JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah Indonesia belum merencanakan penarikan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Pernyataan ini disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi usai tiga prajurit Indonesia gugur dalam serangan terpisah di Lebanon selatan.
"Kalau pertanyaannya sampai ke keputusan penarikan, itu belum, ya," tegas Prasetyo dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026).
Ia menambahkan, pemerintah masih melakukan koordinasi intensif pasca-insiden memilukan yang menimpa prajurit Indonesia. Evaluasi menyeluruh terhadap pengiriman personel TNI sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB akan segera dilakukan.
- Pernyataan Resmi Pemerintah
- Evaluasi Mendalam Dijanjikan
- Kronologi Insiden Memilukan
- Daftar Korban Jiwa dan Luka
- Tanggapan dari Berbagai Pihak
Pernyataan Resmi Pemerintah
Prasetyo Hadi menegaskan, pemerintah tetap berkomitmen pada misi perdamaian PBB di Lebanon. Namun, keselamatan prajurit Indonesia menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
"Dengan adanya kejadian yang kemarin, tentu kami pemerintah harus melakukan koordinasi," ujarnya.
Menteri Sekretaris Negara mengaku belum menerima laporan hasil investigasi PBB mengenai tewasnya tiga prajurit TNI. Satu di antaranya diduga menjadi korban serangan Israel.
"Belum, kita belum terima laporan. Kita fokus yang hari ini," jelas Prasetyo.
Evaluasi Mendalam Dijanjikan
Pemerintah berjanji melakukan evaluasi komprehensif terhadap partisipasi Indonesia dalam misi UNIFIL. Proses ini akan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk keamanan personel dan dinamika konflik di lapangan.
"Iya, (pengiriman pasukan perdamaian) pasti, pasti (akan dievaluasi). Makanya apa yang disampaikan Pak Menlu itu juga bagian dari proses evaluasi," kata Prasetyo.
Peran Kementerian Luar Negeri
Menteri Luar Negeri Sugiono sebelumnya menyampaikan berbagai fenomena yang menjadi perhatian Indonesia terkait situasi di Lebanon. Pernyataan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam evaluasi.
Begitu pula dengan laporan dari Wakil Tetap RI di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Semua masukan akan dikaji secara mendalam sebelum pemerintah mengambil keputusan final.
"Ya kita lihat dulu hasilnya kan," tutur Prasetyo mengenai kemungkinan penarikan pasukan.
Kronologi Insiden Memilukan
Tiga prajurit TNI gugur dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan akhir Maret 2026. Kejadian ini mencoret catatan panjang kontingen Indonesia dalam misi perdamaian PBB.
Insiden pertama terjadi Minggu (29/3/2026). Satu prajurit tewas akibat serangan artileri di dekat Adchit Al Qusayr.
Keesokan harinya, Senin (30/3/2026), dua prajurit lainnya gugur saat mengawal konvoi pasukan. Mereka menjadi korban serangan tak terduga di wilayah konflik.
Daftar Korban Jiwa dan Luka
Berikut nama-nama prajurit TNI yang gugur dalam misi UNIFIL:
- Praka Dua Farizal Rhomadhon - tewas 29 Maret 2026
- Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar - tewas 30 Maret 2026
- Sertu Muhammad Nur Ichwan - tewas 30 Maret 2026
Selain korban jiwa, lima prajurit lainnya mengalami luka-luka:
- Letnan Satu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana
- Praka Deni Rianto
- Praka Rico Pramudia
- Praka Bayu Prakoso
- Praka Arif Kurniawan
Terbaru, Jumat (3/4/2025), tiga prajurit penjaga perdamaian Indonesia kembali terluka akibat ledakan di El Addaiseh. Insiden ini mempertegas risiko tinggi yang dihadapi pasukan Indonesia di Lebanon.
Tanggapan dari Berbagai Pihak
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat sebelumnya mendorong opsi penarikan pasukan TNI dari UNIFIL. Mereka menilai keselamatan prajurit harus diutamakan di tengah eskalasi konflik Israel-Lebanon.
Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga meminta PBB menghentikan penugasan prajurit UNIFIL di Lebanon. Ia menekankan pentingnya perlindungan maksimal bagi pasukan perdamaian.
Masyarakat Indonesia turut berduka atas gugurnya tiga prajurit TNI. Banyak yang mempertanyakan efektivitas misi perdamaian di tengah konflik yang terus memanas.
Pemerintah berjanji terus memantau perkembangan situasi di Lebanon. Keputusan akhir mengenai keberlanjutan partisipasi Indonesia dalam UNIFIL akan diumumkan setelah evaluasi selesai. Harapannya, solusi terbaik dapat ditemukan tanpa mengorbankan nyawa prajurit lebih banyak lagi.