JAVASCORNER.CO.ID, MADRID - Kontroversi diplomatik meletus di tengah semifinal Piala Dunia 2026 antara Perancis dan Spanyol. Mantan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, memicu kemarahan publik Perancis setelah menyatakan bahwa skuad Les Bleus "tidak memiliki pemain Perancis" — sebuah pernyataan yang dinilai rasis dan xenofobia. Pemerintah Spanyol bergerak cepat meminta maaf secara resmi.
Latar Belakang Kontroversi
Semua bermula dari kolom opini Rajoy di media daring El Debate pada Jumat lalu. Dalam tulisannya, ia mengakui kualitas tinggi skuad Perancis, namun menambahkan kalimat kontroversial:
"Perancis memiliki skuad dengan kualitas tertinggi. Namun, tidak ada pemain Perancis di dalamnya."
Pernyataan ini ditafsirkan sebagai sindiran terhadap fakta bahwa banyak pemain Timnas Perancis memiliki latar belakang keturunan Afrika dan Afro-Karibia. Misalnya, Kylian Mbappe (Kamerun-Aljazair), Aurelien Tchouameni (Kamerun), dan Eduardo Camavinga (Angola-Kongo).
Komentar ini langsung menjadi viral dan menuai kecaman luas, baik di dalam negeri Spanyol maupun internasional.
Reaksi Bergelombang dari Kedua Negara
Tanggapan Pemerintah Spanyol
Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menyebut pernyataan itu "tidak dapat ditoleransi" dan mengandung unsur rasisme. "Ini persoalan serius ketika seseorang menggunakan warna kulit untuk menentukan apakah seseorang layak disebut warga negara atau tidak," tegasnya di Cadena SER.
Perdana Menteri Pedro Sanchez, yang sedang menghadiri perayaan Hari Nasional Perancis di Paris, mengkritik pernyataan Rajoy melalui unggahan di media sosial X. Ia menyebut komentar itu "memalukan dan bernuansa xenofobia", seraya menegaskan bahwa kewarganegaraan tidak bisa diukur dari nama keluarga, tempat lahir, atau warna kulit.
Albares juga menyampaikan permintaan maaf resmi kepada mitranya dari Perancis, menegaskan bahwa pandangan Rajoy "sama sekali tidak mewakili mayoritas rakyat Spanyol."
Pembelaan dari Partai Rakyat
Partai Rakyat (PP), tempat Rajoy bernaung, justru membela mantan PM tersebut. Juru bicara Borja Semper mengatakan tulisan itu "tidak dimaksudkan untuk menghina siapa pun" dan hanya berupa "ungkapan bernada sarkastik."
Hingga berita ini diturunkan, Rajoy belum memberikan tanggapan resmi atas polemik yang ia timbulkan.
Kecaman dari Perancis
Pernyataan Rajoy langsung menuai kecaman dari pemerintah Perancis hingga partai oposisi. Presiden Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) sebelumnya juga telah buka suara terkait komentar serupa yang menyebut timnya sebagai "tim dari Afrika".
Mengapa Ini Penting?
Kontroversi ini bukan sekadar gosip sepak bola. Di tengah semangat Piala Dunia yang mempertemukan berbagai bangsa dan budaya, pernyataan seperti ini membuka kembali perdebatan tentang identitas nasional, multikulturalisme, dan rasisme dalam olahraga.
Perancis sendiri telah lama dikenal sebagai tim yang merefleksikan keberagaman masyarakatnya — sebuah kebanggaan sekaligus sering menjadi sasaran komentar rasis dari berbagai pihak. Sebelumnya, Mbappe pun pernah menjadi korban hinaan rasis dari senator Paraguay.
Kemenangan Spanyol 2-0 atas Perancis di lapangan mungkin telah menyelesaikan satu persaingan, namun kontroversi Rajoy menyisakan pekerjaan rumah diplomatik yang belum selesai. Permintaan maaf pemerintah Spanyol menjadi langkah penting, namun insiden ini mengingatkan kita bahwa sepak bola seharusnya menjadi jembatan pemersatu, bukan pemicu perpecahan berbasis ras atau latar belakang.
Keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan. Di atas lapangan hijau, yang terpenting adalah kemampuan, semangat, dan sportivitas — bukan warna kulit atau asal usul.