JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Fenomena Joy of Missing Out (JOMO) muncul sebagai tren kesehatan mental yang mendorong kebahagiaan dengan sengaja melewatkan informasi atau aktivitas sosial. Konsep ini berkembang sebagai respons terhadap tekanan FOMO (Fear of Missing Out) yang kerap memicu kecemasan di era digital.
Apa Itu JOMO?
JOMO atau Joy of Missing Out pertama kali dipopulerkan oleh penulis Anil Dash pada 2012. Konsep ini merujuk pada perasaan nyaman dan bahagia ketika seseorang memilih untuk tidak mengikuti tren terbaru atau acara sosial.
Psikolog klinis Dr. Maya Sari menjelaskan, JOMO bukan tentang mengisolasi diri. Ini lebih pada kesadaran untuk memprioritaskan kesejahteraan mental dengan mengurangi paparan informasi berlebihan.
"Masyarakat modern sering terjebak dalam siklus membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain di media sosial," ujarnya. "JOMO mengajak kita untuk fokus pada apa yang benar-benar penting."
Bedanya dengan FOMO
FOMO atau Fear of Missing Out telah lama dikaitkan dengan stres digital. Kondisi ini membuat individu terus-menerus memantau aktivitas orang lain karena takut ketinggalan.
Sebaliknya, JOMO justru merayakan kebebasan dari tekanan tersebut. Penelitian dari University of Pennsylvania menunjukkan, mengurangi waktu media sosial secara signifikan menurunkan gejala depresi dan kesepian.
"FOMO datang dari eksternal, sementara JOMO tumbuh dari dalam," tambah Dr. Maya. "Ini tentang mengambil kendali atas perhatian dan energi kita."
Manfaat Psikologis
Menerapkan prinsip JOMO memberikan beberapa keuntungan konkret bagi kesehatan mental. Pertama, kualitas tidur meningkat karena mengurangi paparan cahaya biru dari gawai sebelum tidur.
Kedua, produktivitas naik saat perhatian tidak terus terpecah oleh notifikasi. Studi dalam Journal of Social Psychology membuktikan, multitasking digital justru menurunkan efisiensi kerja hingga 40%.
Ketiga, hubungan interpersonal menjadi lebih bermakna. "Ketika bertemu langsung, kita benar-benar hadir secara mental," jelas psikolog sosial Ahmad Fauzi.
Cara Menerapkan
Memulai JOMO tidak memerlukan perubahan drastis. Langkah pertama adalah menetapkan batasan waktu menggunakan media sosial, misalnya maksimal satu jam per hari.
Kedua, matikan notifikasi non-esensial dari aplikasi percakapan dan sosial. Ketiga, alokasikan waktu khusus untuk aktivitas offline seperti membaca buku atau berjalan kaki.
"Kuncinya konsistensi," saran Ahmad Fauzi. "Mulai dari hal kecil, seperti tidak membuka ponsel selama makan malam bersama keluarga."
Tren JOMO menunjukkan pergeseran paradigma dalam masyarakat digital. Banyak orang mulai menyadari bahwa kebahagiaan sejati sering datang dari momen yang sengaja dilewatkan, bukan dari terus-menerus terhubung.