JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Israel berencana melancarkan invasi darat "besar-besaran" ke Lebanon selatan untuk mengusir kelompok teror Hizbullah dari perbatasan. Rencana ini disampaikan pejabat AS dan Israel kepada media Axios pada Sabtu (15/3/2026), menyusul serangan roket skala besar oleh Hizbullah Rabu malam.
Rencana Invasi Darat
Operasi militer Israel bertujuan merebut seluruh wilayah di selatan Sungai Litani. Seorang pejabat senior Israel menyebut pendekatan ini mirip dengan operasi di Gaza.
"Kami akan melakukan apa yang kami lakukan di Gaza," katanya. Tujuannya mendorong pasukan Hizbullah ke utara dan menghancurkan posisi militer mereka.
Rencana ini dianggap tak terhindarkan setelah Hizbullah meluncurkan lebih dari 200 roket ke Israel utara. Serangan itu dikoordinasikan dengan Iran yang juga menembakkan rudal secara bersamaan.
Dukungan AS dan Kondisi
Amerika Serikat mendukung operasi Israel dengan beberapa syarat. Pemerintah AS meminta Israel tidak menyerang infrastruktur nasional Lebanon dan bandara internasional Beirut.
"Israel harus melakukan apa yang perlu untuk menghentikan serangan Hizbullah," kata pejabat AS. Israel setuju tidak menyerang bandara Beirut namun belum berkomitmen penuh soal infrastruktur lain.
Pejabat Israel mengaku memiliki dukungan penuh AS untuk operasi ini. Mereka akan berkonsultasi dengan Washington secara kasus per kasus terkait target serangan.
Eskalasi Konflik Terbaru
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengancam akan menyerang lebih banyak infrastruktur Lebanon. Pernyataan ini disampaikan setelah IDF menghancurkan jembatan di Sungai Litani Jumat lalu.
Jembatan itu digunakan Hizbullah untuk pergerakan pasukan dari utara ke selatan Lebanon. Militer Israel menyebut serangan diperlukan untuk mencegah ancaman terhadap warga sipil.
Hizbullah terus melancarkan serangan roket dan drone ke Israel sepanjang Sabtu. Sirene peringatan berbunyi di komunitas perbatasan utara Margaliot.
Upaya Diplomasi Paralel
Di tengah persiapan militer, Israel juga mempersiapkan kemungkinan perundingan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menunjuk mantan menteri urusan strategis Ron Dermer untuk menangani upaya diplomatik terkait Lebanon.
Presiden AS Donald Trump menugaskan utusannya untuk Afrika Massad Boulos memfasilitasi pembicaraan. Administrasi Trump menginginkan kesepakatan lebih luas untuk mengakhiri keadaan perang antara Israel dan Lebanon.
Presiden Lebanon Joseph Aoun sebelumnya menawarkan negosiasi langsung dengan Israel. Hingga Jumat, dia mengaku belum menerima tanggapan dari pihak Israel.
Konflik ini memasuki fase baru dengan potensi invasi darat skala besar. Situasi berkembang cepat sementara warga sipil di kedua sisi perbatasan menghadapi ketidakpastian yang makin dalam.