JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase berbahaya dengan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Operasi militer AS yang dimulai 28 Februari 2026 memicu gelombang balasan dari Iran, mengancam stabilitas pasokan minyak dunia dan meningkatkan risiko eskalasi konflik regional.
Serangan Kapal Komersial
Iran melancarkan serangan intensif menggunakan kapal permukaan tak berawak dan drone terhadap kapal komersial di sekitar Selat Hormuz. Menurut laporan US Central Command per 11 Maret 2026, setidaknya tiga kapal terkena dampak dalam satu hari.
Kapal kargo Thailand MAYUREE NAREE terbakar setelah dihantam kapal permukaan tak berawak milik Iran. Dua kapal kargo lainnya mengalami kerusakan akibat serangan drone, meski tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Serangan-serangan ini mengganggu lalu lintas maritim di selat strategis yang menjadi jalur 20% minyak dunia. Ratusan kapal dilaporkan terjebak di wilayah tersebut.
Kerugian Militer Dua Pihak
Klaim bahwa AS kehilangan 17 kapal perang tidak sesuai dengan fakta terkini. CENTCOM justru melaporkan lebih dari 50 kapal angkatan laut Iran telah dihancurkan atau ditenggelamkan.
Termasuk dalam kerugian Iran adalah 16 kapal penambang ranjau di dekat Selat Hormuz, empat kapal kelas Soleimani IRGC Navy, dan fregat IRIS Dena yang ditenggelamkan kapal selam AS di Samudra Hindia. Presiden Donald Trump mengklaim AS telah menghancurkan hingga 58 kapal Iran.
Di pihak AS, Pentagon melaporkan tujuh prajurit tewas dan sekitar 140 terluka dalam 10-12 hari pertama konflik. Korban AS sebagian besar akibat serangan drone dan rudal Iran di basis-basis Timur Tengah seperti Kuwait dan Bahrain.
Sementara itu, Iran melaporkan lebih dari 1.300 warga sipil tewas dan ribuan situs sipil hancur akibat serangan udara gabungan AS-Israel.
Ancaman ke Wilayah AS
Tidak ada bukti kredibel bahwa rudal Iran mampu mencapai wilayah daratan Amerika Serikat. Iran memiliki rudal balistik dengan jangkauan 2.000-3.000 kilometer, namun tidak memiliki kemampuan rudal antarbenua.
Ancaman utama terhadap AS lebih mengarah pada serangan asimetris seperti operasi siber, serangan melalui kelompok proxy seperti Hezbollah, atau aksi lone-wolf di dalam negeri. Departemen Keamanan Dalam Negeri dan FBI telah meningkatkan kewaspadaan.
Meski beberapa laporan menyebut kemungkinan serangan teror di kota-kota besar AS, informasi tersebut masih bersifat spekulatif. Belum ada ancaman spesifik yang teridentifikasi terhadap New York atau kota besar lainnya.
Dampak Ekonomi Global
Konflik ini telah mendorong harga minyak dunia melonjak tajam. Ancaman penutupan Selat Hormuz menciptakan ketidakpastian di pasar energi global.
Presiden Trump menyatakan AS berada di posisi menang dan akan segera mengakhiri konflik. Namun Iran bersumpah akan bertahan selama berbulan-bulan dalam konfrontasi ini.
Dunia internasional menunggu perkembangan lebih lanjut, baik berupa eskalasi militer atau upaya negosiasi darurat. Situasi di kawasan Timur Tengah tetap mencekam dengan potensi dampak yang lebih luas terhadap stabilitas global.