JAVASCORNER.CO.ID, TEHERAN - Iran secara resmi membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan adanya pembicaraan antara kedua negara. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan tidak ada negosiasi yang dilakukan selama 24 hari terakhir konflik bersenjata.
- Penolakan Resmi Iran
- Latar Belakang Konflik
- Respons dan Ancaman Iran
- Pernyataan Pejabat Lain
- Syarat Menghentikan Perang
Penolakan Resmi Iran
Esmaeil Baghaei menyampaikan penolakan tegas pada Senin 23 Maret 2026. "Posisi Republik Islam Iran mengenai Selat Hormuz dan syarat untuk mengakhiri perang yang dipaksakan tidak berubah," ujarnya seperti dikutip Press TV.
Menurut Baghaei, Iran telah menerima pesan melalui negara-negara sahabat mengenai permintaan AS untuk bernegosiasi. Namun Teheran memberikan respons berdasarkan prinsip-prinsip yang dianut Republik Islam.
Latar Belakang Konflik
Ketegangan memuncak setelah Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran. Presiden AS meminta pembukaan Selat Hormuz yang strategis atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listrik Iran.
Trump kemudian mengklaim telah memerintahkan Pentagon menangguhkan rencana serangan. Ia menyatakan pembicaraan sedang berlangsung dengan Iran - klaim yang langsung dibantah Teheran.
Serangan Awal
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan ini menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei bersama beberapa komandan militer dan warga sipil.
Iran menilai serangan tersebut dilakukan tanpa provokasi sebelumnya.
Respons dan Ancaman Iran
Menanggapi ultimatum Trump, Iran mengeluarkan peringatan keras. Negara tersebut berjanji akan menargetkan infrastruktur energi Israel dan negara regional mana pun yang mendukung aksi militer anti-Iran.
Baghaei menekankan angkatan bersenjata Iran akan memberikan respons "tegas, segera, dan efektif" terhadap serangan apa pun.
Serangan Balasan
Sebagai balasan atas serangan AS-Israel, Iran telah melancarkan serangkaian operasi militer. Serangan rudal dan drone diarahkan ke pangkalan-pangkalan Amerika di seluruh wilayah Timur Tengah dan wilayah yang diduduki Israel.
Pernyataan Pejabat Lain
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mendukung pernyataan Baghaei. Melalui akun X, ia menyatakan tidak ada pembicaraan yang dilakukan dengan Amerika Serikat selama perang berlangsung.
"Berita palsu seperti itu bertujuan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minak," tulis Ghalibaf. "Rakyat kami menginginkan hukuman yang setimpal bagi para agresor."
Upaya Mediasi Gagal
Para pejabat Arab mengaku upaya mediasi antara Teheran dan Washington belum membuahkan hasil. Negosiasi menemui jalan buntu meski berbagai upaya telah dilakukan.
Syarat Menghentikan Perang
Iran menyampaikan tiga syarat utama untuk menghentikan operasi pembalasan:
- Jaminan bahwa perang tidak akan terulang kembali
- Penutupan pangkalan militer AS di wilayah Timur Tengah
- Pembayaran kompensasi atas kerusakan infrastruktur militer dan sipil Iran
Tanpa pemenuhan syarat-syarat ini, Iran menyatakan akan terus memberikan respons terhadap setiap agresi.
Situasi di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian internasional. Jalur pelayaran strategis ini mengalirkan sekitar 20% minyak dunia. Ketegangan antara Iran dan AS berpotensi mengganggu pasokan energi global dan stabilitas regional.