JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan serangan udara di Lebanon selatan pada Sabtu (28 Maret 2026), menewaskan dua jurnalis yang dikaitkan dengan kelompok Hezbollah. Militer Israel menyatakan salah satu korban, Ali Shoeib dari Al-Manar TV, merupakan anggota unit elit Radwan Force yang beroperasi dengan kedok jurnalis.
Serangan ini menargetkan sebuah mobil di kota Jezzine sekitar pukul 17.59 waktu setempat. Selain Shoeib, Fatima Ftouni, reporter saluran Al-Mayadeen, juga tewas dalam insiden yang sama. IDF mengonfirmasi operasi tersebut beberapa jam kemudian.
Latar Belakang Serangan
Menurut pernyataan resmi IDF, Ali Shoeib tidak hanya bekerja sebagai koresponden untuk Al-Manar TV yang dimiliki Hezbollah. Dia juga aktif sebagai operatif di unit intelijen Radwan Force, kelompok khusus yang dikenal melakukan operasi lintas batas.
"Shoeib bertindak sebagai teroris dalam organisasi teror Hezbollah dengan kedok jurnalis," tegas pernyataan militer Israel. "Dia secara konsisten bekerja untuk mengungkap lokasi pasukan IDF yang beroperasi di Lebanon selatan dan sepanjang perbatasan."
Keterlibatan Jangka Panjang
IDF mengungkapkan Shoeib telah bertahun-tahun melaporkan dari perbatasan Israel-Lebanon. Catatan aktivitasnya menunjukkan:
- Penyiaran langsung dari posisi perbatasan yang sering kali mengejek pasukan Israel
- Publikasi ancaman terhadap pemimpin komunitas perbatasan Israel di media sosial Januari 2024
- Kontak rutin dengan komandan tingkat tinggi Hezbollah selama bertahun-tahun
Militer Israel menyebut Shoeib berkomunikasi dengan beberapa pimpinan Hezbollah yang kemudian tewas, termasuk Ali Karaki (komandan Front Selatan) dan Muhammad Nimah Nasser (komandan divisi regional Aziz).
Aktivitas Dua Peran
Selama perang berlangsung dengan Iran, Shoeib terus melaporkan lokasi pasukan IDF di Lebanon selatan. IDF menuduhnya menggunakan posisinya di saluran televisi untuk menyebarkan materi propaganda Hezbollah.
"Dia terlibat dalam hasutan terhadap pasukan IDF dan warga sipil Israel," klaim pernyataan militer. Aktivitas ganda ini, menurut Israel, membuat Shoeib kehilangan perlindungan sebagai jurnalis di bawah hukum humaniter internasional.
Status Hukum
Hukum humaniter internasional memberikan perlindungan khusus kepada jurnalis yang meliput konflik bersenjata. Namun perlindungan ini hilang jika mereka mengambil senjata dan berpartisipasi langsung dalam permusuhan.
IDF menegaskan Shoeib telah melampaui batas pelaporan jurnalistik. Dia dituduh secara aktif membantu operasi militer Hezbollah dengan memberikan informasi intelijen tentang pergerakan pasukan Israel.
Reaksi Internasional
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengutuk keras serangan tersebut. Dalam pernyataan resmi kepresidenan, dia menyebut insiden ini sebagai "kejahatan terang-terangan".
"Sekali lagi, agresi Israel melanggar aturan paling dasar hukum internasional, hukum humaniter internasional, dan hukum perang," tegas Aoun. "Dengan menargetkan jurnalis, yang pada akhirnya adalah warga sipil yang melakukan tugas profesional."
Respons Media
Al-Manar TV melaporkan kematian Shoeib tanpa menanggapi langsung tuduhan IDF. Saluran tersebut menggambarkan Shoeib sebagai jurnalis yang "dibedakan oleh pelaporan profesional dan kredibel tentang peristiwa".
Sementara itu, Israel tidak memberikan komentar atau justifikasi khusus mengenai kematian Fatima Ftouni dari Al-Mayadeen. Kedua saluran tersebut memiliki hubungan dekat dengan Hezbollah dan sering kali menyiarkan konten yang mendukung kelompok tersebut.
Konteks Konflik
Serangan ini terjadi dalam konteks ketegangan yang meningkat di perbatasan Israel-Lebanon. Sejak 2024, pertukaran api antara Hezbollah dan IDF telah menjadi rutinitas hampir harian.
Radwan Force, unit tempat Shoeib diduga menjadi anggota, merupakan fokus perhatian khusus Israel. Unit ini dianggap sebagai ancaman langsung karena kemampuannya melancarkan operasi lintas batas.
Dampak Regional
Ketegangan Israel-Hezbollah terjadi bersamaan dengan konflik yang lebih luas antara Israel dan Iran. Beberapa perkembangan terkini menunjukkan eskalasi:
- Serangan rudal Iran ke Israel tengah yang menewaskan satu orang
- Keterlibatan Houthi Yaman yang didukung Iran dalam konflik
- Peningkatan aktivitas militer di seluruh Timur Tengah
Insiden di Jezzine memperumit situasi keamanan yang sudah rapuh. Pembunuhan jurnalis, terlepas dari afiliasinya, berpotensi memicu reaksi keras dari komunitas internasional dan organisasi pers.
Kematian dua jurnalis ini menyoroti tantangan peliputan di zona konflik aktif. Di satu sisi, ada kebutuhan melindungi pekerja media yang melakukan tugasnya. Di sisi lain, ada kekhawatiran legitimate tentang penyalahgunaan status jurnalis untuk aktivitas militer. Situasi di perbatasan Israel-Lebanon tetap tidak stabil, dengan potensi eskalasi lebih lanjut yang mengancam stabilitas regional.