Ketahanan energi Indonesia masih rentan karena negara belum memiliki cadangan penyangga energi strategis yang memadai. Menurut Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, stok BBM yang ada saat ini hanyalah stok operasional milik badan usaha, bukan cadangan strategis milik negara.
Kondisi ini membuat Indonesia sangat bergantung pada perputaran stok operasional yang cepat. Dalam praktik bisnis normal, badan usaha cenderung menjaga stok agar tidak terlalu lama menahan dana dalam bentuk persediaan.
Daftar Isi
Stok Operasional Bukan Cadangan Strategis
Komaidi Notonegoro menjelaskan bahwa Indonesia saat ini hanya memiliki stok BBM selama 20-25 hari. Namun, stok ini bukan milik negara melainkan stok operasional badan usaha yang belum terjual. Artinya, cadangan penyangga energi atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) belum tersedia secara memadai.
Dalam konteks menjaga keamanan pasokan BBM nasional, badan usaha seperti Pertamina harus menambah stok operasional. Hal ini membuat dana perusahaan dalam jumlah besar harus tertahan dalam bentuk persediaan BBM.
Ketergantungan pada Badan Usaha
Sistem ini membuat ketahanan energi nasional sangat bergantung pada kondisi keuangan dan operasional badan usaha. Jika terjadi gangguan pada badan usaha, maka pasokan energi nasional bisa terancam.
Biaya Besar Cadangan Energi
Menyediakan cadangan penyangga energi memerlukan biaya yang sangat besar. Komaidi memerinci bahwa untuk menyediakan stok BBM selama satu hari saja, diperlukan alokasi anggaran sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun.
"Jadi kalau 30 hari ya otomatis kelihatan angkanya berapa ya antara Rp 60-90 triliun," katanya. Angka ini menunjukkan betapa mahalnya membangun sistem cadangan energi yang benar-benar strategis.
Investasi Jangka Panjang
Meski mahal, investasi dalam cadangan penyangga energi merupakan kebutuhan jangka panjang. Cadangan ini akan melindungi Indonesia dari gejolak pasokan energi global yang tidak terduga.
Dampak Ketahanan Energi
Tidak adanya cadangan penyangga energi strategis membuat Indonesia rentan terhadap berbagai risiko. Gangguan pasokan dari luar negeri atau masalah internal bisa langsung berdampak pada ketersediaan energi di dalam negeri.
Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat energi merupakan tulang punggung perekonomian. Setiap gangguan pada pasokan energi bisa mempengaruhi berbagai sektor ekonomi lainnya.
Perlunya Kebijakan Strategis
Indonesia perlu segera mengembangkan kebijakan yang komprehensif untuk membangun cadangan penyangga energi. Kebijakan ini harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan mempertimbangkan aspek finansial yang berkelanjutan.
Dengan cadangan energi yang memadai, Indonesia bisa lebih siap menghadapi berbagai tantangan energi di masa depan. Ini bukan hanya tentang ketersediaan BBM, tetapi tentang ketahanan nasional secara keseluruhan.