JAVASCORNER.CO.ID, BANDUNG - Institut Teknologi Bandung (ITB) merespons viralnya video lama yang menampilkan mahasiswa menyanyikan lagu 'Erika' oleh Orkes Semi Dangdut Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT-ITB). Lagu tersebut menuai kontroversi karena liriknya dinilai mengandung muatan pelecehan terhadap perempuan.
Video yang direkam pada 2020 itu kembali beredar luas di media sosial pekan ini. Pihak kampus melalui Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, Nurlaela Arief, menyatakan peristiwa ini menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya kampus yang menjunjung etika dan penghormatan martabat manusia.
Resmi Resmi ITB
Nurlaela Arief, yang akrab disapa Lala, mengonfirmasi bahwa HMT-ITB telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka terkait video tersebut. Permintaan maaf itu disampaikan melalui kanal resmi organisasi setelah konten menjadi perbincangan publik.
"HMT-ITB menyatakan tidak membenarkan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat individu maupun kelompok mana pun," tegas Lala dalam keterangan tertulis yang diterima JavasCorner, Kamis (16/4/2026).
Ia menambahkan, ITB memandang serius isu kekerasan seksual verbal. Kampus berkomitmen mencegah segala bentuk kekerasan, termasuk yang muncul melalui konten atau ekspresi seni.
Langkah Konkret
Sebagai tindak lanjut, HMT-ITB telah mengambil beberapa langkah:
- Menurunkan konten video dan audio dari kanal resmi organisasi
- Membersihkan akun-akun terafiliasi dari materi serupa
- Melakukan evaluasi internal menyeluruh terhadap konten dan kegiatan
- Meninjau ulang standar dan pedoman organisasi
Tindakan HMT-ITB
Himpunan Mahasiswa Tambang ITB aktif berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengatasi dampak viralnya video tersebut. Organisasi kemahasiswaan ini menyatakan konten tersebut tidak mewakili nilai-nilai yang mereka anut sekarang.
"Kami menyadari bahwa konten yang dibuat beberapa tahun lalu tidak sesuai dengan perkembangan kesadaran kami tentang kesetaraan dan penghormatan," bunyi pernyataan HMT-ITB yang dikutip dari media sosial resmi mereka.
Evaluasi internal yang dilakukan mencakup tiga aspek utama:
- Kesesuaian konten dengan nilai etika kampus
- Mekanisme pengawasan kegiatan organisasi
- Penyelarasan pedoman dengan perkembangan sosial
Konteks Kasus
Lagu 'Erika' yang dinyanyikan OSD HMT-ITB sebenarnya merupakan adaptasi dari lagu mars Jerman berjudul sama. Namun, lirik yang diubah dalam versi mahasiswa ITB mengandung ungkapan yang dianggap merendahkan perempuan.
Viralnya konten ini terjadi di tengah meningkatnya kesadaran publik tentang kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Beberapa pekan sebelumnya, Universitas Indonesia membekukan status 16 mahasiswa Fakultas Hukum yang diduga terlibat pelecehan seksual melalui grup chat.
Masyarakat sipil dan aktivis perempuan telah lama mendorong institusi pendidikan untuk lebih tegas menangani kasus-kasus pelecehan. Mereka menekankan pentingnya lingkungan kampus yang aman bagi semua civitas akademika.
Reaksi Warganet
Di platform media sosial, reaksi warganet terbelah. Sebagian mengapresiasi permintaan maaf dan langkah perbaikan yang diambil. Sebagian lain mempertanyakan mengapa konten bermasalah bisa diproduksi dan dipublikasikan oleh organisasi mahasiswa terkemuka.
"Permintaan maaf adalah awal yang baik, tapi yang lebih penting adalah perubahan sistemik di kampus," tulis salah satu akun Twitter yang mengikuti perkembangan kasus ini.
Komitmen Kampus
ITB menegaskan komitmennya membangun lingkungan kampus yang inklusif dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Lala menyatakan, insiden ini akan menjadi bahan pembelajaran bagi seluruh komunitas ITB.
"Kami akan menggunakan momen ini untuk memperkuat edukasi tentang kesetaraan gender dan pencegahan kekerasan seksual," ujarnya. "ITB berdedikasi menciptakan atmosfer akademik yang menghargai setiap individu."
Kampus telah memiliki sejumlah mekanisme untuk menangani pengaduan terkait kekerasan seksual. Mahasiswa dan staf didorong untuk melaporkan setiap insiden melalui saluran yang tersedia.
Pihak ITB berharap respons cepat terhadap kasus ini dapat menunjukkan keseriusan institusi dalam menjaga martabat seluruh warga kampus. Upaya perbaikan berkelanjutan akan terus dipantau untuk memastikan lingkungan pendidikan yang sehat dan bermartabat.