JavasCorner.co.id – Isu krisis lingkungan akibat konsumsi listrik dan air yang masif oleh pusat data kecerdasan buatan (AI) semakin menjadi sorotan. Namun, CEO OpenAI, Sam Altman, justru melontarkan pernyataan kontroversial yang memicu perdebatan sengit di dunia maya.
Altman mengeklaim bahwa chatbot AI seperti ChatGPT sebenarnya jauh lebih efisien secara energi ketimbang manusia dalam memproses informasi. Pernyataan ini disampaikannya saat hadir sebagai pembicara di acara Express Adda di sela-sela KTT India-AI Impact 2026 pekan lalu.
🗣️ "Butuh 20 Tahun Makan Sebelum Manusia Jadi Pintar"
Dalam pembelaannya, Altman menyebut bahwa diskusi seputar konsumsi energi ChatGPT kerap tidak adil. Menurut dia, publik hanya menyoroti besarnya listrik untuk melatih model AI, tanpa melihat "biaya energi" yang dihabiskan untuk mencetak satu manusia cerdas.
"Butuh banyak energi juga untuk melatih manusia. Butuh waktu hidup 20 tahun dan semua makanan yang Anda makan selama waktu itu sebelum Anda menjadi pintar," dalih Altman.
Ia meyakini bahwa jika diukur dari tingkat efisiensi energi untuk menjawab satu pertanyaan spesifik, kemungkinan besar AI sudah mengejar atau bahkan melampaui efisiensi manusia.
💧 Bantahan Soal Boros Air dan Listrik
Altman juga membantah tegas rumor yang menyebut bahwa satu kueri pencarian di ChatGPT menguras energi setara dengan 1,5 kali pengisian daya baterai iPhone.
"Tidak mungkin sebanyak itu," tampiknya.
Tak hanya soal listrik, ia juga menepis kekhawatiran mengenai jutaan liter air yang dikuras untuk mendinginkan server AI. Klaim bahwa satu kueri ChatGPT membutuhkan 17 galon air disebutnya sebagai "berita bohong".
"Itu sama sekali tidak benar," tegas Altman.
Ia menjelaskan bahwa pusat data saat ini sudah mulai meninggalkan sistem pendingin evaporasi yang rakus air dan beralih ke teknologi yang lebih ramah lingkungan.
🚀 Sindiran untuk Elon Musk
Dalam kesempatan yang sama, Altman juga menyindir ambisi pendiri Tesla, Elon Musk, yang berniat membangun pusat data di luar angkasa.
Menurut dia, ide tersebut sangat konyol untuk dekade ini mengingat tingginya biaya peluncuran roket dan sulitnya memperbaiki chip GPU yang rusak di orbit. Sindiran ini semakin memanaskan rivalitas dua tokoh teknologi tersebut.
📊 Netizen Balas dengan Hitungan Matematis
Alih-alih meredakan kritik, analogi Altman justru menjadi bumerang di media sosial X (dahulu Twitter). Sejumlah pakar dan praktisi teknologi ramai-ramai mengkritik bos pembuat ChatGPT tersebut dengan hitungan matematis yang telak.
Mereka membandingkan konsumsi energi riil data center AI yang mencapai jutaan watt per jam, dengan konsumsi kalori harian manusia yang hanya sekitar 2.000-2.500 kalori. Netizen juga menyoroti bahwa AI tidak hanya "dilatih" sekali, tetapi terus beroperasi 24/7 melayani miliaran permintaan dari seluruh dunia.
Seorang pengguna X menghitung bahwa jejak karbon dari pelatihan satu model AI besar bisa setara dengan emisi yang dihasilkan lima mobil selama siklus hidupnya. Hal ini kontras dengan klaim efisiensi yang disampaikan Altman.
🌍 Isu Lingkungan yang Tak Bisa Diabaikan
Kritik terhadap industri AI terkait dampak lingkungan memang bukan hal baru. Laporan International Energy Agency (IEA) menyebut bahwa pusat data global mengonsumsi sekitar 1-1,5 persen dari total listrik dunia. Angka ini diprediksi akan terus meningkat seiring pesatnya adopsi AI generatif.
Google sendiri dalam laporan lingkungan terbarunya mengakui bahwa emisi karbonnya naik 48 persen sejak 2019, sebagian besar disebabkan oleh konsumsi energi pusat data untuk AI.
🧩 Kesimpulan
Pernyataan Sam Altman yang menyamakan AI dengan proses pertumbuhan manusia menuai pro dan kontra. Di satu sisi, ia ingin menegaskan bahwa teknologi AI tidak seboros yang dituduhkan. Namun di sisi lain, data dan fakta di lapangan menunjukkan bahwa industri AI masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam hal efisiensi energi dan kelestarian lingkungan.
Yang jelas, perdebatan ini membuka mata publik bahwa di balik kecanggihan AI, ada konsekuensi lingkungan yang perlu dikelola dengan bijak.
Tags: #SamAltman #OpenAI #ChatGPT #AI #KrisisLingkungan #DataCenter #Teknologi #Viral
Redaksi – 23 Februari 2026, 14:50 WIB