Hubungan Rusia dan Jepang lagi bener-bener beku. Bahkan, bisa dibilang lagi di titik terendah. Kremlin baru aja ngeluarin pernyataan tegas kalau saat ini nggak ada dialog sama sekali sama Tokyo, apalagi buat bahas perjanjian damai. Pokoknya, pintu komunikasi ditutup rapat.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, bilang kalau hubungan kedua negara sekarang udah "berkurang sampai ke titik nol". Nggak ada obrolan, nggak ada negosiasi. Alasannya simpel: menurut Moskow, sikap Jepang udah terlalu nggak bersahabat. Makanya, mustahil rasanya mau bahas hal-hal serius kayak perjanjian damai kalau kondisinya kayak gini.
Padahal, Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, baru aja menyampaikan pidato di depan parlemen. Dia bilang, meskipun hubungan lagi renggang, pemerintahannya tetap punya keinginan buat menyelesaikan sengketa wilayah yang udah puluhan tahun nggak kelar-kelar itu. Jepang juga tetap pada pendiriannya pengin bikin perjanjian damai resmi sama Rusia.
Tapi, pernyataan dari Tokyo itu kayaknya nggak mempan. Kremlin malah nimpalin, bukan Rusia yang mutus komunikasi, tapi situasinya sekarang memang nggak memungkinkan buat mencapai kata sepakat. Selama sikap Jepang nggak berubah, ya susah mau maju.
Akar masalahnya sebenarnya udah tua. Rusia dan Jepang itu secara teknis masih berstatus perang, lho. Iya, soalnya sejak Perang Dunia II selesai, mereka nggak pernah bikin perjanjian damai resmi. Biang keroknya adalah sengketa Kepulauan Kuril. Rusia nguasain pulau-pulau itu, tapi Jepang ngaku sebagai wilayahnya yang mereka sebut Wilayah Utara. Udah puluhan tahun nggak ada titik temu.
Belakangan ini, keadaan tambah panas gara-gara sikap Jepang yang makin nempel sama AS. Tokyo aktif banget ngasih sanksi ke Rusia dan dukung Ukraina sejak konflik pecah. Buat Kremlin, ini jelas bentuk permusuhan. Putin dan para petingginya nggak terima, dan dampaknya ya hubungan diplomatik langsung disetop.
Jadi, buat saat ini, harapan buat damai antara Rusia dan Jepang rasanya masih jauh banget. Selama sengketa wilayah nggak kelar dan sikap politik masing-masing masih keras, pintu dialog bakal terus terkunci rapat.