Javas Corner - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali dirasakan oleh negara tetangga. Di Sarawak, Malaysia, puluhan sekolah di Divisi Bintulu terpaksa ditutup sementara hingga 11 September 2026 akibat kualitas udara yang memburuk secara signifikan. Keputusan ini diambil setelah indeks polusi udara atau Air Pollutant Index (API) di Bintulu mencapai angka 206 pada Sabtu (5/9/2026) pukul 20.00 waktu setempat, yang masuk kategori "sangat tidak sehat".
Departemen Pendidikan Sarawak menetapkan penutupan berlaku mulai Senin (7/9/2026) hingga Jumat (11/9/2026). Kebijakan ini mencakup 54 sekolah dasar dan 9 sekolah menengah di distrik Bintulu serta Tatau/Sebauh. Total 22.476 siswa sekolah dasar dan 17.268 siswa sekolah menengah terpaksa menjalani pembelajaran dari rumah melalui sistem Home-Based Teaching and Learning (PdPR).
Penutupan di Bintulu menambah panjang daftar institusi pendidikan di Sarawak yang terdampak kabut asap lintas batas. Secara keseluruhan, Departemen Pendidikan Sarawak mencatat 617 sekolah dasar dengan 130.953 siswa serta 93 sekolah menengah dengan 107.350 siswa berada di bawah 14 kantor pendidikan distrik yang terdampak. Artinya, total 710 sekolah dan lebih dari 238.000 siswa di Sarawak harus menyesuaikan kegiatan belajar mengajar akibat kondisi udara yang tidak sehat.
Kabut asap yang menyelimuti Sarawak tidak lepas dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Indonesia, terutama di Pulau Kalimantan. Asap dari titik-titik api terbawa angin melintasi perbatasan dan menyelimuti wilayah Malaysia. Kondisi ini menjadi persoalan serius karena tidak hanya mengganggu aktivitas pendidikan, tetapi juga kesehatan masyarakat.
Reuters melaporkan bahwa karhutla di Indonesia telah menyebabkan sekitar 1,4 juta siswa di enam provinsi beralih ke pembelajaran daring akibat kualitas udara yang memburuk. Fenomena El Nino super memperparah situasi dengan membuat suhu meningkat dan vegetasi serta lahan gambut menjadi lebih mudah terbakar.
Pemerintah Malaysia sebelumnya telah menetapkan status darurat di Serian, Sarawak, setelah kualitas udara mencapai level bahaya. Operasi hujan buatan juga telah dilakukan sebagai upaya mengatasi kekeringan dan kabut asap. Namun, selama sumber api di Indonesia belum sepenuhnya terkendali, ancaman kabut asap lintas batas akan terus membayangi.
Situasi ini menegaskan bahwa karhutla bukan sekadar bencana nasional, melainkan persoalan regional yang membutuhkan kerja sama lintas negara. Penanganan serius di tingkat akar masalah, pencegahan pembakaran lahan, serta penegakan hukum yang tegas menjadi kunci agar tragedi kabut asap tahunan ini tidak terus berulang dan merugikan jutaan orang di kedua negara.
#KabutAsap #Karhutla #Sarawak #Bintulu #KualitasUdara #ElNino #KarhutlaKalimantan #IndonesiaMalaysia #BencanaAsap #LingkunganHidup