Cerpen

Kisah 19 Juta Lowongan Kerja yang Tak Pernah Ada

Ujang Trisno Ujang Trisno 11 Apr 2026 12:04 71 Views
Kisah 19 Juta Lowongan Kerja yang Tak Pernah Ada

Kisah 19 Juta Lowongan Kerja yang Tak Pernah Ada

Kisah 19 Juta Lowongan Kerja yang Tak Pernah Ada

Karya: U.T

 

Di sebuah warung kopi bernama Warkop BTN (Bebas Tapi Ngutang), berkumpulah tiga sekawan: Ucup, Markonah, dan Bang Bewok.

 

Seperti biasa, topik obrolan mereka adalah kegalauan abadi kaum milenial dan Gen Z: Lowongan Pekerjaan.

 

"Gila lu, Ndro!" seru Ucup sambil membanting ponsel bututnya ke meja. "Gue baru liat berita di tipi-tipi. Katanya Pak Menteri berhasil ciptain 19 Juta Lapangan Kerja!"

 

Markonah yang sedang asyik menyeruput kopi susu kekinian langsung tersedak. "Apa?! 19 juta? Gila. Itu lebih banyak dari jumlah orang yang nonton konser Coldplay sambil nangis-nangis!"

 

Bang Bewok, pemilik warung yang juga mantan Ketua RT tiga periode, hanya terkekeh sambil melipat koran bekas bungkus tempe. "Wajar, Ntong. Kalian ini katrok. Kalian cuma ngitung lowongan di LinkedIn, Jobstreet, sama Glints. Pemerintah mah ngitungnya pake nalar langit."

 

Definisi Bekerja Menurut Data Ajaib

 

"Loh, maksudnya gimana, Bang?" tanya Ucup penasaran.

 

Bang Bewok menarik napas panjang, lalu mengeluarkan kalkulator butut dari laci rokoknya. "Begini. Lo kan jualan es teh di pinggir rel tadi pagi?"

 

"Jualan doang sih, Bang. Belum laku," sahut Ucup.

 

"Nah, itu udah termasuk 1 lapangan kerja tercipta."

 

Markonah melotot. "HAH?! Gue yang cuma bantuin nyokap masak di dapur juga termasuk?"

 

"Itu mah wirausaha, Non. UMKM naik kelas. Tambah 1 lagi. Trus si Bewok ini kan tadi motongin kuku kakinya sendiri pakai gunting dapur?"

 

"Terus?"

 

"Itu kerja juga. Namanya Personal Grooming Technician. Tambah 1 lagi. Kalian ini nggak paham metodologi. Pemerintah nggak cuma ngitung orang yang digaji perusahaan. Pemerintah ngitung orang yang ngerjain sesuatu. Itu kan definisi bekerja."

 

Ucup garuk-garuk kepala. "Berarti... bapak gue yang tiap pagi olahraga angkat barbel dari semen cor itu termasuk Atlet Angkat Besi Nasional dong, Bang?"

 

"Nah, itu! Pinter lo sekarang. Udah 3 lapangan kerja tuh barusan kita ciptain sambil ngopi doang. 19 juta mah gampang. Lo kira yang ngisi survei kagak pusing apa? Disuruh bikin prestasi di tengah resesi."

 

Insiden di Pusat Informasi Kerja

 

Karena penasaran dengan klaim 19 juta itu, Ucup dan Markonah memutuskan untuk mendatangi Balai Latihan Kerja (BLK) terdekat. Di sana, spanduknya gagah perkasa: "KAMI SIAP MENCIPTAKAN SDM UNGGUL, INOVATIF, DAN MANDIRI."

 

Di bawah spanduk itu, ada antrean panjang. Bukan antrean wawancara, tapi antrean ngisi daftar hadir.

 

"Siapa di sini yang dapat kerjaan, Pak?" tanya Ucup pada seorang Bapak-bapak berpeci.

 

"Saya dapat. Sertifikat," jawab Bapak itu singkat.

 

"Wah, langsung diterima di perusahaan?"

 

"Bukan. Sertifikat Pelatihan Membuat Kue Lumpur. Jadi sekarang saya wirausaha. Jualan di depan gang. Laku satu hari dua bungkus. Sama istri saya sendiri."

 

"Tapi kan itu lapangan kerja, Pak?"

 

"Iya, secara statistik. Secara dompet, masih defisit."

 

Tiba-tiba dari dalam aula terdengar suara riuh. Seorang instruktur bertubuh gempal dengan kemeja batik yang basah oleh keringat tampak berapi-api memberikan motivasi.

 

"Bapak-Ibu sekalian! Jangan hanya menjadi pencari kerja! Jadilah PENCIPTA LAPANGAN KERJA!"

 

Markonah berbisik, "Kok kayak sulap ya. Kita disuruh nyiptain kerjaan sendiri, tapi yang ngaku-ngaku bikin 19 juta itu dia."

 

Instruktur itu melanjutkan, "Pemerintah sudah menyediakan infrastruktur! Ada KUR, ada Bantuan Produktif Usaha Mikro!"

 

"Permisi, Pak Instruktur," potong Ucup. "Saya kemarin coba daftar KUR buat modal jualan es teh. Disuruh bikin proposal, NPWP, sama SIUP. Saya bilang ke bank, saya cuma mau jual es teh plastik, bukan mau bangun gedung DPR. Kata Mbak CS-nya, 'Sistemnya memang begitu, Mas. Atau Mas bisa pinjam duit pribadi dulu untuk modal.' Lah kalau gue punya duit pribadi, ngapain gue pinjem?!"

 

Satu ruangan tertawa getir. Instruktur itu buru-buru minum air putih. "Itu... itu kan untuk ketertiban administrasi. Agar tidak ada yang main-main."

 

"Jadi yang main-main itu kami, Pak? Bukan yang nge-klaim wirausaha mie ayam gerobakan sebagai 1 lapangan kerja formal?"

 

Konsep "Mager" sebagai Konsekuensi Data

 

Sore harinya, di Warkop BTN, suasana lebih muram. Hujan turun rintik-rintik.

 

"Gue udah apply 100 lamaran, Non," keluh Ucup. "Dari mulai jadi admin gudang sampai Social Media Specialist. Jawabannya cuma satu: 'We regret to inform you...' Bahkan gue lamar jadi OB di kantor yang nge-post lowongan Operator Produksi aja ditolak, alasannya overqualified. Padahal skill gue cuma bisa ngepel sama ngaduk kopi."

 

Bang Bewok menyela, "Ya salah lo sendiri, Cup. Lo ngarep kerja yang ada kantornya. Jangan. Itu mah pemikiran kolonial. Sekarang itu zamannya Gig Economy, Flexible Workspace, atau apalah itu istilahnya. Yang penting jadi angka."

 

"Terus gue harus ngapain, Bang?"

 

"Tidur."

 

"Tidur?!"

 

"Iya. Lo tau orang-orang rebahan di rumah sambil nunggu THR? Itu kan kerja juga. Secara mental dia sedang mempertahankan kewarasan. Secara fisik dia menghemat energi negara. Secara ekonomi dia menekan inflasi dengan tidak jajan. Itu pahlawan. Nggak kalah sama yang di kementerian."

 

Markonah meradang. "Bang Bewok nih nyindir ya. Serius, gue capek. Di sosmed gue lihat Pak Menteri joget-joget terus di depan kamera. Dikit-dikit potong tumpeng, dikit-dikit seremonial. Gue pikir, kalau 19 juta kerjaan beneran ada, harusnya kemacetan di Jakarta tambah parah dong, karena orang pada berangkat kerja. Lah ini tol masih aja sepi jam 8 pagi."

 

"Jangan suudzon, Non," sahut Bang Bewok. "Mungkin mereka kerja remote dari kampung halaman masing-masing."

 

"Mana ada remote. Paling-paling remote TV buat nonton sinetron sambil nunggu Bansos cair."

 

Dialog Tingkat Tinggi di Warung Kopi

 

Hujan semakin deras. Seorang pemuda berkacamata tebal tiba-tiba duduk di pojok warung. Ia membawa tas ransel yang penuh dengan map-map kumal. Rupanya ia adalah Joni, fresh graduate Hubungan Internasional dari universitas negeri terkemuka.

 

"Bang, es teh manis satu. Jangan terlalu manis, gula itu racun," kata Joni.

 

Ucup langsung menimpali, "Wah, baru kali ini ada yang nyebut gula racun tapi pesen es teh manis."

 

Joni tersenyum tipis. "Ini ironi, Mas. Sama seperti 19 juta lapangan kerja. Kedengarannya manis, tapi setelah diminum, ternyata hanya air putih."

 

Kami semua tertegun. Ternyata benar kata pepatah, tong kosong nyaring bunyinya, tapi anak HI kalau sudah frustasi, kata-katanya dalem.

 

"Saya ini lulusan HI, Mas. Saya paham betul cara kerja diplomasi dan narasi. Itu namanya framing. Kalau saya bilang 'saya nganggur', itu sedih. Tapi kalau pemerintah bilang '19 juta lapangan kerja tercipta', itu prestasi. Padahal definisinya aja beda. Saya kemarin survei kecil-kecilan. Banyak temen saya yang jualan pulsa, itu dihitung wirausaha. Temen saya yang jadi admin slot online, itu masuk ekonomi digital. Saya sendiri ngajar les privat anak tetangga, itu masuk sektor jasa pendidikan. Secara matematika, iya, 19 juta tercapai. Tapi coba tanya satu per satu, 'Mas, bulan ini bisa nabung?' Pasti geleng-geleng."

 

Markonah bertanya, "Terus menurutmu, Joni, apa itu lapangan kerja yang sebenarnya?"

 

"Lapangan kerja itu kalau kamu tiap pagi bangun dengan kepastian: hari ini gue dibayar cukup untuk hidup, besok lusa nggak di-PHK tiba-tiba, dan ada uang buat berobat kalau sakit. Bukan cuma sekadar ngerjain sesuatu. Kalau cuma sekadar ngerjain sesuatu, maling motor juga lagi bekerja, tapi itu kan nggak dimasukin statistik."

 

Ucup mengacungkan jempol. "Gokil. Joni keren."

 

Joni menyesap es tehnya. "Saya nggak keren. Saya cuma berharap pejabat yang bikin data itu turun ke sini sekali-kali. Biar mereka ngerti, kalau ngejar target 19 juta dengan definisi anything goes itu cuma ngibulin diri sendiri."

 

Klimaks: Keajaiban di Depan Layar Kaca

 

Keesokan harinya, keajaiban terjadi. Televisi butut di Warkop BTN menampilkan siaran langsung sebuah acara penandatanganan MoU antara Kementerian dengan perusahaan startup besar. Judul beritanya: "PEMERINTAH CIPTAKAN EKOSISTEM KERJA FLEKSIBEL BAGI 1 JUTA MITRA."

 

Ucup loncat kegirangan. "WIH! AKHIRNYA! GUE MAU DAFTAR JADI MITRA OJEK ONLINE!"

 

Dengan semangat 45, Ucup langsung install aplikasi. Verifikasi KTP. Verifikasi wajah. Selesai. Muncul notifikasi: "Selamat, Anda kini menjadi Mitra!"

 

Ucup nangis haru di pelukan Markonah. "Non... gue kerja. Akhirnya gue punya kerjaan."

 

Markonah ikut terharu, sampai ia sadar satu hal. "Cup... emang lo punya motor?"

 

Ucup terdiam. Lalu menatap Bang Bewok.

 

Bang Bewok cengar-cengir. "Pinjem motor butut gue aja Cup. Tapi bensin isi sendiri ya."

 

Sore itu, Ucup resmi menjadi bagian dari statistik 19 juta lapangan kerja. Ia mengayuh motor butut Bang Bewok menyusuri jalanan. Sayangnya, karena hujan deras dan ban motor Bang Bewok gundul, Ucup terpeleset di kubangan lumpur depan Kantor Kelurahan.

 

Saat tergeletak di lumpur sambil memeluk jaket ojek online-nya, seorang petugas sensus lewat.

 

"Mas... Mas kenapa?"

 

"Kerja, Pak. Lagi narik."

 

"Oh syukur. Berarti status pekerjaan Mas apa?"

 

"Mitra."

 

Petugas sensus itu mencatat di tabletnya: "Penambahan 1 lapangan kerja informal di sektor transportasi."

 

Ucup menatap langit mendung. Lalu ia berbisik pada genangan air hujan, "19 juta cerita. 19 juta definisi. Dan 19 juta orang yang masih nunggu THR dari langit."

 

Selesai.

 

 

Ujang Trisno

// Verified Author

Ujang Trisno

Founder & Technical Director

Pakar arsitektur web dan sistem keamanan digital di Javas Corner Media.

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner