JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah Iran resmi memberlakukan tarif tol berbasis aset kripto Bitcoin untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kebijakan kontroversial ini mulai berlaku Jumat (10/4/2026) dengan besaran setara US$1 atau Rp17.122 per barel minyak muatan kapal selama gencatan senjata dua minggu dengan Amerika Serikat.
- Strategi Iran Hindari Sanksi
- Mekanisme Pembayaran Bitcoin
- Dampak pada Pasar Global
- Reaksi Komunitas Internasional
Strategi Iran Hindari Sanksi
Juru bicara Serikat Eksportir Minyak, Gas, dan Produk Petrokimia Iran, Hamid Hosseini, mengungkapkan kebijakan ini merupakan bagian dari strategi Teheran menghadapi tekanan sanksi internasional. "Langkah ini memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan Amerika Serikat," jelas Hosseini kepada Financial Times.
Iran telah menutup Selat Hormuz secara efektif sejak konflik dengan AS dan Israel pecah akhir Februari 2026. Selat strategis ini menjadi jalur bagi 20% pasokan minyak dunia. Penutupan menyebabkan gejolak ekonomi global dengan lonjakan harga energi.
Prosedur Pemeriksaan Ketat
Setiap kapal harus mengirimkan email berisi rincian muatan kepada otoritas Iran sebelum melintas. Proses penilaian memastikan tidak ada senjata yang dibawa melalui selat tersebut. "Semua barang lain termasuk minyak diperbolehkan," tegas Hosseini.
Mekanisme Pembayaran Bitcoin
Sistem pembayaran dirancang untuk menghindari pelacakan transaksi keuangan. Setelah penilaian selesai, kapal hanya memiliki waktu beberapa detik untuk melakukan transfer Bitcoin. "Pembayaran cepat ini mencegah penyitaan aset akibat sanksi," papar Hosseini.
Prosedur ini menyebabkan antrean kapal di pintu masuk Selat Hormuz. "Iran tidak terburu-buru memproses setiap kapal," tambahnya. Waktu tunggu bervariasi tergantung kompleksitas muatan dan kepatuhan terhadap protokol.
Nilai Tukar Tetap
- Tarif dasar: US$1 per barel minyak
- Konversi rupiah: Rp17.122 per barel
- Mata uang pembayaran: Bitcoin (BTC)
- Periode berlaku: Selama gencatan senjata 14 hari
Dampak pada Pasar Global
Kebijakan Iran menciptakan preseden baru dalam perdagangan energi global. Selat Hormuz merupakan choke point vital dengan lalu lintas 21 juta barel minyak per hari. Penutupan parsial sejak Februari telah menyebabkan:
- Kenaikan harga minyak dunia 35%
- Kelangkaan pasokan di pasar Asia
- Peningkatan biaya logistik pengiriman
- Volatilitas pasar komoditas energi
Iran hanya mengizinkan sejumlah kecil kapal melintas selama konflik berlangsung. Volume ini tidak cukup memenuhi kebutuhan pasar global. Kekhawatiran pasokan mendorong negara-negara importir mencari alternatif rute pengiriman.
Reaksi Komunitas Internasional
Mantan Presiden AS Donald Trump telah meminta Iran menghentikan pungutan tol di Selat Hormuz. Permintaan ini disampaikan melalui saluran diplomatik namun belum mendapat respons resmi dari Teheran.
Komisi Parlemen Iran menyetujui penerapan tarif tol kapal pada awal April 2026. Komisi Keamanan bahkan mengusulkan pemberlakuan permanen kebijakan ini. "Sistem tol akan menjadi sumber pendapatan baru bagi negara," ujar anggota parlemen Iran.
Pengecualian untuk Malaysia
Kebijakan menariknya, Iran memberikan pengecualian bagi kapal-kapal berbendera Malaysia. Keputusan ini diduga terkait hubungan diplomatik khusus antara kedua negara. Tidak ada penjelasan resmi mengenai kriteria pengecualian lainnya.
Dua kapal Indonesia masih menunggu izin melintasi Selat Hormuz. Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah terus berkoordinasi dengan otoritas terkait. "Kami prioritaskan keselamatan awak kapal dan muatan," tegas Bahlil.
Penerapan tol Bitcoin di Selat Hormuz menandai babak baru dalam geopolitik energi. Kebijakan ini tidak hanya mempengaruhi arus perdagangan minyak, tetapi juga menguji efektivitas sanksi finansial internasional. Masyarakat global kini menunggu perkembangan lebih lanjut dari negosiasi yang sedang berlangsung.