JAVASCORNER.CO.ID, TEHERAN - Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Rabu (8/4/2026) sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Langkah ini mengancam gencatan senjata yang baru disepakati dengan Amerika Serikat dan memicu kekacauan di jalur pengiriman minyak global.
- Penutupan Strategis dan Dampak Global
- Pelanggaran Kesepakatan dan Tudingan
- Korban Jiwa dan Respons Internasional
- Sengketa Biaya Transit dan Masa Depan
Penutupan Strategis dan Dampak Global
Selat Hormuz, jalur vital bagi 20% perdagangan minyak dan gas dunia, kini tertutup. Iran mengambil keputusan ini setelah Israel melancarkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.
Gedung Putih langsung menuntut pembukaan kembali selat. Mereka menegaskan komitmen untuk melanjutkan pembicaraan damai sesuai jadwal.
Penutupan ini terjadi hanya sehari setelah gencatan senjata AS-Iran diumumkan. Situasi membuat pasar energi global waspada terhadap gangguan pasokan berkepanjangan.
Dampak Ekonomi Segera
Harga minyak mentah dunia melonjak 8% dalam perdagangan pagi ini. Analis memprediksi kenaikan bisa mencapai 15% jika penutupan berlangsung lebih dari 48 jam.
Beberapa negara Asia sudah mengajukan izin khusus untuk melintas. Namun Iran belum memberikan kepastian kepada negara-negara tersebut.
Pelanggaran Kesepakatan dan Tudingan
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut rencana pembicaraan damai "tidak masuk akal". Ia menuduh Washington melanggar tiga dari sepuluh syarat Teheran.
Pelanggaran yang dimaksud mencakup:
- Serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon
- Dugaan drone AS memasuki wilayah udara Iran pasca-gencatan senjata
- Penolakan AS terhadap kemampuan pengayaan uranium Iran dalam kesepakatan akhir
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa gencatan senjata harus mencakup penghentian perang di Lebanon. Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump bersikeras kesepakatan tidak berlaku untuk Lebanon.
Korban Jiwa dan Respons Internasional
Serangan Israel di Lebanon pada Rabu menewaskan setidaknya 182 orang. Al Jazeera melaporkan angka korban mencapai 254 tewas dan 1.165 luka-luka.
Ini menjadi hari paling mematikan sejak konflik meletus 40 hari lalu. Serangan menargetkan kawasan komersial dan pemukiman di Beirut.
Posisi Para Pihak
Juru bicara Wakil Presiden AS JD Vance menggambarkan kesepakatan gencatan senjata sebagai "rapuh". Ia mengakui ancaman kegagalan sangat nyata.
Perdana Menteri Pakistan sebagai mediator menyatakan kesepakatan berlaku "di mana saja, termasuk Lebanon dan wilayah lain". Pernyataan ini bertolak belakang dengan posisi AS dan Israel.
Arab Saudi menyambut gencatan senjata dengan hati-hati. Mereka berharap Selat Hormuz segera dibuka untuk umum demi stabilitas ekonomi regional.
Sengketa Biaya Transit dan Masa Depan
Iran mengklaim kesepakatan memungkinkan mereka memberlakukan biaya transit bagi kapal yang melewati Selat Hormuz. Mereka menetapkan tarif sekitar Rp34 miliar per kapal.
Gedung Putih dengan tegas menolak pungutan biaya apapun. Presiden Trump menyatakan tidak akan membayar "uang perlindungan" kepada Iran.
Kapal yang Diizinkan
Iran saat ini hanya mengizinkan 12 kapal melewati selat per hari. Kapal-kapal dari Irak sudah mendapatkan izin khusus, sementara negara lain masih menunggu kepastian.
Indonesia termasuk negara yang belum mendapat izin. Pemerintah RI terus melakukan lobi diplomatik untuk membebaskan kapal-kapal nasional yang tertahan.
Dampak bagi Indonesia
Kapal milik Pertamina masih tertahan di perairan internasional dekat Selat Hormuz. Pemerintah mengaku terus berkoordinasi dengan otoritas Iran untuk penyelesaian.
Kementerian ESDM memperkirakan gangguan pasokan bisa mempengaruhi stok BBM dalam negeri jika berlangsung lebih dari seminggu.
Ketegangan di Selat Hormuz menguji ketahanan kesepakatan damai yang baru berumur sehari. Dunia internasional menunggu langkah berikutnya dari Teheran dan Washington, sementara ekonomi global bersiap menghadapi gejolak energi yang lebih dalam.