JAVASCORNER.CO.ID, TEHERAN - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan negaranya bersiap menyambut pasukan Amerika Serikat dengan 'kejutan' mematikan, menanggapi rencana operasi darat Washington yang dikabarkan akan segera dilancarkan. Pernyataan tegas ini disampaikan pada hari Minggu (30 Maret 2026) melalui kantor berita resmi IRNA, di tengah eskalasi konflik yang memasuki minggu kelima.
Ancaman Militer yang Meningkat
Ghalibaf tidak main-main dengan peringatannya. "Pasukan kami sedang menunggu kedatangan tentara Amerika di lapangan untuk membakar mereka dan menghukum sekutu regional mereka sekali dan untuk selamanya," ujarnya.
Pernyataan ini muncul bersamaan dengan laporan The Washington Post bahwa Pentagon mempersiapkan operasi darat terbatas di Iran. Operasi tersebut berpotensi menyasar Pulau Kharg, pusat ekspor minyak mentah Iran, dan lokasi strategis dekat Selat Hormuz.
Pengiriman Pasukan AS
Persiapan militer Amerika Serikat tampak nyata. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi kedatangan sekitar 3.500 personel militer di Timur Tengah via kapal USS Tripoli pada Sabtu (29 Maret 2026).
Rencana lebih besar juga digulirkan. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebutkan akan mengirim ribuan tentara tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke kawasan tersebut dalam waktu dekat.
Kondisi Dalam Negeri Iran
Sementara ancaman eksternal membesar, Iran juga menghadapi tekanan internal. Serangkaian pemadaman listrik melanda Teheran, wilayah sekitarnya, dan provinsi Alborz pada hari Minggu.
Kementerian Energi Iran menyebut pemadaman terjadi "menyusul serangan terhadap fasilitas industri listrik." Meski kantor berita Fars melaporkan pemadaman sedang diatasi, sumber Al Jazeera di Teheran mengungkap pihak berwenang telah mengaktifkan gardu induk darurat.
Deadline Perdamaian yang Diperpanjang
Ketegangan ini terjadi di tengah diplomasi yang alot. Presiden Trump memperpanjang tenggat waktu selama 10 hari hingga 6 April 2026 untuk menerima rencana perdamaian 15 poin dari Washington.
Rencana yang oleh beberapa pengamat disebut "maksimalis" ini belum mendapat respons final dari Teheran. Ancaman Trump untuk menyerang infrastruktur energi Iran jika kesepakatan gagal masih menggantung.
Respons Internasional
Di tengah mobilisasi AS, sekutu tradisionalnya justru mengambil jarak. Pemerintah Inggris secara tegas menyatakan penolakan untuk mengirimkan pasukan militernya ke Iran guna mendukung operasi Amerika Serikat.
Penolakan London ini menambah kompleksitas koalisi potensial dalam konflik yang semakin meluas. Sikap negara-negara Eropa lainnya masih terus dipantau.
Eskalasi militer dan diplomatik antara Iran dengan koalisi AS-Israel ini mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah yang sudah rapuh. Masyarakat internasional menanti perkembangan dalam hari-hari kritis menjelang deadline 6 April, sementara kedua pihak terus menunjukkan kesiapan tempur mereka di lapangan.