Ekonomi

INDEF: Rupiah Terancam Melemah ke Rp17.243 per Dolar AS

Elvan Rizki Elvan Rizki 09 Mar 2026 19:30 50 Views
INDEF: Rupiah Terancam Melemah ke Rp17.243 per Dolar AS

INDEF: Rupiah Terancam Melemah ke Rp17.243 per Dolar AS

JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memprediksi nilai tukar rupiah akan terus mengalami tekanan pelemahan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan konflik Timur Tengah. Peneliti INDEF Abdul Manap Pulungan mengungkapkan beberapa bank bahkan sudah menjual rupiah di level Rp17.243 per dolar AS, menandakan tekanan kuat terhadap mata uang domestik.

Tekanan pada Rupiah

Rupiah spot ditutup pada level Rp16.949 per dolar AS pada Senin (9/3/2026), melemah 0,14% dari akhir pekan sebelumnya. Pergerakan ini semakin mendekati level psikologis Rp17.000 yang menjadi perhatian Bank Indonesia.

Abdul Manap Pulungan menjelaskan kondisi ekonomi global yang berat menjadi faktor utama. Struktur pasar keuangan domestik yang relatif dangkal turut memperparah situasi.

"Rupiah akan terus tertekan," tegas Abdul dalam Diskusi INDEF. Investor cenderung melepas aset berdenominasi rupiah saat gejolak global terjadi, beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti emas.

Dampak Ekonomi

Pelemahan rupiah berpotensi memperberat kondisi ekonomi Indonesia. Negara masih mengalami defisit minyak sekitar 1 juta barel per hari dengan produksi hanya 605.000 barel dari kebutuhan 1,605.000 barel.

Level Rp17.000 per dolar AS sudah mendekati selisih hampir Rp1.000 dari asumsi makroekonomi APBN 2026. Ini bisa menjadi sinyal peringatan bagi bank sentral.

Kenaikan harga BBM akibat depresiasi rupiah berdampak luas pada semua lapisan masyarakat. Transmisi harga mampu menekan aktivitas ekonomi nasional.

Rekomendasi Kebijakan

INDEF merekomendasikan pemerintah melakukan restrukturisasi fiskal untuk mengantisipasi berbagai tekanan ekonomi. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah peninjauan kembali anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program MBG menjadi pos belanja terbesar dalam APBN 2026 dengan anggaran Rp268 triliun melalui Badan Gizi Nasional. Pengurangan sementara anggaran ini bisa memberikan ruang fiskal lebih besar.

Dengan ruang fiskal yang memadai, pemerintah tidak perlu langsung membebankan kenaikan harga minyak global kepada masyarakat. Alokasi anggaran bisa dialihkan ke subsidi energi jika diperlukan.

Abdul mengingatkan dampak luas kenaikan harga BBM terhadap perekonomian. Tekanan ini berpotensi menghambat pencapaian target pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4% pada tahun 2026.

Pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai skenario kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut.

Elvan Rizki

// Verified Author

Elvan Rizki

Staff Redaksi

Spesialis konten media siber dan publikasi Google News.

▸ TAG TOPIK

#rupiah #INDEF #ekonomi global #nilai tukar #APBN 2026

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner