Javas Corner - Sebuah kisah memilukan datang dari Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Widiatmo, seorang ayah dari siswi disabilitas bernama Amanda Embun Widianti, harus menerima kenyataan pahit ketika keluarganya tercatat dalam Desil 9 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Padahal, ia hanya seorang pekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu dan tinggal dalam kondisi yang pas-pasan.
Widiatmo mengaku sangat kaget ketika mengetahui status desil keluarganya. Bagaimana tidak, sebagai seorang kepala keluarga yang bekerja serabutan, ia merasa jauh dari kata mampu. Namun, data pemerintah justru menempatkannya pada kelompok masyarakat yang dianggap paling sejahtera.
"Saat ini kerja serabutan, untuk penghasilan juga enggak tetap. Kadang satu hari kerja, kadang enggak. Namanya kerja serabutan. Saya jawab apa adanya, listrik pakai subsidi, pekerjaan tidak ada pekerjaan tetap. Ada orang suruh kerja ini itu, ya saya ikut," ujar Widiatmo dengan nada kecewa, Selasa (8/9/2026).
Keterangan yang Diberikan Sesuai Fakta
Widiatmo menceritakan bahwa saat petugas pendataan datang, ia memberikan semua informasi sesuai dengan kondisi sebenarnya. Ia menyampaikan status kepemilikan rumah, aset yang dimiliki, pekerjaannya yang tidak tetap, hingga penggunaan listrik bersubsidi.
Namun, entah di mana letak kesalahannya, data yang ia sampaikan justru menghasilkan status desil 9 yang membuatnya terkejut dan kecewa.
"Kaget banget, namanya orang kerja serabutan, enggak punya penghasilan tetap, kenapa bisa desil 9," ungkapnya dengan nada heran.
Dampak bagi Amanda, Siswi Disabilitas Berprestasi
Status desil 9 ini berdampak langsung pada Amanda Embun Widianti, putri Widiatmo yang merupakan siswi kelas X SLB Negeri Mandiraja. Amanda yang menyandang tunarungu dan wicara ini terancam kehilangan berbagai bantuan yang selama ini diterimanya.
Sebelumnya, Amanda menerima sejumlah bantuan melalui sekolah dan dari pemerintah desa berupa sembako serta bantuan kesejahteraan sosial. Namun, setelah status desil keluarganya naik, semua bantuan tersebut terancam dicabut.
"Bantuan dari sekolah banyak, saya pribadi juga dari Pemdes (Pemerintah Desa) sering dapat bantuan dalam bentuk sembako, bantuan kesra juga dapat. Tapi setelah ada sensus ekonomi kemarin desil saya naik jadi desil 9, kemungkinan untuk bantuan dihapus semua," ujar Widiatmo dengan nada khawatir.
Amanda sendiri saat ini tinggal bersama neneknya, sementara ibunya telah berpisah dan kini tinggal di Kalimantan. Kondisi ini membuat Widiatmo harus berjuang sendiri menghidupi putrinya yang memiliki kebutuhan khusus.
Upaya Perbaikan Data yang Tak Kunjung Berbuah
Widiatmo telah berupaya untuk mempertanyakan dan mengajukan perubahan data keluarganya. Ia telah melapor ke RT setempat dan pihak kelurahan, namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang jelas.
"Saya sudah pengajuan juga ke pihak terkait, terutama RT, intinya ke kelurahan, tapi belum ada tindak lanjut, belum ada kabar," keluhnya.
Kasus ini menjadi sorotan publik, terutama karena menyangkut nasib seorang anak disabilitas yang sangat membutuhkan bantuan. Banyak pihak yang mempertanyakan akurasi data DTSEN yang dinilai masih kacau dan tidak mencerminkan realitas di lapangan.
Mirisnya, kasus serupa juga banyak terjadi di berbagai daerah. Banyak warga miskin dan kurang mampu justru masuk dalam desil tinggi, sementara yang berada justru masuk desil rendah.
Harapan untuk Perbaikan Sistem
Kisah Widiatmo dan Amanda menjadi cermin betapa pentingnya akurasi data dalam penyaluran bantuan sosial. Kesalahan data dapat berakibat fatal bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.
Pemerintah diharapkan segera melakukan evaluasi dan perbaikan sistem pendataan agar tidak ada lagi warga miskin yang kehilangan haknya akibat kesalahan administrasi. Terutama bagi penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan dan sangat bergantung pada bantuan pemerintah.
Javas Corner akan terus mengawal kasus ini dan menyuarakan nasib warga kurang mampu yang menjadi korban ketidakakuratan data. Pantau terus kanal kami untuk informasi terkini.
#Desil9 #Banjarnegara #SiswiDisabilitas #DTSEN #Bansos #Kemensos #BPS #Widiatmo #AmandaEmbun #JavasCorner #BeritaTerkini #KeadilanSosial