JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Lebih dari sebulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026, rezim di Teheran tetap menunjukkan ketahanan yang mengesankan. Meski klaim Washington menyebut kemampuan militer Iran hampir "dihancurkan", serangan-serangan balasan terus mengguncang kawasan Timur Tengah.
- Latar Belakang Konflik
- Strategi Pertahanan Iran
- Data dan Realitas Serangan
- Dampak Ekonomi Regional
- Perspektif Para Ahli
Latar Belakang Konflik
Perang dimulai ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap target militer Iran. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan kemampuan militer Iran telah "dinetralisir secara efektif" dalam waktu singkat. Namun realitas di lapangan berbicara lain.
Iran membalas dengan serangkaian serangan terhadap Israel dan negara-negara Arab Teluk. Rudal dan drone terus menerobos pertahanan udara, menewaskan warga sipil dan merusak infrastruktur vital.
Strategi Pertahanan Iran
Alih-alih menyerah, Iran mengadopsi strategi asimetris yang cerdas. Mereka beralih dari penggunaan rudal balistik mahal ke drone murah yang lebih sulit dideteksi.
Perubahan Pola Serangan
Data dari Armed Conflict Location & Event Data (ACLED) menunjukkan penurunan signifikan dalam jumlah serangan rudal Iran. Dari hampir 100 serangan pada 1 Maret, angka turun menjadi rata-rata 30 serangan harian dalam tiga minggu terakhir.
"Ini membuat saya bertanya-tanya apakah ini masalah kapasitas atau strategi," kata Kelly Grieco dari Stimson Center. Iran mungkin sengaja merasionalisasi penggunaan rudal dan drone mereka.
Fokus pada Target Ekonomi
Iran semakin memusatkan serangan pada infrastruktur energi dan ekonomi di Teluk Persia. Pipi minyak dan pabrik desalinasi air menjadi sasaran utama.
Serangan terhadap Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi pekan lalu melukai puluhan pasukan AS dan merusak pesawat. Ini menunjukkan presisi yang meningkat dalam memilih target.
Data dan Realitas Serangan
Meski klaim penurunan 86-90% dalam serangan rudal balistik, ancaman drone Iran justru meningkat. Sekitar 40% serangan mereka berhasil menembus pertahanan udara.
Keterbatasan Interceptor
"Kami menguapkan miliaran dolar dalam pertahanan anti-rudal jarak jauh, yang merupakan sumber daya nasional yang langka," ungkap Tom Karako dari Center for Strategic and International Studies.
AS dan Israel menghadapi risiko kehabisan interceptor sebelum berhasil menghancurkan seluruh stok rudal Iran. Target ini terbukti "sangat sulit dicapai".
Persenjataan yang Tersisa
Intelijen terbatas tentang inventaris rudal dan drone Iran membuat perkiraan sulit dipastikan. Namun para ahli sepakat Iran masih memiliki ribuan drone buatan lokal yang siap dikerahkan.
"Persentase yang baik dari rudal Iran, setidaknya setengah dari persenjataan, disimpan di fasilitas yang sangat dikeraskan yang tidak mudah dijangkau dengan kekuatan udara," jelas Farzin Nadimi dari The Washington Institute.
Dampak Ekonomi Regional
Strategi Iran jelas: menekan ekonomi global untuk memaksa AS mencari penyelesaian. Ancaman terhadap Selat Hormuz telah menyebabkan lonjakan harga energi dunia.
Tekanan pada Sekutu AS
Negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait menanggung beban terberat. Serangan terhadap infrastruktur vital mereka mengganggu pasokan energi dan air.
"Dalam perang asimetris ini, hal terpenting bagi Iran adalah menyerang ekonomi dunia dengan harapan memaksa AS berhenti," kata Assaf Orion, pensiunan brigadir jenderal Israel.
Respons Diplomatik
Presiden Donald Trump terus mengupayakan negosiasi sambil mengancam penghancuran lebih lanjut. Tujuannya mengamankan persediaan uranium Iran dan membuka kembali Selat Hormuz.
Namun tekanan dari sekutu yang terkena dampak mungkin memaksa Washington mempertimbangkan opsi diplomatik lebih serius.
Perspektif Para Ahli
Para analis militer memberikan pandangan beragam tentang ketahanan Iran. Meski ada perbedaan pendapat, konsensus muncul tentang beberapa poin kunci.
Kemampuan Bertahan
"Iran telah membangun dirinya untuk mampu melewati perang seperti ini," tegas Karako. Persiapan bertahun-tahun terbukti efektif menghadapi tekanan militer besar-besaran.
Strategi mereka fokus pada "menyebabkan penderitaan berkepanjangan dan meningkatkan biaya perang bagi AS", menurut analisis Grieco.
Proyeksi ke Depan
Berapa lama Iran dapat mempertahankan tingkat retaliasi saat ini masih menjadi tanda tanya. Ketidakpastian tentang persediaan senjata mereka menambah kompleksitas situasi.
Namun yang jelas, rezim di Teheran telah menunjukkan kemampuan bertahan di luar perkiraan banyak pengamat. Mereka memanfaatkan setiap celah dalam aliansi AS-Israel dan kelemahan pertahanan udara regional.
Konflik ini mengajarkan pelajaran penting tentang ketahanan rezim yang telah mengakar puluhan tahun. Meski menghadapi tekanan militer terkoordinasi dari dua kekuatan global, Iran berhasil mempertahankan kemampuan ofensif yang signifikan. Masa depan konflik akan sangat tergantung pada kemampuan kedua belah pihak beradaptasi dengan realitas baru di medan perang modern, di mana teknologi drone dan perang ekonomi menjadi senjata yang sama pentingnya dengan rudal balistik.