JAVASCORNER.CO.ID, BEIRUT - Hezbollah mengerahkan seluruh kekuatannya dalam perang yang disebut sebagai pertempuran eksistensial melawan Israel. Konflik ini berpotensi menjadi pertarungan terakhir bagi kelompok bersenjata Lebanon tersebut.
Sumber internal Hezbollah mengungkapkan kelompok itu menghadapi pilihan antara kehancuran total atau menciptakan persamaan baru dengan penarikan penuh Israel dari Lebanon. Keputusan Hezbollah memasuki perang mengejutkan pemerintah Beirut.
Eskalasi Konflik
Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah pekan lalu. Hezbollah menyerang Israel sebagai tanggapan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan gabungan AS-Israel itu memicu respons keras kelompok bersenjata tersebut. Israel membalas dengan serangan udara mematikan dan mengirim pasukan darat ke daerah perbatasan.
Peringatan evakuasi Israel menyebabkan ratusan ribu warga Lebanon mengungsi. Konflik ini memperburuk ketegangan yang sudah berlangsung sejak pelanggaran gencatan senjata 2024.
Strategi Hezbollah
Pemimpin Hezbollah Naim Qassem menyatakan kelompoknya siap untuk konfrontasi panjang. "Ini pertempuran eksistensial," tegas Qassem. "Kami tidak akan membiarkan musuh melenyapkan keberadaan kami."
Sumber Hezbollah yang dirahasiakan mengatakan kelompok itu telah berjuang habis-habisan. Keputusan berperang sebenarnya sudah diambil beberapa bulan sebelumnya.
Mereka menunggu perubahan status quo regional yang akhirnya terjadi dalam perang AS-Israel di Iran. Hezbollah menyadari Israel tidak akan ragu melancarkan kampanye besar-besaran.
Dampak di Lebanon
Pemerintah Lebanon melarang aktivitas militer dan keamanan Hezbollah pekan lalu. Presiden Joseph Aoun menuduh kelompok itu bekerja untuk "meruntuhkan" negara demi kepentingan rezim Iran.
Otoritas Lebanon berkomitmen melucuti Hezbollah setelah gencatan senjata 2024. Tentara Lebanon telah membongkar infrastruktur kelompok itu di dekat perbatasan Israel.
Namun Israel memperingatkan otoritas Lebanon gagal mencegah kebangkitan Hezbollah. Israel berjanji akan mengambil tindakan jika diperlukan.
Analisis Militer
Pakar militer Hassan Jouni menyebut ini pertempuran eksistensial bagi Hezbollah. "Mereka akan bertarung sampai napas terakhir," katanya.
Bagi Israel, ini dianggap sebagai pertempuran terakhir melawan Hezbollah. Situasi saat ini dilihat sebagai kesempatan untuk menghancurkan musuh bebuyutan mereka.
Faktor pendukung termasuk situasi regional dan internasional yang menguntungkan di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Iran yang melemah juga menjadi pertimbangan penting.
Akademisi Ali Mourad menilai prioritas Hezbollah adalah membuka front Lebanon untuk agenda Iran. Kelompok itu bertarung di dua front sekaligus: Lebanon dan front politik sekutunya.
"Hezbollah sudah tamat sebagai kekuatan regional," tegas Mourad. "Perang ini tidak akan berakhir dengan kemenangan bagi mereka."
Konflik terus berlanjut meski Lebanon menanggung kerugian besar. Kerusakan infrastruktur dan pengungsian massal belum menghentikan determinasi Hezbollah. Masa depan hubungan Israel-Lebanon tetap bergantung pada resolusi konflik bersenjata ini.