujar Jarkasih dengan lega. Pernyataan ini menjadi kabar baik di tengah situasi yang menegangkan.
Kerja sama dengan instansi terkait juga diperkuat. Puskesmas setempat dan dinas kesehatan dilibatkan untuk memberikan pendampingan psikologis.
Kolaborasi dengan Pihak Berwajib
Sekolah membuka komunikasi dengan kepolisian setempat. Langkah ini diambil untuk memastikan proses hukum berjalan transparan jika diperlukan.
Pihak sekolah juga meminta bantuan psikolog untuk memantau kondisi emosional siswa. Tujuannya mencegah trauma atau dampak psikologis lainnya.
Orang tua siswa mendapat jaminan bahwa lingkungan belajar tetap aman. Sekolah berkomitmen meningkatkan pengawasan terhadap seluruh kegiatan pendidikan.
Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan tentang pentingnya sistem pengawasan yang ketat. Sekolah berharap insiden serupa tidak terulang di masa depan. Perlindungan terhadap siswa tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan yang diambil.