JAVASCORNER.CO.ID, WASHINGTON - Intelijen Amerika Serikat mengungkapkan Iran masih menyimpan persenjataan rudal dan drone dalam jumlah besar. Meski menghadapi serangan militer berkelanjutan, kemampuan ofensif negara tersebut belum lumpuh total.
Laporan CNN yang dirilis Jumat (3/4/2026) mengutip sumber intelijen AS menyebut peluncur rudal Iran masih beroperasi. Sebagian besar infrastruktur tersebut diduga terkubur di bawah tanah untuk menghindari serangan udara.
Latar Belakang
Ketegangan antara Iran dan koalisi AS-Israel memuncak sejak serangan terhadap fasilitas nuklir Iran awal Juni 2025. Serangan balasan Iran menewaskan sejumlah jenderal tinggi Israel.
Komunitas intelijen AS terus memantau perkembangan kapabilitas militer Iran. Analisis terbaru menunjukkan penurunan signifikan dalam aktivitas rudal balistik dan serangan drone.
Namun, aset-aset kunci tetap utuh. "Mereka masih sangat siap untuk menimbulkan kekacauan besar di seluruh wilayah," kata salah satu sumber intelijen.
Kemampuan Militer Iran
Iran mempertahankan arsenal yang mengesankan meski under pressure. Sistem pertahanan mereka mencakup berbagai jenis persenjataan.
Rudal Balistik
Rudal-rudal balistik menjadi tulang punggung strategi deterrence Iran. Jenis-jenis utama yang masih operasional meliputi:
- Rudal jarak menengah Shahab-3
- Rudal jelajah Soumar
- Sistem peluncur bergerak Fateh-110
Kendaraan Udara Nirawak (UAV)
Drone produksi lokal Iran telah terbukti efektif dalam konflik regional. Beberapa model andalan tetap aktif:
- Shahed-136 untuk serangan presisi
- Mohajer-6 untuk pengintaian
- Kaman-22 dengan kemampuan serang multirole
Peluncur rudal yang tersebar di berbagai lokasi menjadi perhatian utama analis. Lokasi-lokasi tersembunyi ini membuatnya sulit dinetralisir melalui serangan udara konvensional.
Respons Gedung Putih
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly memberikan tanggapan resmi terhadap laporan intelijen. Ia menekankan keberhasilan operasi militer AS-Israel.
"Rudal balistik dan serangan drone Iran turun 90 persen," tegas Kelly. "Angkatan laut mereka musnah, dua pertiga fasilitas produksi rusak atau hancur."
Kelly menyebut Amerika Serikat dan Israel menguasai wilayah udara Iran. Dominasi ini disebut membatasi ruang gerak operasi militer Tehran.
"Situasi Iran semakin suram dari hari ke hari," tambahnya. "Satu-satunya harapan mereka adalah membuat kesepakatan dengan pemerintahan Presiden Trump."
Dampak Regional
Kapabilitas rudal Iran tetap menjadi ancaman serius bagi stabilitas kawasan. Selat Hormuz menjadi titik rawan potensial.
Ancaman terhadap Pelayaran
Rudal-rudal Iran dipandang mampu mengganggu lalu lintas pelayaran di selat strategis tersebut. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini.
Negara-negara Teluk telah menyiapkan rencana kontingensi. Pembangunan pipa minyak alternatif sedang dipertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.
Respons Internasional
Perserikatan Bangsa-Bangsa menunda pemungutan suara terkait resolusi konflik. Draf resolusi sedang direvisi menyusul perkembangan terbaru.
Komunitas internasional mengawasi ketat kemampuan nuklir Iran. Tekanan diplomatik terus dilakukan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Laporan intelijen ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional. Presiden Donald Trump baru-baru ini mengancam akan melancarkan serangan "sangat keras" dalam dua minggu ke depan jika Iran tidak menuruti tuntutan AS.
Pakar keamanan menilai situasi tetap volatil meski ada klaim keberhasilan militer. Kemampuan bertahan Iran menunjukkan kompleksitas konflik yang membutuhkan pendekatan multidimensi, bukan hanya solusi militer.