JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Harga minyak mentah dunia melonjak drastis pada Kamis (2/4/2026), dengan harga spot brent mencapai US$141,36 per barel. Lonjakan ini dipicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang mengganggu pasokan global, menciptakan krisis energi terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Lonjakan Harga Minyak
Harga minyak brent pada perdagangan Kamis ditutup di US$109,28 per barel, naik 8,03% dari hari sebelumnya. Namun, angka ini jauh lebih rendah dibandingkan harga spot yang mencapai US$141,36 per barel menurut data S&P Global.
Harga spot mencerminkan permintaan minyak untuk pengiriman dalam 10-30 hari ke depan. Selisih US$32,33 antara harga spot dan kontrak berjangka menunjukkan ketatnya pasokan fisik di lapangan.
Performa Minyak WTI
Minyak WTI juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 11,41%, ditutup di US$111,54 per barel. Pada perdagangan intraday, harganya sempat menyentuh US$114 per barel.
Lonjakan ini menghentikan tren penurunan dua hari sebelumnya di mana harga WTI turun 2,8%. Harga penutupan brent kemarin merupakan yang tertinggi sejak Juni 2022.
Faktor Pemicu Krisis
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi penyebab utama gangguan pasokan minyak global. Selat ini biasanya dilalui sekitar 20% aliran minyak dan gas dunia.
Ketegangan Geopolitik
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidato nasional Rabu malam memperburuk situasi. Trump memperingatkan potensi agresi militer terhadap Iran dalam 2-3 minggu ke depan.
"AS akan menyerang Iran dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan," ujar Trump. Namun ia menambahkan perang tidak akan berlangsung lama dan dialog masih berlangsung.
Respons Iran
Iran membantah klaim Trump tentang permintaan gencatan senjata. Negara tersebut menyatakan Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali penuh militer Iran.
Kantor berita IRNA melaporkan Iran bekerja sama dengan Oman untuk menyusun protokol "pemantauan transit" di jalur laut tersebut. Laporan ini sempat menurunkan harga minyak sebelum akhirnya naik kembali.
Dampak pada Pasar
Amrita Sen, pendiri Energy Aspects, mengkritik pasar finansial yang dinilai tidak mencerminkan realitas di lapangan. "Pasar finansial hampir menutupi kenyataan ketatnya pasokan yang sebenarnya terlihat di lapangan," ujarnya kepada CNBC International.
Harga Diesel Eropa
Sen mengungkapkan harga diesel di Eropa saat ini hampir mencapai US$200 per barel. Angka ini menunjukkan dampak riil krisis pasokan terhadap produk turunan minyak.
CEO Chevron Mike Wirth juga memperingatkan bahwa harga futures tidak mencerminkan skala gangguan pasokan. "Ada dampak fisik nyata dari penutupan Selat Hormuz yang menyebar ke seluruh dunia," katanya dalam konferensi CERAWeek di Houston.
Persepsi Pasar
Menurut Wirth, pasar bergerak berdasarkan informasi yang minim dan persepsi. George Efstathopoulos, manajer portofolio Fidelity International, mengatakan pasar sebelumnya mengantisipasi dua kemungkinan: de-eskalasi atau eskalasi perang.
Analis risiko politik Oxford Analytica Giles Alston menyatakan negara-negara pengguna jalur tersebut harus mengatur sendiri pengiriman minyak mereka. AS dinilai tidak lagi mengambil peran utama dalam mengatasi krisis ini.
Respons Pemerintah dan Analis
Trump menyalahkan kenaikan harga minyak pada "rezim Iran yang melancarkan serangan teror terhadap kapal tanker minyak komersial dan negara tetangga." Pernyataan ini semakin memanaskan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Negosiasi yang Berlarut
Kedua pihak terus saling bertentangan mengenai status negosiasi damai. Trump memberikan sinyal yang berubah-ubah, di satu sisi menyebut kesepakatan damai hampir tercapai, namun di sisi lain siap mengirim ribuan pasukan tambahan.
Perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari telah memicu salah satu krisis energi paling serius di dunia. Investor khawatir konflik berkepanjangan akan menghambat lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz selama berminggu-minggu.
Dampak Jangka Panjang
Krisis ini berdampak langsung pada harga energi global dan berpotensi memicu inflasi di berbagai negara. Negara-negara Asia mulai mempertimbangkan kembali penggunaan batu bara sebagai alternatif energi.
Maskapai penerbangan di Asia juga mulai mengkhawatirkan kenaikan harga bahan bakar pesawat. Lonjakan harga minyak ini diperkirakan akan mempengaruhi biaya transportasi dan logistik secara global.
Krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz mengingatkan dunia pada kerapuhan sistem pasokan minyak global. Ketergantungan pada jalur strategis ini membuat ekonomi dunia rentan terhadap gejolak geopolitik di Timur Tengah. Pemulihan pasar minyak sangat bergantung pada resolusi konflik dan pembukaan kembali jalur pelayaran internasional tersebut.