JAVASCORNER.CO.ID, TEHERAN - Juru bicara militer Iran menyatakan Teheran akan menentukan akhir perang agresi yang dimulai Amerika Serikat dan Israel, menolak ancaman Presiden AS Donald Trump dalam pernyataan tegas Senin (30/3/2026). Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan regional yang memanas.
Pernyataan Resmi Militer Iran
Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, menegaskan posisi negara itu dalam konflik bersenjata. "Angkatan Bersenjata Iran tidak akan memulai perang," katanya. "Namun, kami akan menentukan akhir dari konflik apa pun."
Pernyataan Zolfaqari disampaikan melalui siaran Press TV. Pejabat militer senior itu menekankan komitmen Iran terhadap pertahanan tanpa agresi. Sikap ini konsisten dengan doktrin militer Iran selama bertahun-tahun.
Posisi Strategis Iran
Iran memiliki kemampuan militer yang signifikan di kawasan Timur Tengah. Beberapa faktor mendukung klaim Teheran:
- Kekuatan militer konvensional dan non-konvensional
- Jaringan aliansi dengan kelompok regional
- Pengalaman panjang dalam konflik proxy
- Kontrol atas jalur strategis seperti Selat Hormuz
Kritik Terhadap Kebijakan Trump
Zolfaqari secara khusus menyoroti kebijakan Presiden AS Donald Trump. "Kekejaman dan provokasi perang dari presiden AS hanya menghasilkan pembantaian dan ketidakamanan," ujarnya. Dia menyebut kebijakan Trump sebagai "salah" dan memicu protes global.
Pejabat Iran itu menggambarkan Trump memiliki sifat egois dan kediktatoran. "Kesalahan perhitungannya berakar pada ilusi dan karakter tidak stabil," tambah Zolfaqari. Menurutnya, dampaknya dirasakan warga Amerika dan semua bangsa.
Respons Terhadap Ancaman AS
Iran telah berulang kali menolak ancaman militer dari Washington. Beberapa poin penting dalam respons Teheran:
- Penolakan negosiasi langsung dengan AS di bawah tekanan
- Peningkatan kesiapan militer di perbatasan
- Koordinasi dengan sekutu regional seperti Suriah dan Lebanon
- Pengujian sistem persenjataan baru secara berkala
Dampak dan Reaksi Regional
Pernyataan Iran ini disampaikan saat ketegangan di Timur Tengah mencapai level berbahaya. Konflik telah memasuki minggu kelima dengan konsekuensi luas. Harga minyak mentah dunia telah melonjak di atas USD115 per barel.
Bursa saham Asia mengalami gejolak signifikan. Krisis pangan mulai mengintai beberapa negara bergantung impor. Negara-negara seperti Korea Selatan bersiap membatasi pembelian bahan bakar minyak.
Reaksi Negara Lain
Beberapa negara telah mengambil sikap terkait konflik ini:
- Inggris: Menolak mengirim pasukan ke Iran untuk menghindari korban tentara
- Rusia: Diduga memiliki peran tersembunyi dalam konflik menurut analis
- Uni Emirat Arab: Waspada setelah Iran klaim targetkan tentara AS di Dubai
- Negara Teluk: Mengembangkan strategi alternatif untuk krisis energi
Kekhawatiran Proliferasi Nuklir
Analis memperingatkan perang Iran bisa memicu perlombaan senjata nuklir. Banyak negara mungkin merasa perlu mengembangkan kemampuan nuklir untuk deterensi. Ini akan mengubah landscape keamanan global secara fundamental.
Dampak ekonomi sudah terlihat jelas. Pasar komoditas mengalami volatilitas tinggi. Rantai pasokan global terganggu, mempengaruhi pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
Pernyataan Iran hari ini menegaskan tekad Teheran menghadapi tekanan AS dan Israel. Sementara dunia menunggu perkembangan lebih lanjut, masyarakat internasional berharap konflik dapat diselesaikan melalui jalur diplomatik sebelum meluas lebih jauh.