JAVASCORNER.CO.ID, SOLO - Khusnani Hayati, seorang ibu 54 tahun asal Solo yang hanya tamat SMA, berhasil membina 405 orang dalam kegiatan keagamaan, termasuk sarjana, master, doktor, hingga profesor. Aktivitasnya mencakup 23 kelompok pembinaan pekanan melalui Usrah Pembinaan Aqidah (UPA) dan Majelis Taklim (MT).
Profil Bu Una
Bu Una, panggilan akrab Khusnani Hayati, tinggal di Kota Solo bersama suami dan enam anak. Suaminya, Abdul Ghofar Ismail, menjabat sebagai Ketua BKAP DPW PKS Jawa Tengah.
Selain mengurus keluarga, Bu Una aktif mengelola Yayasan Insan Mulia Surakarta. Ia juga tercatat sebagai pengurus BKAP DPD PKS Kota Solo.
Keterlibatannya dalam dunia pembinaan bermula sejak 1991. Pengalaman mengajar madrasah sejak SMP menjadi fondasi kuat bagi perjalanan dakwahnya.
Aktivitas Pembinaan
Setiap pekan, Bu Una membina 16 kelompok UPA dengan total 182 peserta. Jadwalnya padat: Ahad satu kelompok, Senin tiga kelompok, Selasa dua kelompok, Rabu dua kelompok, Kamis dua kelompok, Jumat tiga kelompok, dan Sabtu tiga kelompok.
Ia juga membina tujuh kelompok Majelis Taklim dengan 223 peserta. Pertemuan MT berlangsung bervariasi, mulai dari sepekan sekali hingga sebulan sekali.
Total keseluruhan binaan mencapai 405 orang. Angka ini tergolong signifikan untuk pendidikan informal.
Faktor Pendukung
Latar belakang keluarga turut membentuk kompetensi Bu Una. Ayahnya, seorang guru mengaji, memintanya mengajar madrasah sepulang sekolah.
Pengalaman itu memberinya bekal berharga. Ia memahami bahwa mengajar saja tidak cukup; diperlukan pembinaan intensif untuk membentuk kepribadian Islami.
Motivasi spiritual berasal dari pemahaman mendalam terhadap Surat Al-‘Ashr. Bu Una meyakini dakwah sebagai upaya menyelamatkan diri dari kerugian.
Prinsip Dakwah
Bu Una tidak pernah menolak permintaan pembinaan selama tidak berbenturan dengan jadwal tetap. Kesabaran menjadi kunci dalam membina setiap kelompok.
Proses pembentukan UPA membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Ia telaten membersamai setiap tahapannya.
Keberagaman peserta menjadi ciri khas pembinaannya. Ibu-ibu muda hingga lansia, dari berbagai latar belakang pendidikan, aktif mengikuti kegiatannya.
Bu Una kini berupaya memperluas jangkauan dakwah ke kelompok remaja. Harapannya, jumlah binaan dapat terus bertambah dan memberikan manfaat lebih luas.
Kisah Bu Una menginspirasi banyak pihak. Dedikasinya membuktikan bahwa kontribusi dalam dakwah tidak terbatas oleh latar belakang pendidikan formal.