Novel

Halaman 5: Mencari di Tempat yang Salah

Ujang Trisno Ujang Trisno 11 Apr 2026 12:11 87 Views
Halaman 5: Mencari di Tempat yang Salah

Halaman 5: Mencari di Tempat yang Salah

Daun Muda

Oleh: Ujang Trisno

Halaman 5: Mencari di Tempat yang Salah

 

Tiga minggu berlalu seperti air got setelah hujan: cepat, kotor, dan nyaris tak meninggalkan bekas kalau tidak karena baunya.

 

Hujan sudah hafal setiap sudut pasar. Ia tahu lapak mana yang pedangangnya pelit, lapak mana yang suka kasih sisa dagangan, dan lapak mana yang harus dihindari karena pemiliknya suka pukul anak jalanan. Tangannya kini keras oleh kapalan. Kakinya terbiasa dengan rasa lecet. Perutnya sudah lupa rasanya kenyang sempurna, tapi juga tidak pernah benar-benar kosong karena selalu ada sisa nasi bungkus dari pedagang sayur yang baik hati.

 

Tapi ada satu hal yang tidak pernah Hujan lakukan selama tiga minggu itu: ia tidak pernah berhenti mencari.

 

Setiap kali ia diberi pesan antar oleh pedagang, ia selalu mengambil rute yang lebih panjang. Matanya tidak pernah diam. Ia memperhatikan wajah setiap perempuan paruh baya yang lewat. Ia mengamati cara mereka berjalan, cara mereka memegang tas, cara mereka menunduk atau menegakkan kepala.

 

Ibu. Hanya satu kata. Tapi bobotnya seberat karung beras yang ia angkat setiap pagi.

 

“Kamu masih cari-cari orang itu?” tanya Jaya suatu sore. Mereka sedang duduk di atas bak truk kosong di belakang pasar. Matahari mulai tenggelam, dan langit di atas kota berwarna ungu kotor.

 

“Iya,” jawab Hujan tanpa ragu.

 

“Kota ini besar, Njan. Luasnya bukan main. Orang yang kamu cari bisa saja sudah pindah ke kota lain. Atau—mungkin sudah tidak di kota ini sama sekali.”

 

Hujan memainkan ujung kaosnya yang mulai robek di beberapa tempat. “Aku tahu.”

 

“Kalau kamu tahu, kenapa kamu masih buang waktu?”

 

Hujan menatap Jaya. Untuk pertama kalinya, matanya tidak lembut seperti biasanya. Ada sesuatu yang keras di sana. Bukan marah. Tapi tekad yang sudah berubah menjadi kebutuhan, seperti udara atau air.

 

“Karena kalau aku berhenti mencari,” kata Hujan perlahan, “maka artinya aku menerima bahwa ia benar-benar sudah tidak peduli padaku. Dan aku belum siap menerima itu.”

 

Jaya tidak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, lalu meludah ke tanah. Sebuah kebiasaan buruk yang mulai ia tularkan pada Hujan, meskipun nenek Hujan pasti akan memarahinya kalau tahu.

 

“Baiklah,” kata Jaya akhirnya. “Besok aku bantu kamu cari.”

 

Hujan mengerjap. “Benar?”

 

“Benar. Tapi dengan satu syarat.”

 

“Apa?”

 

“Kamu harus berhenti nangis diam-diam di malam hari. Itu mengganggu tidurku.”

 

Hujan tertawa. Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, ia benar-benar tertawa. Dan Jaya ikut tertawa. Dua anak laki-laki kurus dengan pakaian lusuh, duduk di atas bak truk berkarat, tertawa seperti orang kaya yang tidak punya masalah apa pun.

 

---

 

Malam itu, Hujan bermimpi.

 

Ia berdiri di tengah sawah yang luas. Tapi bukan sawah di desanya. Sawah ini kering. Tanahnya retak-retak seperti kulit neneknya yang tua. Di kejauhan, ia melihat seorang perempuan berdiri di bawah pohon beringin besar.

 

Perempuan itu memakai kerudung lusuh. Tas kecil di dadanya. Kepalanya sedikit menunduk.

 

Ibu.

 

Hujan berlari. Kakinya terasa berat, seperti diinjak lumpur. Semakin ia berlari, semakin jauh jaraknya. Perempuan itu tidak bergerak, tapi seolah menjauh dengan sendirinya.

 

“Bu!” teriak Hujan. “Bu! Aku di sini! Aku Hujan! Anak Ibu!”

 

Perempuan itu perlahan menegakkan kepala. Wajahnya masih samar, seperti foto yang terlalu lama terkena air. Tapi mulutnya bergerak. Ia mengatakan sesuatu. Hujan tidak bisa mendengarnya. Angin kencang meniup, membawa suara itu pergi.

 

“Bu! Apa? Apa yang Ibu katakan?!”

 

Lalu Hujan bangun.

 

Dadanya naik turun. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Di sekitarnya, anak-anak lain masih tidur pulas. Jaya mendengkur pelan di sampingnya. Lampu jalan dari kejauhan menerobos celah kardus, menciptakan bayangan-bayangan aneh di dinding.

 

Hujan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

 

“Apa yang Ibu katakan?” bisiknya pada kegelapan. “Apa?”

 

Tidak ada yang menjawab. Hanya suara klakson mobil dari kejauhan, dan angin malam yang membawa bau sampah dan air got.

 

---

 

Keesokan harinya, Hujan dan Jaya memulai pencarian dengan cara yang lebih terencana. Mereka tidak lagi sekadar mengamati orang di pasar. Mereka mulai bertanya.

 

“Bu, permisi. Apakah Ibu kenal perempuan bernama Sari? Usia mungkin sekitar tiga puluh lima sampai empat puluh? Rambut sebahu? Perawakannya sedang?”

 

Pertanyaan yang sama diulang berkali-kali. Di warung nasi. Di pinggir jalan. Di depan toko kelontong. Di halte bus.

 

Kebanyakan orang menjawab tidak tahu. Beberapa menggeleng cepat dan pergi. Seorang ibu-ibu penjual gorengan sempat berpikir lama, lalu berkata, “Sari? Banyak yang namanya Sari, Nak. Ini Jakarta. Semua orang bisa datang dan pergi. Nggak ada yang kenal siapa-siapa.”

 

Tapi seorang pemulung tua yang biasa memungut botol di belakang pasar memberi jawaban berbeda.

 

“Sari?” Pemulung itu mengerutkan dahinya yang penuh keriput. “Perempuan dengan tas kecil? Sering duduk sendiri di depan toko sepatu yang tutup itu? Di ujung Jalan Melati?”

 

Jantung Hujan berdegup kencang. “Di mana toko sepatu itu, Pak?”

 

Pemulung itu menunjuk ke arah timur. “Lurus saja. Dua lampu merah. Belok kiri. Nanti ada ruko-ruko kosong. Toko sepatu yang tutup, papan namanya sudah hilang. Tapi saya sering lihat perempuan itu duduk di tangganya. Sendirian. Biasanya sore.”

 

Hujan dan Jaya saling berpandangan.

 

Tanpa berpikir panjang, mereka berlari.

 

---

 

Jalan Melati lebih sepi dari yang Hujan bayangkan. Ruko-ruko di sini kebanyakan tutup. Kaca jendela ada yang pecah. Dindingnya penuh coretan cat semprot yang tidak bisa Hujan baca. Rumput liar tumbuh di sela-sela trotoar yang retak.

 

Dan di depan sebuah ruko dengan papan nama yang sudah lama hilang, ada tangga beton yang kotor. Di atas tangga itu, seorang perempuan duduk.

 

Kerudung lusuh warna coklat tua. Tas kecil di pangkuannya. Kepala menunduk. Posturnya kurus, hampir kurus seperti Hujan.

 

Hujan berhenti.

 

Jarak mereka hanya dua puluh meter. Tapi rasanya seperti setengah hidup.

 

Jaya menarik lengan Hujan. “Itu dia?”

 

Hujan tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab. Tenggorokannya terasa penuh dengan sesuatu. Bukan kata-kata. Tapi seluruh masa kecilnya yang hilang. Seluruh pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Seluruh malam ia terbangun sendirian di rumah bocor itu.

 

Perlahan, Hujan melangkah.

 

Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.

 

Perempuan itu mendongak.

 

Wajahnya kusam. Matanya cekung. Ada luka tua di dekat pelipis kirinya. Ia tampak lebih tua dari usianya. Jauh lebih tua.

 

Dan ia menatap Hujan.

 

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Bahkan angin pun berhenti.

 

Lalu perempuan itu membuka mulutnya.

 

“Kamu… siapa?”

 

Hujan berdiri di depan tangga itu. Kaki gemetar. Tapi punggungnya tetap tegap.

 

“Bu,” katanya. Suaranya pecah di tengah jalan. “Aku Hujan. Anak Ibu.”

 

---

 

Bersambung ke halaman 6...

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

▸ TAG TOPIK

#Novel Daun Muda Halaman 5

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner