JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk pagi ini, Senin (13/4/2026). Indeks dibuka turun 99,01 poin atau 1,33% ke level 7.359,49. Sebanyak 360 saham tercatat turun, 147 naik, dan 452 belum bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 667,4 miliar dengan volume 1,41 miliar saham dalam 116.900 kali transaksi. Kapitalisasi pasar tergerus menjadi Rp 13.000 triliun.
Geopolitik Dorong Koreksi
Koreksi IHSG pagi ini terjadi seiring ketegangan geopolitik yang belum reda. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz setelah pembicaraan damai dengan Iran di Pakistan menemui jalan buntu.
Pengumuman ini disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Minggu. "Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses MEMBLOKADE setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz," tulisnya.
Waktu Pelaksanaan
U.S. Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi blokade akan dimulai Senin pukul 10 pagi waktu Timur AS. Mereka berjanji memberikan informasi tambahan kepada kapal komersial sebelum pelaksanaan.
Blokade hanya berlaku untuk kapal yang menuju atau dari pelabuhan Iran. Kapal yang melintas ke pelabuhan non-Iran tidak akan dihalangi.
Blokade Selat Hormuz
Trump menegaskan tujuan blokade adalah menghentikan Iran mengendalikan selat strategis tersebut. Iran disebut sedang mempersiapkan tarif bagi kapal yang melintas, langkah yang memicu reaksi keras dari AS.
Angkatan Laut AS juga akan mencegat kapal di perairan internasional yang terbukti membayar tol kepada Iran. Langkah ini merupakan respons atas upaya Iran memperkuat kendali di selat tersebut.
Negosiasi Gagal
Pembicaraan damai yang dimediasi Pakistan runtuh karena perbedaan pandangan mendasar. AS menuding Iran tidak bersedia menghentikan program nuklirnya.
Iran mengajukan beberapa tuntutan, termasuk:
- Kendali atas Selat Hormuz
- Pembayaran reparasi perang
- Gencatan senjata di seluruh kawasan
- Pelepasan aset yang dibekukan di luar negeri
Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance melakukan pertemuan lebih dari 21 jam dengan negosiator Iran dan Pakistan.
Dampak Ekonomi Global
Blokade Selat Hormuz mengancam memperburuk krisis ekonomi global. Selat sempit ini dilalui sekitar 20% minyak dunia. Penutupan sebelumnya telah memicu gejolak harga energi.
Harga minyak sempat melonjak di atas US$100 per barel selama konflik. Pasar komoditas bergerak liar sepanjang ketegangan berlangsung.
Krisis ini memberi tekanan berat pada ekonomi dunia yang masih berusaha pulih. Negara-negara pengimpor minyak menghadapi risiko inflasi yang lebih tinggi.
Faktor Domestik Bersiap
Di dalam negeri, pasar menanti rilis Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia. Data ini menjadi petunjuk penting untuk membaca perilaku konsumsi rumah tangga.
Bank Indonesia memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 tumbuh 6,9% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan Januari sebesar 5,7%.
Penopang Utama
Kenaikan penjualan eceran terutama ditopang oleh:
- Permintaan selama Ramadan
- Persiapan Idulfitri
- Kelompok suku cadang dan aksesori
- Perlengkapan rumah tangga
- Sandang
Pasar akan mencermati apakah lonjakan konsumsi bersifat musiman atau mencerminkan daya beli yang memang menguat. Konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Investor perlu memantau perkembangan geopolitik dan data ekonomi domestik secara simultan. Keputusan investasi harus mempertimbangkan risiko global dan fundamental lokal yang saling mempengaruhi. Pasar saham Indonesia tetap menunjukkan ketahanan meski menghadapi tekanan eksternal yang signifikan.