Kesehatan

JOMO: Kebahagiaan dari Tidak Tahu Tren Sosial Terbaru

Ujang Trisno Ujang Trisno 13 Mar 2026 01:27 52 Views
Ilustrasi orang bahagia tanpa smartphone di tengah keramaian digital

Ilustrasi orang bahagia tanpa smartphone di tengah keramaian digital

JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Fenomena Joy of Missing Out (JOMO) muncul sebagai tren kesehatan mental yang mendorong kebahagiaan dengan sengaja melewatkan informasi atau aktivitas sosial. Konsep ini berkembang sebagai respons terhadap tekanan FOMO (Fear of Missing Out) yang kerap memicu kecemasan di era digital.

Apa Itu JOMO?

JOMO atau Joy of Missing Out pertama kali dipopulerkan oleh penulis Anil Dash pada 2012. Konsep ini merujuk pada perasaan nyaman dan bahagia ketika seseorang memilih untuk tidak mengikuti tren terbaru atau acara sosial.

Psikolog klinis Dr. Maya Sari menjelaskan, JOMO bukan tentang mengisolasi diri. Ini lebih pada kesadaran untuk memprioritaskan kesejahteraan mental dengan mengurangi paparan informasi berlebihan.

"Masyarakat modern sering terjebak dalam siklus membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain di media sosial," ujarnya. "JOMO mengajak kita untuk fokus pada apa yang benar-benar penting."

Bedanya dengan FOMO

FOMO atau Fear of Missing Out telah lama dikaitkan dengan stres digital. Kondisi ini membuat individu terus-menerus memantau aktivitas orang lain karena takut ketinggalan.

Sebaliknya, JOMO justru merayakan kebebasan dari tekanan tersebut. Penelitian dari University of Pennsylvania menunjukkan, mengurangi waktu media sosial secara signifikan menurunkan gejala depresi dan kesepian.

"FOMO datang dari eksternal, sementara JOMO tumbuh dari dalam," tambah Dr. Maya. "Ini tentang mengambil kendali atas perhatian dan energi kita."

Manfaat Psikologis

Menerapkan prinsip JOMO memberikan beberapa keuntungan konkret bagi kesehatan mental. Pertama, kualitas tidur meningkat karena mengurangi paparan cahaya biru dari gawai sebelum tidur.

Kedua, produktivitas naik saat perhatian tidak terus terpecah oleh notifikasi. Studi dalam Journal of Social Psychology membuktikan, multitasking digital justru menurunkan efisiensi kerja hingga 40%.

Ketiga, hubungan interpersonal menjadi lebih bermakna. "Ketika bertemu langsung, kita benar-benar hadir secara mental," jelas psikolog sosial Ahmad Fauzi.

Cara Menerapkan

Memulai JOMO tidak memerlukan perubahan drastis. Langkah pertama adalah menetapkan batasan waktu menggunakan media sosial, misalnya maksimal satu jam per hari.

Kedua, matikan notifikasi non-esensial dari aplikasi percakapan dan sosial. Ketiga, alokasikan waktu khusus untuk aktivitas offline seperti membaca buku atau berjalan kaki.

"Kuncinya konsistensi," saran Ahmad Fauzi. "Mulai dari hal kecil, seperti tidak membuka ponsel selama makan malam bersama keluarga."

Tren JOMO menunjukkan pergeseran paradigma dalam masyarakat digital. Banyak orang mulai menyadari bahwa kebahagiaan sejati sering datang dari momen yang sengaja dilewatkan, bukan dari terus-menerus terhubung.

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

▸ TAG TOPIK

#kesehatan mental #JOMO #tren sosial #psikologi #gaya hidup

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner